• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

 Yocheved Livchitz, wanita lansia Israel yang dibebaskan dari tawanan Hamas menyalami pejuang Palestina, Senin (23/10/2023). Foto: Twitter/@QudsNen
Yocheved Livchitz, wanita lansia Israel yang dibebaskan dari tawanan Hamas menyalami pejuang Palestina, Senin (23/10/2023). Foto: Twitter/@QudsNen

Hamas yang memiliki sayap militer Brigade Al-Qassam membebaskan dua warga Israel yang mereka tawan pada Senin (23/10) malam. Yang mengejutkan, salah satu dari tawanan itu sempat menyalami pejuang Hamas bersenjata saat mereka hendak berpisah.

Tawanan yang menyalami tersebut adalah Yocheved Livchitz, 85 tahun. Beberapa saat setelah dia sampai di Israel setelah dibebaskan, wartawan mewawancarainya.

Ketika ditanya oleh seorang wartawan mengapa dia berjabat tangan dengan pria bersenjata itu, Lifschitz mengatakan para penyandera telah memperlakukannya dengan baik dan para sandera lainnya berada dalam kondisi baik.

“Karena mereka memperlakukan kami dengan sangat baik,” jawabnya dengan diterjemahkan oleh putrinya, Sharone, seperti dalam tayangan Sky News.

Dalam video yang dirilis Hamas, terlihat Lifschitz dan seorang tawanan lainnya, Nurit Cooper (79), berbincang dengan pejuang Hamas bersenjata, makan biskuit dan minuman yang ditawarkan pejuang itu.

Ketika mereka diserahkan kepada petugas Palang Merah Internasional, Lifschitz sempat berbalik ke arah pejuang Palestina dan menyalami pria bersenjata itu. Dia juga mengucapkan,”Shalom.”

Pejuang Hamas memberi biskuit kepada wanita Israel yang menjadi tawanan. Hamas membebaskan dua tawanan itu pada Senin, 23 Oktober 2023. Foto: Twitter/@QudsNen
Pejuang Hamas memberi biskuit kepada wanita Israel yang menjadi tawanan. Hamas membebaskan dua tawanan itu pada Senin, 23 Oktober 2023. Foto: Twitter/@QudsNen
Wanita lansia Israel yang dibebaskan dari tawanan Hamas menyalami pejuang Palestina, Senin (23/10/2023). Foto: Twitter/@QudsNen
Wanita lansia Israel yang dibebaskan dari tawanan Hamas menyalami pejuang Palestina, Senin (23/10/2023). Foto: Twitter/@QudsNen

Sharone mengatakan dia tidak terkejut dengan sikap ibunya, seorang aktivis perdamaian. “Cara dia pergi lalu kembali lagi dan kemudian mengucapkan terima kasih sungguh luar biasa bagi saya. Begitulah dia," kata Sharone kepada BBC.

Selama ditawan, Livchitz juga menceritakan bahwa mereka yang menawannya mengatakan bahwa mereka percaya pada Al-Quran dan tak akan menyakiti tawanan yang saat itu berjumlah 25 orang.

Selama ditawan, Livchitz yang memiliki masalah kesehatan pada usia tuanya ini mendapat pengawasan dari dokter dan paramedis.

“Mereka sangat peduli dengan kesehatan kami, dan kami mempunyai dokter yang akan mengunjungi kami setiap dua atau tiga hari untuk mengetahui keadaan kami,” ujar Livchitz.

Para tawanan juga mendapat makanan yang sama dengan milisi yang menawan mereka, yaitu roti pita dengan keju dan mentimun.

Milisi Hamas bahkan juga menyiapkan kebutuhan kebersihan wanita. “Mereka menyiapkan semua yang kami butuhkan, termasuk sampo dan kondisioner,” ujarnya.


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *