• Desember 24, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Langkah pria berseragam Banser itu terhenti karena sebuah kotak cokelat di bawah bangku jemaat membuatnya curiga. Sambil berjongkok, ia membukanya.

“Astaghfirullahaladzim!” Ia terloncat ke belakang. Isi kotak membuatnya selama beberapa saat tak tahu harus berbuat apa. Sejumlah kenangan berkelebatan: momen ia diterima masuk Banser, wajah istrinya, wajah anaknya.

Pria itu mendadak kehilangan rasa ragu. Ia meraih kotak itu dan berlari ke luar gereja.

“Awas minggir! Bom!” teriaknya.

Ia berlari lalu tersungkur. Suara ledakan kencang menyusul. Api membara. Mobil-mobil terbakar. Istri pria itu bergegas mendatangi titik ledakan. Entah bagaimana caranya ia tahu suaminyalah yang menjadi korban. Ia meratap, berlutut memegang apa yang tersisa dari suaminya: tinggal sesobek seragam Banser saja.

Cerita barusan digambarkan dari video YouTube berjudul “Kisah Riyanto, Banser NU yang Tewas Dengan Memeluk Bomi dalam GEREJA.”. Videonya diunggah Desember 2016 dan sudah ditonton 140 ribu kali. 

Riyanto adalah tokoh nyata. Kisah kepahlawanannya sangat populer dan sering dijadikan teladan tertinggi solidaritas antar-umat bergama. Ia adalah anggota Barisan Serbaguna (Banser), organisasi sayap Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang identik dengan pengamanan.

Riyanto tewas saat sebagai Banser sedang menjaga misa malam Natal tahun 2000 di Gereja Sidang Jemaat Pantekosta di Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer, Mojokerto. Penyebab tewasnya Riyanto adalah ledakan bom.

Namun, cerita di video tadi bukanlah cerita Riyanto. Riyanto tidak berlari membawa bom. Riyanto belum memiliki istri dan anak. Jasad Riyanto juga masih bersisa, sempat dikuburkan oleh keluarganya. Cerita di atas adalah cerita Soleh, tokoh fiktif di film Tanda Tanya. Betul, video itu dipotong dari sebuah film fiksi yang disutradarai Hanung Bramantyo. Hanung mengakui cerita Soleh terinspirasi berita tentang Riyanto. Tapi harus diingat, Tanda Tanya sebuah film drama, bukan dokumenter.

Narasi Riyanto berlari membawa bom demi menyelamatkan jemaat misa Natal juga muncul di sejumlah postingan viral di X dan Facebook. Cerita tersebut sudah bergeser dari keterangan saksi mata tentang peristiwa sebenarnya.

Untuk tahu mana bagian yang faktual dan bagian mana yang dramatisasi dari cerita-cerita viral tentang Riyanto, VICE ngobrol dengan Bintoro, adik kandung Riyanto, tentang kronologi peristiwa itu serta gambaran sosok Riyanto sehari-hari.

Kisah Riyanto Banser Korban Bom Natal yang Sering Kamu Dengar Kemungkinan Hoax

Bintoro, adik Riyanto, tengah mengunjungi makam kakaknya pada 2014. Riyanto adalah anggota Banser yang tewas pada malam Natal tahun 2000 di Mojokerto karena bom teroris Jamaah Islamiyah. Foto: Arsip Tempo.

Nama aslinya Biantoro, tapi orang lebih suka mengucap Bintoro. Ia anak ketiga dari tujuh bersaudara. Karena Riyanto adalah anak sulung, maka ia adalah cacak-nya Bintoro. Usia mereka selisih lima tahun. Ketika Riyanto berpulang, usianya 25 tahun dan usia Bintoro 20. 

Keluarga Riyanto mendapat cerita peristiwa itu dari orang lain. Salah satunya dari Amir Sagiyanto, teman Riyanto sesama Banser yang ikut berjaga di hari-H. Amir selamat, namun matanya terluka sehingga cacat permanen. 

“Ini menurut Bang Amir ya. Itu kan ada orang yang menitip tas di halaman gereja. Menitip tas, tapi enggak diambil-ambil. Halaman gereja itu deket jalan raya. Kemudian [tas itu] enggak diambil-ambil sampai jam… misa Natal itu [selesai] jam 21.00 lebih lah. Sampai bubar [misa] itu [tas] enggak diambil,” kata Bintoro kepada VICE.

“Kemudian Bang Amir bilang, kok enggak diambil? Ternyata [pas] dibuka sama rekan-rekan Banser—ada juga polisi waktu itu, namanya Pak Agus— [Pak Agus] Itu bilang bom itu pas waktu dibuka,” tambahnya.

Masih menurut cerita Amir yang didengar Bintoro, Banser dan polisi membuka tas itu di halaman gereja. Setelah mendengar seruan Polisi Agus bahwa tas berisi bom, mereka semua berlari menjauhi tas. 

“Rekan-rekannya bilang semua kalau Riyanto juga ikut lari,” kata Bintoro.

Tanpa diketahui teman-temannya, Riyanto ternyata balik lagi untuk mengambil tas itu. Ia membawa tas itu menyeberang jalan raya di depan gereja. Sampai di seberang, Riyanto memasukkan tas berisi bom ke selokan. Bom lalu meledak. 

“Lah Rianto kembali untuk mengambil tas itu enggak ada yang tahu. Tahu-tahu meledak. Kan tas itu diambil lagi sama Riyanto waktu orang-orang lari. Kalau asumsi orang awam itu kan, setiap barang dimasukkan di air kan mati ya,” ujar Bintoro.

Menurut dugaan saksi, Riyanto memasukkan bom ke selokan karena berharap air bisa memadamkan kelistrikan bom tersebut.

Ledakan membuat tubuh Riyanto terpental dari jalan di seberang gereja sampai jatuh ke perkampungan di belakang bangunan gereja. Menurut Bintoro, tinggi bangunan gereja sekitar 25 meter. 

“Riyanto terpental sampai melewati gedungnya Gereja Eben Haezer itu, sampai di belakang, Kauman Gang Buntu namanya. [Tubuh Riyanto jatuh] di rumahnya warga di situ.”

Kisah Riyanto Banser Korban Bom Natal yang Sering Kamu Dengar Kemungkinan Hoax

Bintoro, kini berusia 42 tahun, bersama istri dan anaknya. Ketika Riyanto meninggal, Bintoro baru berusia 20 tahun. Foto: arsip probadi Bintoro.

Malam itu ada dua bom meledak di Gereja Eben Haezer. Bom pertama yang menewaskan Riyanto, bom kedua meledak di halaman gereja.

Tentang bom kedua pernah diceritakan Pendeta Rudi Sanusi Wijaya kepada Detik pada 2014 silam. Di malam kejadian, Pendeta Rudi sedang bertugas di gereja. Menurut Ketua Pengurus Cabang GP Ansor Kota Mojokerto, Ahmad Saifulloh, Pendeta Rudi telah meninggal dunia pada 2022 lalu. Beliau bertugas di Eben Haezer hingga akhir hayatnya.

Dalam cerita Pendeta pada Detik, Misa Natal sudah selesai sekitar pukul 20.00. Seorang petugas menemukan sebuah tas kecil tertinggal di bawah bangku jemaat. Tas itu kemudian diberikan kepada Pendeta Rudi lantaran dikira sebagai tas jemaat yang ketinggalan.

"Saat itu Misa Natal sudah selesai, para jemaat mulai meninggalkan gereja. Saya buka tas tersebut untuk mencari identitas pemiliknya. Ternyata tidak ada apa-apa selain bungkusan kado," kata Rudi saat itu.

Rudi curiga dibuatnya. Ia menyuruh petugas gereja memberikan tas itu kepada polisi yang ada di halaman gereja. Tapi karena petugas sedang sibuk membagikan bingkisan, tas itu oleh si petugas dibiarkan di dalam gereja. Kemudian bom pertama meledak. Setelah lepas dari rasa terkejut, petugas gereja segera membawa tas itu ke jalan raya, dan meninggalkannya di sana. Tak lama kemudian bom kedua meledak.

Rudi juga menyebut bahwa Riyanto tewas usai memasukkan bom pertama ke selokan air.

Dua bom di Gereja Eben Haezer merupakan bagian aksi teror Jamaah Islamiyah. Kelompok ini meledakkan 15 bom di 11 kota Jawa dan Sumatera pada malam Natal tahun 2000. Aksi ini mereka klaim sebagai balas dendam atas apa yang dialami umat muslim korban konflik Poso (1998-2001) dan Ambon (1999-2002). Dilansir Historia, total 20 orang tewas dan 120 orang terluka akibat rangkaian serangan bom tersebut.

Masih dari Historia, pentolan Jamaah Islamiyah yang mengatur pemboman gereja di Mojokerto adalah Ali Imron dan Amrozi. Ali Imron mengatakan, mereka sengaja memilih Mojokerto karena kotanya kecil tapi punya banyak gereja. Ada tiga gereja di Mojokerto yang mereka pilih untuk diledakkan pada malam Natal, yakni Gereja Pantekosta Allah Baik, Gereja Katolik Santo Yosef, dan Gereja Eben Haezer.

Bom-bomnya dirakit sendiri. Ali Imron menyebutnya “bom tas” dan “bom kado”. Empat orang bergabung membantu Ali Imron mengantar bom-bom tersebut. Bom di Gereja Eben Haezer dibawa oleh orang bernama Mubarok dan Muhajir.

Bom di gereja-gereja Mojokerto pada malam Natal tahun 2000 menewaskan 2 orang dan membuat 5 orang luka parah.

Dua tahun kemudian, komplotan serupa melakukan aksi teror Bom Bali I yang menewaskan 203 orang.

Kisah Riyanto Banser Korban Bom Natal yang Sering Kamu Dengar Kemungkinan Hoax

Anggota GP Ansor Mojokerto menziarahi makam Riyanto dalam rangka haulnya, 2 Desember 2023. Foto: arsip PC GP Ansor Kota Mojokerto.

Usia Riyanto cuma sampai 25 tahun. Di akhir hayatnya, ia bekerja sebagai kuli timbang di KOPTI (Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) Maja Sejahtera. Riyanto drop out dari bangku kelas I SMP. Setelah mulai bekerja, Riyanto turut menjadi tulang punggung keluarganya. Bapaknya, Sukarmin, adalah tukang becak. Emaknya, bernama Katinem, adalah ibu rumah tangga.

Hari kejadian tanggal 24 Desember 2000 bertepatan dengan tanggal 28 Ramadan. Tahun itu Idul Fitri jatuh pada 27 Desember.

“Di saat orang lain bergembira Lebaran, keluarga kami berduka,” kenang Bintoro. 

Rumah keluarga Riyanto masih satu kecamatan dengan Gereja Eben Haezer, sama-sama di Kecamatan Prajurit Kulon. Jarak rumah ke gereja sekitar 2 km. Pada waktu kejadian, telepon masih jadi barang langka. Malam itu keluarga Riyanto mendengar kabar simpang siur ada ledakan di Gereja Eben Haezer, namun belum tahu anaknya menjadi korban.

Mereka baru tahu kepastiannya pada besok siang, 25 Desember. Sore hari itu pula Riyanto dimakamkan. Namun, keluarga tak tahu seperti apa rupa terakhir Riyanto. Keluarga dilarang menengok jasadnya.

Dua hari kemudian Bintoro diajak seorang tokoh agama untuk memakamkan rahang Riyanto yang ditemukan belakangan. 

Setahu Bintoro, Riyanto tadinya sempat bilang kepada Emak bahwa ia tak jadi berangkat ke Eben Haezer. Gara-garanya semalaman ia tak tidur karena mereparasi Vespa merah kesayangan. Namun, sehabis Asar, Riyanto pamit bahwa ia jadi berjaga. 

Kisah Riyanto Banser Korban Bom Natal yang Sering Kamu Dengar Kemungkinan Hoax

Vespa merah milik Riyanto masih dirawat dengan baik. Potret ini diambil pada 2 Desember 2023 saat haul Riyanto. Foto: arsip PC GP Ansor Kota Mojokerto.

Riyanto yang adiknya kenal adalah seseorang dengan keingintahuan besar pada agama, meskipun bukan seorang santri. “Dia getol banget ikut-ikut organisasi semacam Banser, pengajian-pengajian. Dulu itu sering mengikuti pengajian Padhang mBulan Emha Ainun Najib di Mentoro [nama daerah di Mojokerto]. Deket kan dengan kampung saya,” tambahnya.

Kira-kira setahun setelah kejadian, nama Riyanto ditetapkan sebagai nama jalan masuk ke kampungnya. Setiap tahun peringatan hari kematiannya (haul) juga rutin diadakan Pengurus Cabang GP Ansor Kota Mojokerto. Tahun ini acaranya berlangsung 2 Desember lalu.

“Di [tahun] awal-awal yang melaksanakan justru pengurus wilayah [GP Ansor]. Bahkan tahun 2004 kalau nggak salah di-rawuhi sama (Alm.) Gus Dur,” tutur Ahmad Saifulloh, Ketua PC GP Ansor Kota Mojokerto kepada VICE.

Gus Mad, sapaannya, menyebut dua alasan sehingga haul Riyanto rutin digelar GP Ansor. Selain karena kisah Riyanto menjadi pengingat bahwa umat manusia sudah digariskan hidup bersama dalam perbedaan, kisah Riyanto juga menjadi teladan untuk anggota Ansor.  

“Di Ansor/Banser itu kan ada yang istilahnya khidmat atau mengabdi. Riyanto adalah seorang anggota Ansor/Banser yang pengabdiannya paripurna,” ujarnya.

Menurut Gus Mad, Gereja Eben Haezer juga rutin mendoakan Riyanto di tiap perayaan Natal.

Saat ditanyai apakah kematian Riyanto dapat disebut sebagai syahid, ia membenarkan. “Oh iya, dalam pandangan Islam, syahid Riyanto. Karena yang dilakukan Riyanto adalah menyelamatkan nyawa banyak orang yang tidak bersalah.”

Hingga ini tradisi Banser menjaga ibadah Natal di gereja tetap berlangsung di Mojokerto. “Saya kira di banyak tempat juga masih,” tambahnya. 

Menurut cerita Nusron Wahid (Ketua Umum GP Ansor 2010-2015), Banser diterjunkan menjaga gereja sejak sekitar 1996-1997 karena diperintahkan Gus Dur (Ketua Umum PBNU 1984-1998). Perintah itu adalah respons Gus Dur atas kerusuhan bernuansa agama dan etnis di Situbondo pada Oktober 1996, yang membuat gereja, kelenteng, dan sekolah Kristen dibakar massa. 

“Kalau kata Gus Dur kan kita [Banser] bukan menjaga gerejanya, kita sedang menjaga Indonesia. Jadi setiap tahun, Ansor, Banser khususnya, pasti melaksanakan kegiatan untuk ikut membantu mengamankan gereja,” pungkas Gus Mad.

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *