• Januari 17, 2024
  • ardwk
  • 0


Jakarta, WK MEDIA

Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menegaskan ekspansi bisnis tetap merujuk pada lokasi yang banyak konsumen meski nantinya ada Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Wakil Ketua Umum Kadin Juan Permata Adoe mengurungkan niatnya untuk menutup mata bahwa Pulau Jawa saat ini masih cukup ramai dalam urusan bisnis.

“Kalau bicara IKN, kita pengusaha tentunya memilih lokasi yang di mana konsumennya banyak, itu sudah pasti,” tegas Juan dalam Konferensi Pers di Rodenstock Building, Jakarta Barat, Selasa (16/1).

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

“Kedua, kalau terjadi pastinya (pengusaha memilih lokasi) penduduk yang terbanyak itu di Pulau Jawa. Pokoknya, di mana pemilihan umum (pemilu) ramai, nah di situ mal banyak, penjualan banyak, produknya pun tambah banyak,” sambungnya.

Terlepas dari prospek bisnis di IKN, pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Peritel dan Penyewa Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengeluhkan aturan negara yang dianggap menarik barang impor. Padahal, mereka mengaku selama ini sudah taat pajak.

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) juga merasa mal-mal di Indonesia dibayangi dengan ancaman keberlangsungan industri usaha ritel, khususnya pada tahun 2024 ini.

APPBI mengkritik upaya pemerintah untuk membatasi produk impor. Mereka menilai negara seharusnya memberi insentif untuk produk-produk dalam negeri agar bisa berkembang dan bersaing di pasar ekspor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang hadir secara virtual turut mendengar keluhan pengusaha. Airlangga menekankan pemerintah perlu mempelajari geliat sektor ritel di negara lain sebagai penentu kebijakan di Indonesia.

“Untuk menjaga agar bisnis ritel tumbuh, pemerintah terus melakukan penyempurnaan regulasi terkait kemudahan impor, meskipun saya mendengar ada keluhan dari Hippindo. Juga perizinan terkait berusaha, kami akan terus memudahkan implementasi pembukaan-pembukaan ritel,” tuturnya.

“Apalagi sektor ritel atau luring ini mendapatkan persaingan yang cukup ketat dari sektor online. Sehingga daya saing dari sektor luring itu harus punya daya saing dibandingkan online, tetapi berdasarkan kebutuhan dari konsumen. Kalau daya saing hanya ditunjang regulasi, itu juga tidak akan bertahan lama,” tambah Airlangga.

[Gambas:Video CNN]

(skt/agt)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *