Suka menghayal? Atau sering bertanya – tanya apakah sesuatu yang terasa tidak mungkin di dunia nyata bisa menjadi kenyataan? Jika iya, dongeng fantasi peri bulan dapat menjadi sebuah bacaan yang menarik untuk Anda.

Bukan untuk diamini atau ditelan bulat – bulat, melainkan untuk membuat alam imajinasi kita terisi dengan sesuatu yang imajinatif dan unik. Khususnya anak – anak, biasanya akan suka dongeng – dongeng fantasi semacam ini.

Didongengkan sebagai cerita sebelum tidur akan membuat anak semakin bahagia sekaligus mengasah sensor motorik pada saranya. Mengenai kisah dongeng fantasi peri bulan seperti apa bisa Anda simak dalam informasi berikut!

Dongeng Fantasi Peri Bulan

dongeng fantasi peri

Di sebuah desa, hidup seorang gadis bernama Wulan. Ia adalah gadis miskin dengan wajah suram yang menderita penyakit kulit. Karena penyakit kulit yang ia derita itu, ia dikucilkan dan jika hendak bepergian harus menggunakan cadar.

Sebenarnya Wulan tidak suka menggunakan cadar. Akan tetapi karena malas dicemooh, dijauhi, dan dianggap ‘berbeda’, ia terpaksa selalu mengenakan cadar kemana pun ia pergi.

Suatu malam, Wulan bermimpi bertemu dengan seorang pangeran bernama Rangga. Rangga merupakan seorang putra raja yang terkenal dengan parasnya yang tampan dan sikapnya yang ramah. Wulan jatuh cinta dengan pangeran di dalam mimpinya itu. Ia pun semakin sering memimpikannya.

Hingga suatu hari, Wulan pun menceritakan mimpinya ke sang ibu. Hanya saja, sang ibu berkata, “Sudahlah Wulan, jangan kau terlalu sering bermimpi. Mana mungkin pangeran tampan bisa jatuh cinta dengan orang biasa seperti kita?”

Wulan sedih mendengar nasihat ibunya. Akan tetapi ia juga berpikir bahwa memang dirinya tak pantas dicintai, apalagi oleh seorang pangeran tampan seperti pangeran Rangga yang sering datang ke mimpinya itu.

Suatu hari, Wulan diminta ibunya untuk mengambil kayu bakar di hutan. Wulan bergegas melakukan tugasnya itu. Wulan mencari kayu bakar hingga hari mulai malam. Hanya saja ketika malam mulai membayang dan Wulan ingin pulang, tiba – tiba saja ia lupa arah pulang.

Beruntung, Wulan dihampiri ratusan kunang – kunang yang seolah memberinya cahaya untuk berjalan. Wulan pun mengikuti kemana kunang – kunang itu terbang sembari berkata, “Terima Kasih Kunang – Kunang, kalian telah membuat jalanku terang!”.

Ia terus berjalan bersama kunang – kunang yang menerangi jalan. Hanya saja, semakin jauh Wulan melangkah, ia merasa langkahnya semakin jauh ke dalam hutan.

“Aku tersesat!” kata Wulan panik.

“Jangan takut Wulan! Kami memang berniat membawamu ke sini, di sini wajahmu bisa disembuhkan.” Ungkap seekor kunang – kunang kepada Wulan.

Melihat hal yang tidak biasa, tentu Wulan panik sekaligus takjub. Ia berkata, “Kau bisa bicara Kunang – Kunang?”

“Iya, kami bisa bicara. Jangan takut! Kami akan membawamu ke tempat dimana penyakitmu bisa disembuhkan. Ikuti kami!”

Wulan pun mengikuti kemana arah kunang – kunang itu pergi. Hingga akhirnya, mereka tiba di tepi danau. Kunang – Kunang tersebut terbang ke langit dan seketika awan hitam di langit menyibak bersamaan dengan hilangnya kunang – kunang. Rembulan pun bersinar terang, dan tak lama kemudian dari bayangan bulan itu muncul seorang wanita yang sangat cantik.

Wulan takjub sekaligus kaget. Ia bertanya, “Si…, siapa kamu?”

“Aku adalah Peri Bulan. Aku yang akan menyembuhkan wajahmu.”

“Wulan, selama ini kau telah mendapat ujian dan kau bersabar. Karena kesabaranmu dan kejernihan hatimu, kau berhak menerima air kecantikan ini dariku. Usaplah wajahmu dengan air kecantikan ini, niscaya penyakit kulitmu akan sembuh.”

“Terima kasih Peri Bulan.” Ucap Wulan dengan nada bahagia.

Wulan pun pulang dengan membawa air kecantikan dari Peri Bulan. Sesampainya di rumah, ia membasuh wajah dan badannya dengan air kecantikan itu. Tak lama kemudian, penyakit kulitnya sembuh. Wajahnya bersinar terang dan kecantikan terpancar dari wajahnya.

Melihat hal tersebut, ibu Wulan tentu sangat gembira dan sekaligus heran. Ibu Wulan pun bertanya kepada anaknya, “Bagaimana hal ini bisa terjadi Wulan?”

Wulan menceritakan kepada ibunya dengan detail, seperti pengalaman yang ia rasakan. Informasi tentang kesembuhan penyakit Wulan pun tersebar ke seluruh penjuru desa. Bahkan desa sebelah mendapatkan kabar tersebut.

“Iya loh, Wulan sudah sembuh. Bahkan ternyata, wajahnya benar – benar cantik. Putih dan bersih seperti sinar terang rembulan.” Ungkap warga desa yang menceritakan tentang Wulan.

Kabar tersebut juga sampai di Kerajaan. Pangeran Rangga pun akhirnya penasaran dan berniat mencari Wulan. Setelah menemukan Wulan, pangeran Rangga jatuh cinta dan akhirnya meminang Wulan.

Pesan moral dari dongeng fantasi peri bulan

Jangan pernah meremehkan mimpi. Bermimpilah setinggi mungkin karena dengan usaha, kerja keras dan doa, semua yang terasa tidak mungkin atau sulit digapai bisa menjadi mungkin. Selamat berjuang untuk mimpi – mimpi adek – adek atau anak – anak Indonesia yang membaca cerita dongeng ini.

Semoga dongeng fantasi Peri Bulan di atas dapat menjadi sebuah dongeng inspiratif, selamat berimajinasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *