• Oktober 18, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Seorang pekerja menjemur hasil panen rumput laut di Desa Tadui, Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (19/8/2020). Foto: Akbar Tado/Antara Foto
Seorang pekerja menjemur hasil panen rumput laut di Desa Tadui, Mamuju, Sulawesi Barat, Rabu (19/8/2020). Foto: Akbar Tado/Antara Foto

Konferensi Tingkat Tinggi Archipelagic and Island States (AIS) 2023 yang digelar 10-11 Oktober di Nusa Dua, Bali kemarin merupakan sebuah forum prestisius yang lagi-lagi memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kapasitasnya di tingkat global.

Indonesia memandang ke depan dengan penuh optimisme, melihat peluang besar dalam sektor biru yang memadukan inovasi, investasi, dan keberlanjutan. Pentingnya investasi di sektor ini tidak hanya terletak pada potensi ekonomi yang besar, tetapi juga pada peran pentingnya dalam membuka potensi laut dan menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Menurut pendapat saya, AIS 2023 Bali Summit dapat menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk merumuskan strategi pengembangan industri hilir rumput laut. Dukungan pemerintah dan partisipasi aktif pelaku industri sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan ini, yang saya yakini akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian ekosistem laut Indonesia. Oleh karena itu, AIS 2023 Bali Summit perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh pemangku kepentingan.

Sektor biru mencakup berbagai aspek, termasuk pengembangan rumput laut, yang menurut Kementerian Investasi/BKPM merupakan modal alam (natural capital) biru yang menjadi industri strategis hilirisasi. Rumput laut tidak hanya padat karya, tetapi juga memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan globalnya sebagai produsen kedua terbesar rumput laut di dunia. Namun, masih ada potensi besar yang belum tergarap sepenuhnya, terutama dalam meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk olahan rumput laut.

Mengacu pada data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, di tahun 2021, komposisi ekspor rumput laut Indonesia masih didominasi oleh bahan baku rumput laut kering (65 persen), hanya 35 persen berupa rumput laut olahan yang bernilai tambah. Secara keseluruhan nilai ekspor rumput laut ini mencapai sekitar 6 persen dari total ekspor produk perikanan nasional, dengan penguasaan pangsa pasar dunia baru sekitar 12 persen saja.

Data ini menunjukkan adanya peluang besar untuk meningkatkan ekspor produk olahan rumput laut. Untuk mencapai hal ini, kolaborasi yang erat antara pemerintah, industri, dan peneliti sangat diperlukan. Pemerintah perlu merancang kebijakan yang mendukung industrialisasi rumput laut dari hulu ke hilir. Langkah-langkah ini mencakup peningkatan kapasitas industri pengolahan rumput laut dan identifikasi langkah-langkah kebijakan yang dapat mempercepat upaya tersebut.

Dalam pemberdayaan rumput laut, terdapat peran kunci lain yang tidak boleh terlewatkan, yakni teknologi. Perusahaan seperti PT Sea6 Energy telah membuktikan bahwa inovasi teknologi seperti pemantauan lokasi budidaya menggunakan drone, analisis satelit untuk menentukan lokasi perluasan budidaya, dan kecerdasan buatan memiliki potensi besar dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri rumput laut.

Pemanfaatan teknologi ini memberikan solusi nyata dalam membersihkan laut, menurunkan emisi karbon, mendukung padat karya dengan melibatkan ribuan pekerja, dan dapat meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia dapat mengembangkan dan memberdayakan kekayaan lautnya secara berkelanjutan. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dan memanfaatkan teknologi terkini, Indonesia dapat membuka pintu menuju masa depan yang berkelanjutan.

Yaitu ketika kekayaan laut dan inovasi bertemu, menciptakan peluang yang tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. AIS 2023 Bali Summit juga diharapkan dapat mendorong penerapan teknologi dan digitalisasi bagi seluruh pelaku usaha rumput laut, maupun usaha lain di bidang kelautan dan maritim di Indonesia.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *