WK MEDIA

Peringatan pemicu trauma: kekerasan fisik, verbal, seksual, gambar luka. 

Usia Yeni, nama samaran, baru 15 tahun saat ia bertemu Fian di sebuah rumah kos di Bali. Awalnya mereka adalah teman. Lewat manipulasi dan kekerasan ekstrem, Fian memaksa Yeni menjadi pekerja seks. Yeni dijual kepada pria-pria pedofil yang banyak berkeliaran di Bali. 

Yeni pernah dipaksa melayani hingga 24 pria dalam semalam meskipun ia sedang menstruasi. Semua uangnya harus diberikan kepada Fian, yang juga seorang pencandu narkoba.

Kisah Yeni menggambarkan betapa mengerikan situasi perdagangan orang di Indonesia. Bagi para pedofil asing, Indonesia adalah destinasi wisata seks. Riset UNICEF pada 2014 mendapati 30 persen pekerja seks di Indonesia masih berusia anak. Sebanyak 70 ribu anak menjadi korban eksploitasi seksual tiap tahunnya di negara ini. Kumpulkan orang-orang hingga memenuhi Jakarta International Stadium, sebanyak itulah jumlah 70 ribu.

Yeni akhirnya berhasil kabur dari muncikarinya. Pria itu diseret ke pengadilan, tetapi hanya diganjar hukuman 1,5 tahun penjara. Vonis tak sebanding dengan penderitaan dan trauma yang dialami korbannya, seperti diceritakan Yeni berikut.

Yeni hidup sebatang kara di Bali.

Ia lahir di pulau ini dari keluarga perantau dari Jawa. Saat ia usianya menginjak 15 tahun, bapak dan adiknya pulang ke Jawa, sementara ibunya pergi menjadi buruh migran di Malaysia. Yeni tak ikut pindah karena kadung mencintai Bali.

Yeni ngekos di sebuah rumah di Denpasar. Di kos-kosan itu mayoritas penghuni ia kenal. Salah satunya Fian, nama sebenarnya, seorang pria yang kira-kira berusia 30-an, berbadan gempal, dan berambut cepak. Fian dikenal sebagai sosok kejam di lingkungan sepermainan Yeni. 

Mulanya, Fian tak pernah mengasari Yeni, meskipun laki-laki ini dikenal sebagai sosok sangar. Justru ia kerap berbincang santai dengan Yeni, bahkan bilang ia akan akan menjadi pelindung Yeni di Bali. 

“Dia sebenernya waktu itu menganggap saya sebagai adik. Karena waktu itu saya enggak ada siapa-siapa, jadi saya percaya,” kata Yeni. 

Yeni baru menyaksikan aksi bengis Fian tatkala pada suatu malam kamar Yeni diketuk oleh anak buah Fian yang membawa pesan bahwa Fian memanggil Yeni ke kamarnya.

Mata Yeni terbelalak saat ia membuka pintu kamar Fian. Ada seorang perempuan tengah telanjang bulat. Enam pria duduk melingkari perempuan itu sambil menatapnya. Yeni mengenal perempuan itu. Ia adalah kekasih Fian. 

Fian berdiri tepat di samping perempuan itu sambil menenteng sebuah ember berisi air panas. Tiba-tiba ia mulai menyiram wanita itu.

Yeni menutup matanya. Telinganya pekak oleh jerit kesakitan perempuan itu. Berkali-kali perempuan itu memohon ampun, tetapi Fian tak menghentikan penyiksaan brutalnya. Alih-alih berhenti, ia lanjut menghajar perempuan itu dengan membabi buta, sambil meneriakkan sebuah ultimatum. Fian juga memaksa Yeni terus menyaksikan semuanya.

“Ini! Buka matamu, lihat ini! Jangan kau coba-coba berani berkelakuan jalang seperti dia. Ini jalang, kurang ajar!” seru Fian. 

Tak merasa puas setelah menyiksa dengan air panas, Fian memaksa perempuan itu untuk jongkok dengan satu kaki. Fian sengaja muntah, dan meminta pasangannya menjilati muntahannya. 

“Waktu itu, aku benar-benar merasa ketakutan. Enggak ada yang berani menghentikan dia, semua orang tunduk karena ia dikenal tak segan menghabisi siapa pun,” kata Yeni. 

Setelah parade penyiksaan berakhir, Yeni buru-buru membawa perempuan itu ke kamarnya. “Saya enggak punya apa-apa, enggak punya obat, cuman saya olesi minyak kayu putih.” 

Kejadian itu membuat Yeni bertekad segera pindah dari kos-kosan. Tapi, saban kali ia ingin pergi, Fian selalu menahannya dan menunjukan gestur manis dengan membawakannya makanan atau sekadar berbincang santai dengannya. 

“Dia bilang, ‘Enggak usah pindah, di sini aku akan lindungi kamu,’ gitu. Benar-benar sulit ngumpulin keberanian buat pindah.” 

Sebelum sempat angkat kaki dari kos-kosan, langkah Yeni lebih dulu disergap oleh Fian. Ia menjerat Yeni dengan menjadikan utang sebagai perangkap.

Saat itu Yeni sedang pacaran dengan cowok bernama Aldo, yang tak lain anak buah Fian juga. 

Aldo adalah pekerja serabutan tanpa pendapatan pasti. Ia juga pecandu narkoba. Kecanduannya ini membuat Aldo berutang “barang” kepada Fian. Yeni tak tahu-menahu perkara itu hingga Fian mendatangi kamarnya dan bilang Aldo punya “sangkutan” Rp6 juta kepadanya. Yeni belum sempat menanggapi, Fian buru-buru meninggalkannya bersama sebuah ancaman. “Kalau enggak dia bayar, kamu yang saya habisi!”

Fian menebar teror kepada Yeni dan Aldo tiap hari. Pada sebuah malam Fian mendatangi Yeni lagi. Ia menawarkan agar Yeni melunasi utang Aldo. Caranya, Aldo menyerahkan Yeni kepada Fian.  

“Padahal itu yang punya utang bukan aku. Tetapi entah bagaimana cara pikirnya, karena aku waktu itu berpacaran sama Aldo, aku dianggap juga punya utang sama dia. Waktu itu, saya enggak ada uang, enggak dikasih pilihan,” kata Yeni. 

Itulah pintu masuk Fian untuk menjadikan Yeni pekerja seks di bawah kendalinya. Modus yang dipakai Fian adalah dengan memacari gadis-gadis belia. Menurut Yeni, padahal Fian sudah memiliki anak dan istri.

Setelah berhasil dikuasai, para gadis itu akan dipaksa menjadi menjajakan diri lewat aplikasi MiChat. Lalu Fian akan merampas seluruh penghasilan korban untuk berjudi dan beli narkoba.

“Jadi sebelum saya itu, ada dua orang yang sudah dijadikan pekerja. Semuanya ditaruh di satu kamar sama dia. Kedua-duanya adalah mantan pacarnya. Dia enggak mau tahu, pokoknya kalau dia butuh uang buat depo[sit] slot atau beli sabu, kita harus ada [uang]. Makanya kita harus kerja. Kalau enggak mau, kita dihajar,” kata Yeni. 

Tiap hari, para korban dipekerjakan dari jam 18.00 hingga 04.00 pagi. mereka tak boleh libur meski sedang menstruasi. Tarif yang dipatok Fian mulai dari 350 ribu sampai 750 ribu tiap pelanggan. 

“Itu kalau misalnya [pelanggan] bule, tarifnya lain lagi. Bisa lebih besar.”

“Namanya manusia, kita kadang juga capek, kan? Nah, tapi kalau misal kita enggak mau kerja, aduh, habis sudah kita dihajarnya.”

Yeni mengingat satu malam jahanam. Dalam kondisi sedang menstruasi, ia mesti melayani 24 tamu bergiliran dalam semalam. Sementara di hari-hari biasanya ia menerima sekurang-kurangnya 10 tamu dalam semalam.

“Jadi kalau misal mens gitu, disuruh pakai tisu basah, dan maaf, itu dimasukan ke pepek [vagina]. Biar darahnya enggak keluar. Enggak ada dia peduli mau kita kesakitan kek, pokoknya jadi uang aja.”

Karena semua uang diperas Fian, Yeni biasanya menyembunyikan sebagian penghasilan maupun tip dari tamu untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Ia kerap mendapat uang lebih dari turis luar negeri, uang itu lalu dikirim ke sebuah kota yang ia rahasiakan. “Bisa 750 ribu sampai 1,5 juta, enggak mesti. Tergantung nego di awal.” 

Yeni sudah menyetor jutaan rupiah kepada Fian, tetapi uang itu tak kunjung membebaskannya. Utang yang digunakan Fian agar korban-korbannya mau menjual diri hanyalah alasan yang dibuat-buat.

Bisnis prostitusi adalah satu-satunya mata pencaharian Fian. Pria berusia 34 tahun itu sehari-hari menganggur. Ia hidup hura-hura dari hasil memeras sejumlah perempuan muda seperti Yeni. 

Sebanyak 30 persen pekerja seks di Indonesia adalah anak-anak, Organisasi End Child Prostitution Child Pornography & Trafficking of Children (ECPAT) memperkirakan. Dalam angka, 40 ribu hingga 70 ribu anak jadi korban perdagangan seksual.

Pekerja seks anak adalah salah satu bentuk pariwisata seks anak (child sex tourism), pariwisata yang tidak ingin diakui siapa pun tapi mudah ditemukan di Indonesia. Bentuk lain pariwisata seks anak adalah praktik pedofilia. Dalam praktik ini, wisatawan predator anak mencari anak rentan, lalu melakukan pelecehan hingga pemerkosaan dengan imbalan hadiah ataupun uang untuk si anak ataupun keluarganya.

Pariwisata seks anak adalah sisi gelap Bali. Penelitian ECPAT sepanjang 2015-2017 di 10 destinasi wisata mendapati, prostitusi anak dapat ditemukan di semua lokasi tersebut, termasuk di Bali. Provinsi ini mencatatkan kasus pedofilia tertinggi di Indonesia. Selama 2012-2014, Indonesia lewat Bali jadi tujuan favorit wisatawan predator anak dari Australia

Kaitan antara jerat utang dan prostitusi bak peribahasa setali tiga uang. Pola klasik para pelaku untuk menjerat anak jadi pekerja seks adalah dengan memanfaatkan kerentanan ekonomi korban.

Salah contohnya terjadi di Jakarta pada 2020 silam. Sepasang suami istri, Michael (35) dan SR (33), menjadi agen pekerja seks dengan cara memberikan pinjaman dengan bunga besar pada orang tua target. Ketika orang tua sudah tak mampu membayar utang yang terus melejit, Michael dan SR datang dengan tawaran pekerjaan di kota untuk anak mereka. Pelaku berjanji utang bisa dilunasi pelan-pelan dengan memotong penghasilan si anak.

Kepada orang tua korban, pelaku mengatakan anak mereka dipekerjakan di tempat karaoke di Jakarta. Kenyataannya, anak-anak ini bukan cuma jadi pemandu karaoke, tapi juga dipaksa menjajakan diri lewat MiChat. 

Sudah bukan rahasia aplikasi ini jadi perantara prostitusi daring. Di negara asalnya, Singapura, MiChat telah dilarang beroperasi sejak 2019 akibat isu serupa. Aplikasi ini juga disorot KPAI karena jadi platform yang paling banyak dipakai dalam kasus eksploitasi seksual anak.

VICE berkali-kali telah mencoba pihak Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) terkait fenomena bisnis prositutisi anak. Tetapi, hingga laporan diterbitkan, belum ada tanggapan.

Tak mudah bagi seorang anak untuk lolos dari belenggu bisnis prostitusi. Yeni salah satu korban yang berhasil membebaskan diri. Perempuan yang saat ini berusia 17 tahun itu adalah gadis yang tangguh. Meskipun diselimuti teror dan ancaman dari Fian dan jaringannya, ia berkali-kali berhasil kabur. Berkali-kali pula ia gagal, diseret untuk bekerja lagi. Namun, Yeni tak putus asa. 

“Yang bikin sulit itu, Fian ini mata-matanya di mana-mana. Semuanya tahu siapa saja ‘anak’ Fian. Saya kabur jauh dari kosannya, tetapi tertangkap juga.” 

Setelah berkali-kali jatuh bangun berjuang lolos dari kuasa Fian, pada sebuah malam Yeni menemukan jalan menuju kebebasan.

Yeni baru saja tertangkap dan disekap. Saat di tempat penyekapan, ia berdalih kepada Fian, mau turun ke kamar bawah untuk minta rokok ke penjaga. Sebenarnya Yeni telah mengontak dua kawannya agar siap-siap menunggu di depan rumah. Saat penjaga lengah, Yeni kabur naik sepeda motor bersama kawannya. 

“Rasanya seperti lolos dari neraka waktu itu. Benar-benar deg-degan karena saya tahu anak buah dia di mana-mana, tetapi waktu itu yang saya pikirkan adalah mencari tempat aman,” kenang Yeni. 

Selama masa pelarian, Fian dan anak buahnya tak berhenti mengancam Yeni lewat berbagai media sosial. Fian juga mengancam semua teman Yeni bahwa siapa saja yang ikut menyembunyikan Yeni, akan ia habisi dengan tangannya sendiri. Setelah berminggu-minggu terbebas dari cengkeraman Fian, entah dari siapa informasi berembus, Fian berhasil mencium tempat persembunyian Yeni sekali lagi. 

Malam itu Yeni bersama empat kawannya tengah asik bermain kartu di kos baru. Sekitar pukul sepuluh malam, seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan kasar. Yeni belum sempat membuka pintu ketika Fian dan gerombolannya mendobrak kamar. 

Tanpa diberi kesempatan bicara, Fian langsung menjambak dan menyeret Yeni keluar. Keempat temannya yang berusaha membela Yeni, diancam dengan pisau yang diacungkan tepat di depan wajah mereka. Fian bilang ia hanya ingin menagih utang. 

“Bahkan waktu itu ada kawanku yang kasih itu handphone-nya ke dia. ‘Ini, bawa aja hapeku, utangnya berapa? Janganlah pakai kekerasan sama cewek,’ tapi dia malah mengancam temanku, ‘Mau kau kuhabisi sekalian?’ sambil bawa pisau,” kata Yeni. 

Ketika disiksa, Yeni tak tinggal diam. Dengan segala kemampuan membela diri yang ia punya, ia berusaha melawan. Masalahnya Fian tak sendirian. Yeni dikeroyok sampai bersimbah darah. 

“Hidung, mulut, mata ini hancur. Tapi saya enggak nangis, malah sempat ketawa. Laki-laki dewasa mau ngehajar cewek usia 15 tahun aja butuh orang banyak? Wooo, cemen!” 

Menurut kesaksian teman sekamar Yeni, sejak peristiwa itu, tidur Yeni tak pernah nyenyak. Ia selalu mengigau lalu terbangun sambil tersengal-sengal. Peristiwa traumatis tersebut menancap di alam bawah sadar Yeni. Yeni bilang, hingga lebih dari sebulan ia terus bermimpi tentang peristiwa penghajaran itu. 

“Dia minta ampun, menangis, kadang juga marah memaki-maki sampai teriak kalau pas tidur. Tidur gitu, setiap jam mesti kebangun. Itu terus berulang sampai satu bulan lebih deh,” kata kawan Yeni yang tak mau disebutkan namanya.

Sesudah penganiayaan berat itu, Yeni berhasil menuntaskan sebagian kesumatnya untuk menjebloskan Fian ke penjara. Ia bersama pendampingnya, pengacara Yohana Agustina Pandhi, merasa sedikit lega walau hasilnya masih jauh dari kata puas. 

“Justru saya masih merasa ganjil. Ketika di persidangan, kenapa kok polisi dan jaksa penuntut tidak mengganjar dia dengan kasus TPPO [Tindak Pidana Perdagangan Orang]? Kok yang dikasusin cuman penganiayaan aja? Padahal dari kesaksian saksi kami, itu sudah cukup banyak bukti kalau ia juga terlibat langsung di kejahatan human trafficking. Pertanyaan saya, kenapa itu tidak juga diproses?” kata Yohana Agustina. 

Yohana adalah mantan polisi yang pernah memimpin sektor perlindungan perempuan dan anak di Polda Bali. Menurutnya, krisis ekonomi akibat pandemi memicu tren kejahatan ini terus menanjak.

“Waktu dulu masih di Polda, kasus seperti yang dialami Yeni ini juga banyak sekali. Tapi waktu itu personil saya sedikit, jadi kita kerja siang malam biar kasus selesai, dan itu terus bertambah,” kata Yohana. 

Selain minimnya penyelesaian lewat hukum, diungkap United Nations Office on Drugs and Crime bahwa sebagian besar korban perdagangan orang seperti Yeni. Mereka berhasil bebas atas usaha sendiri, bukan karena pertolongan aparat.

Pemerintah Bali tidak memiliki rumah aman bagi korban perdagangan orang, Yohana menambahkan. Korban juga sulit berhenti menjadi pekerja seks dan beralih ke pekerjaan “normal”, mengingat mayoritas korban putus sekolah. 

Situasi itu mendorong Yohana menginisiasi organisasi non-profit bernama Generasi Bisa (Gerasa) begitu ia pensiun dari kepolisian. Organisasi ini mendirikan rumah aman untuk korban TPPO di daerah Tabanan, serta membuat kafe bernama Hopes. Kafe ini mempekerjakan anak-anak korban perdagangan manusia serta anak-anak yang baru lepas dari lembaga pemasyarakatan. 

“Salah satu yang mencegah mereka agar tidak kembali di dunia prostitusi adalah dengan memberikan mereka kesempatan bekerja. Kan juga sulit buat mereka untuk bekerja formal. Buka-bukaan aja deh, mereka itu hidupnya penuh dengan stigma. Kafe ini adalah upaya kecil yang kami coba, agar mereka tak kembali terperangkap,” kata Yohana. 

Selama lebih dari satu dekade berkutat di masalah perdagangan manusia, Yohana sering menangani kasus seperti dialami Yeni. Tetapi sejak 2019, hanya 5 kasus prostitusi anak yang berhasil dituntaskan polisi Bali. 

“Itu yang membuat saya kecewa. Kenapa kok kasus Yeni ini yang diurus, bukan yang soal TPPO-nya. Akhirnya, pelaku cuman diganjar 1,5 tahun penjara. Itu enggak cukup!” sergah Yohana.

Bagi Yeni, 1,5 tahun penjara adalah hukuman kelewat murah untuk orang yang telah menghancurkan hidupnya. Ia masih waswas terhadap ancaman Fian yang dari penjara mengirim pesan bahwa ia akan memburu Yeni dan membunuhnya. 

“Saya enggak takut, tapi khawatir pasti. Itu [hukuman] segitu, kalau dibanding hidupku yang sudah hancur lebur ini, enggak sebandinglah. Kalau bisa, dihukum seumur hidup, karena ini juga akan membuatku trauma seumur hidup juga kan? Biar impas sudah. Sama-sama hancurnya,” kata Yeni.

Saat ini Yeni masih bimbang untuk kembali ke sekolah dan mewujudkan keinginan orang tuanya melihat ia jadi sarjana. Satu-satunya yang membuat Yeni masih memiliki asa adalah anak laki-lakinya. Ia berharap tragedi yang menimpanya menjadi upah untuk penuntasan karma buruk. Ia memimpikan kelak putranya tumbuh menjadi orang bernasib mujur, tak seperti dirinya. 

“Tapi, kalau misal diberi kesempatan buat bermimpi. Aku tuh masih punya cita-cita untuk jadi penyanyi dangdut sih, hahaha. Aku tuh pengin banget jadi kayak Kak Yeni Inka! Tapi, bisa enggak ya?” kata Yeni.

Liputan ini dibuat atas dukungan dari program Round Earth Media yang diselenggarakan International Women’s Media Foundation.


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *