• Oktober 21, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

4 Destinasi Wisata yang Membatasi Bawaan Pengunjung hingga Melarang Koper Beroda

Beberapa operator tur di beberapa negara menyarankan penumpang berkemas ringkas demi perjalanan yang lebih berkelanjutan. Apakah para wisatawan siap bepergian dengan bawaan yang lebih ringan di masa depan?

Saat musim panas tiba di belahan bumi utara, banyak orang mulai mengepak barang bawaan ke dalam koper dan tas ransel, bersiap untuk pergi berlibur.

Tentu saja ada banyak pakaian yang akan dikemas, tidak lupa juga kacamata hitam, pakaian renang, sandal, losion untuk berjemur sisa tahun lalu, dan buku yang bagus.

Sweter atau jaket mungkin akan dimasukkan juga, untuk berjaga-jaga.

Mungkin, sebagian orang akan menimbang kembali berapa banyak barang bawaan yang memang harus dibawa. Kebanyakan orang tidak demikian.

Namun, kini ada banyak cara baru untuk mengurangi jejak karbon dibandingkan sebelumnya. Beberapa tujuan wisata juga mencoba melarang jenis bagasi tertentu. Jangan-jangan, memasukkan semua keperluan hidup ke dalam koper akan segera menjadi masa lalu.

Lagi pula, dengan mengemas lebih sedikit, emisi karbon yang kita hasilkan menjadi lebih sedikit, mengurangi jejak emisi perjalanan, dan lebih melindungi alam.

Untuk menyoroti bagaimana perjalanan berkelanjutan pertama kali dimulai dari rumah, berikut adalah beberapa tempat yang menantang kebiasaan berkemas dan menawarkan jalan pintas menuju liburan yang lebih efisien.

Program "Any Wear, Anywhere?" dibuat agar penumpang yang menuju ke Jepang dapat check-in dengan membawa bagasi minimal.
Program "Any Wear, Anywhere?" dibuat agar penumpang yang menuju ke Jepang dapat check-in dengan membawa bagasi minimal.

Jepang

Japan Airlines baru-baru ini meluncurkan program percontohan yang memberikan pilihan kepada wisatawan mancanegara untuk menyewa pakaian sebelum berangkat – sehingga menghilangkan kebutuhan untuk membawa bagasi.

Ini merupakan salah satu langkah berani Japan Airlines menuju industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Berlangsung hingga akhir Agustus, program "Any Wear, Anywhere?" dibuat agar penumpang yang menuju ke Jepang dapat check-in dengan bagasi minimal.

Dengan cara itu maskapai dapat mengukur dampak lingkungan dari penanganan bagasi yang lebih sedikit, serta bobot pesawat yang lebih rendah.

Begitu wisatawan tiba di Tokyo, Osaka, atau Fukuoka, pakaian yang telah disesuaikan dalam berbagai ukuran dan model diantarkan ke hotel tempat mereka menginap.

Meskipun konsep tersebut membantu meringankan beban wisatawan, tidak semua orang yakin bahwa ini adalah pendekatan yang tepat.

"Ini adalah ide yang bagus, cara yang menyenangkan untuk membuat kita mengurangi dampak kita sendiri daripada menganalisa dampak orang lain," kata Justin Francis, salah satu pendiri dan CEO perusahaan liburan aktivis yang berbasis di Inggris, Responsible Travel.

"Sama seperti penyeimbangan karbon sukarela, ini mengalihkan beban tanggung jawab dari maskapai ke individu."

"Akuntabilitas pribadi itu penting dan inovasi itu bagus, tetapi kita harus berhati-hati agar kita tidak teralihkan dari perubahan sistem nyata yang diperlukan, berupa regulasi yang kuat dan pajak yang lebih adil untuk bahan bakar, misalnya," kata dia.

Resor-resor dan perusahaan jasa penyewaan menekankan pengurangan dan penggunaan kembali perangkat ski, dengan menyewakan topi, sarung tangan, kacamata, celana, dan jaket.
Resor-resor dan perusahaan jasa penyewaan menekankan pengurangan dan penggunaan kembali perangkat ski, dengan menyewakan topi, sarung tangan, kacamata, celana, dan jaket.

Pegunungan Alpen

Di seluruh dunia, para pemain ski mencoba menurunkan jejak karbon mereka.

Liburan olahraga musim dingin memang telah lama berkontribusi dalam kelebihan biaya bagasi yang terlalu besar, namun ada unsur perubahan persepsi.

Ide baru muncul di resor-resor di seluruh Prancis, Swiss, dan Austria: tinggalkan peralatan di rumah dan sewa di resor.

Untuk mengurangi ruang bagasi – dan juga mengurangi kebutuhan wisatawan untuk berinvestasi dalam peralatan olahraga bernilai tinggi – resor dan perusahaan penyewaan menekankan pengurangan dan penggunaan kembali perangkat ski.

Mereka menyewakan topi, sarung tangan, kacamata, celana, dan jaket – termasuk perlengkapan ski yang sudah lazim seperti tongkat, sepatu bot, papan seluncur, dan helm.

Bagi mereka yang ingin bepergian dengan kereta api atau angkutan umum lainnya, cara seperti ini sudah populer, dari Verbier di Swiss hingga resor-resor di seluruh Austria, berkat layanan nasional seperti SkiGala.

"Sangat mudah untuk mengemas barang ringan untuk liburan olahraga musim dingin ketika tahu sebagian besar perlengkapan yang diperlukan bisa disewa di lokasi," kata Krissy Roe, manajer keberlanjutan senior di Hotelplan, grup operator tur spesialis pan-Eropa.

"Setiap barang yang diproduksi memiliki jejak karbon, jadi jauh lebih baik jika barang tersebut digunakan dengan baik oleh banyak pelanggan dan bisa diperbaiki oleh ahlinya untuk dipakai lebih lama.”

“Dari segi biaya, menyewa di resor juga bisa lebih menguntungkan, alih-alih membayar bagasi besar di penerbangan,” ujarnya.

Dubrovnik merekomendasikan pengunjung untuk meninggalkan koper beroda mereka di rumah.
Dubrovnik merekomendasikan pengunjung untuk meninggalkan koper beroda mereka di rumah.

Dubrovnik, Kroasia

Venesia adalah tujuan wisata pertama yang cukup berani untuk mempertimbangkan pelarangan koper beroda demi lebih melestarikan jalan-jalan kota yang penuh sesak pada 2014.

Kini, Dubrovnik telah mengubah argumen tersebut menjadi tindakan. Kota itu merekomendasikan pengunjung untuk meninggalkan koper beroda mereka di rumah.

Bukan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, overtourism telah memicu kemarahan penduduk setempat yang tinggal di kota yang dikelilingi benteng itu.

Kantor Pariwisata Dubrovik lantas mengambil tindakan. Mereka merilis video panduan dan saran terbaru tentang etiket pengunjung pada awal bulan ini.

Kota di pesisir Laut Adriatik itu sekarang merekomendasikan pengunjung untuk tidak mengganggu jalan berbatu bersejarah, dengan mengangkat koper beroda, bukan menyeretnya.

"Seringkali, para wisatawan mengisi koper mereka sampai beratnya mencapai 20 kilogram lebih karena mereka sudah membayar bagasinya," kata Pippa Ganderton, direktur produk ATPI Halo, layanan pengukuran, pengurangan, dan offset CO2 dan penyedia perjalanan berkelanjutan solusi.

"Salah satu solusi potensial yang dapat dipertimbangkan oleh maskapai penerbangan di masa depan adalah menambahkan lebih banyak kategori berat untuk tas jinjing dan barang bawaan. Dengan menawarkan opsi yang lebih kecil, pelancong serta tempat tujuan bisa mengurangi emisi penerbangan."

Pembatasan bagasi biasanya berlaku untuk safari.
Pembatasan bagasi biasanya berlaku untuk safari.

Afrika Timur

Penginapan-penginapan safari di taman nasional di seluruh Kenya, Tanzania, dan Uganda menawarkan hal berbeda untuk sebagian besar liburan.

Meskipun tidak ada larangan untuk jenis bagasi tertentu, pembatasan biasanya berlaku dan wisatawan diharapkan memahami dan menghargai pentingnya membawa bawaan yang ringan ketika datang.

Pembatasan dalam membawa bagasi ini berarti wisatawan harus membawa tas yang ringkas dan berbahan lembut, yang selalu disukai para operator tur.

Koper dengan roda atau, lebih buruk lagi, tas dengan rangka built-in seringkali tidak akan berhasil melewati ruang keberangkatan dan masuk ke landasan pacu.

"Kami selalu menyarankan klien-klien safari untuk berkemas ringan karena sejumlah alasan," kata Kathy Boate, CEO Kartologi Travel, biro perjalanan mewah yang dipesan lebih dahulu.

"Tidak hanya ada batasan berat yang ketat pada pesawat yang lebih kecil, tetapi banyak daerah menggunakan pesawat ringan, di mana koper berbahan keras tidak bisa dibawa – koper tidak muat di bagasi.”

“Selain itu, Anda tidak memerlukan banyak barang dan pakaian saat bersafari. Pondok-pondok berkualitas juga menyediakan perlengkapan mandi dan handuk, tabir surya, dan obat nyamuk, membantu Anda mengurangi kebutuhan berkemas di rumah sejak awal," kata Boate.

Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul Are luggage-free trips the future? dapat anda baca di BBC Travel.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *