Cerita rakyat Ende Lio Marilonga ini merupakan sebuah kisah hidup pejuang di masa sebelum Indonesia merdeka yang berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Ia termasuk salah satu pejuang yang berani berkorban dan bahkan berani mati pada masanya.

Perjuangannya sangat hebat sampai titik terakhir nafasnya. Seperti apa cerita rakyat Ende Lio Marilonga ini? Yuk simak dulu kisahnya!

Cerita Rakyat Ende Lio Marilonga

Di sebuah desa yang berada di pelosok negeri, pada tahun 1855 lahir seorang bayi laki – laki yang disambut sangat bahagia oleh orang tuanya. Bayi tersebut diberi nama Leba.

Hanya saja bayi laki – laki tersebut sakit – sakitan, karena itu orang tuanya yakni Longa Rowa, sang ayah dan Kemba Kore, sang ibu memutuskan mengganti namanya. Leba kemudian diberi nama Mari Longa (Marilonga).

Mari diambil dari nama sejenis pohon di hutan yang batangnya keras dan kulitnya pahit. Sementara Longa adalah nama depan sang ayah. Orang tuanya berharap agar setelah diganti nama, Leba tidak lagi sakit – sakitan. Benar saja, setelah diganti nama menjadi Marilonga, ia tidak lagi sakit – sakitan.

Marilonga tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan kuat. Ia juga memiliki bekal ilmu bela diri yang hebat. Karena itu setiap peperangan melawan Belanda, ia selalu ikut sebagai ajang latihan ketangkasannya.

Cerita rakyat Ende Lio Marilonga

Kisah perang pertama yang diikuti oleh Marilonga adalah di tahun 1893 – 1895 ketika harus membantu warga Maumere berperang melawan suku Mego. Warga Maumere pun berhasil menang dalam perang tersebut.

Berikutnya, perang kedua Marilonga dilakukan pada 1897 – 1899 melawan orang Lise Lande dan kembali dimenangkan oleh Marilonga dan pasukannya. Perang tersebut membawa suatu perdamaian dan sebagai tanda perdamaiannya juga, seorang gadis Lise dipersunting oleh Marilonga.

Perang ketiga Marilonga yang lagi – lagi dimenangkan adalah melawan orang Londi Lada. Setelah itu banyak perang – perang lain yang diikuti Marilonga dan berhasil dimenangkan seperti perang melawan pasukan Detukeli, Diko Lawi dan lainnya.

Kisah tentang kemenangan – kemenangan Marilonga pun akhirnya terdengar sampai di telinga pasukan Belanda. Di sisi lain, sesepuh sekaligus panglima perang wilayah Lio, yaitu Bhara Nuri mendengar tentang Marilonga juga.

Bhara Nuri pun meminta bantuan Marilonga untuk menjadi anak buah kepercayaannya. Marilonga setuju dan peperangan pertama Bhara Nuri diperkuat Marilonga dapat dimenangkan. Belanda yang mendengar kabar tersebut pun akhirnya tahu bahwa Marilonga adalah penyebab kekalahan dalam perang.

Setelah mengetahui hal tersebut, Belanda pun mengatur strategi. Belanda mulai membentuk suatu pasukan khusus demi menangkap Marilonga dan pasukannya. Warga yang dicurigai merahasiakan keberadaan Mari pun disiksa bahkan sampai ada yang dibunuh secara keji.

Mendengar hal tersebut, Mari tentu marah besar karena tak mau ada warganya yang terluka dan menjadi korban. Karena kemarahan itu, Mari dan pasukannya menghadang tentara kolonial Belanda yang sedang patroli di wilayah Bhoasia.

Pasukan kolonial pun kocar – kacir. Banyak di antara pasukan kolonial mati sementara yang selamat kembali ke Maumere dan mencari bala bantuan. Episode perang kolonial dalam cerita rakyat Ende Lio Marilonga pun dimulai. Kolonial tak hanya berusaha mencari bala bantuan di Maumere saja, melainkan juga mencari bala bantuan dari Kupang dan Jawa demi menyerang pasukan Marilonga.

Mari pun terkepung, namun bukan Marilonga kalau tidak bisa berpikir taktis dan kritis di saat terdesak. Ia memerintahkan pasukannya bersembunyi di hutan sementara dirinya sendiri menghadap lawan namun bukan untuk berperang, melainkan menyerahkan diri.

Niat tersebut tentu disambut baik oleh pasukan penjajah. Ia lalu dibawa ke markas kolonial dengan pengawalan ketat. Di sana Marilonga berusaha patuh hingga membuat pasukan kolonial lengah dan di saat itulah Marilonga menggunakan kesempatan yang ada untuk kabur.

Mendengar Marilonga kabur, tentu saja kolonial sangat marah. Kolonial pun kembali melakukan penyerangan, hanya saja Marilonga masih bisa bertahan dan banyak pasukan kolonial lagi – lagi berguguran.

Di tahun 1898 – 1902, pasukan kolonial terjebak strategi Marilonga. Saat itu, pasukan Belanda digiring ke hutan dan karena terkepung mereka pun menawarkan perdamaian dengan menjadikan Marilonga raja.

Hanya saja, Belanda mengingkari hal tersebut. Marilonga tidak dijadikan raja. Perang pun tercetus lagi di tahun 1905 yang terkenal sebagai perang kolonial III. Belanda membakar kampung Lewa Nggere yang membuat Mari beserta pasukannya tidak terima.

Mereka pun melakukan penyerangan kembali dengan membantai serdadu Belanda. Kemudian di tahun 1906, perang kolonial IV terjadi. Saat itu, pasukan Belanda banyak yang menjadi korban kembali hingga pasukan pun ditarik.

Hanya saja, hal tersebut bukan arti Belanda menyerah melainkan Belanda sedang mengumpulkan pasukan. Di tahun 1907, di bawah kepemimpinan dari kapten Christoffel, Belanda melakukan penyerangan kembali yang dikenal sebagai perang kolonial V.

Di perang inilah Marilonga yang merupakan seorang panglima perang dan terkenal pantang menyerah itu gugur dalam perang. Pasukannya tentu bersedih, dan jasanya dikenang hingga saat ini.

Itulah cerita rakyat Ende Lio Marilonga yang kisah perjuangannya masih dikenang sampai sekarang di Indonesia khususnya menjadi pejuang yang dibanggakan warga Ende, Nusa Tenggara Timur, dan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *