• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Sumber Foto: Shutterstock
Sumber Foto: Shutterstock

Dunia kita hari ini rabun tentang banyak hal; perubahan iklim, kesenjangan kekayaan, atau ketimpangan gender. Sebut saja sepanjang yang Anda bisa tambah. Kita bisa tambahkan poin lain ke dalam daftar itu, yakni miopi.

Lagi-lagi dunia kita tidak memiliki pandangan jauh ke depan. Banyak yang gagal melihat epidemi miopi, yang jelas-jelas menggerogoti persis di depan kita. Kabar buruknya miopi menyasar anak-anak muda, remaja, dan orang dewasa yang terbilang masih muda. Bila kita memilih kelompok umur, kita akan melihat anak-anak muda berada di bawah ancaman miopi, penyakit yang ditandai dengan ketidakmampuan melihat sesuatu yang datang dan penyakit yang membuat banyak orang menjadi buta.

Mari kita memahami penyakit ini dari dasarnya. Apa itu miopi? Secara harfiah, miopi berarti penglihatan pendek, dan ini merupakan kelainan mata. Orang miopis dapat dengan jelas melihat benda-benda dekat alias close-up. Mereka, misalnya, bisa membaca buku. Mereka dapat menatap ponsel tanpa menghadapi masalah. Tetapi begitu melihat objek jarak jauh, penglihatan mereka buram. Artinya orang-orang miopis tidak dapat melihat papan pengumuman atau mengenali wajah orang-orang yang berdiri dari kejauhan. Kondisi ini sangat tidak ideal bahkan untuk seseorang yang anti-sosial sekali pun.

Orang-orang miopis biasanya memakai kacamata atau lensa kontak untuk memperbaiki penglihatan mereka. Lagi pula, tidak semua orang bisa menjadi Spider-Man. Selama beberapa tahun terakhir telah terjadi ledakan miopia di Asia. Di China, 90% remaja dan dewasa miopis. Pada 1950-an angka itu hanya 10%. Di Korea Selatan 96,5% dari pria berusia 19 tahun juga miopis. Singapura memiliki tingkat miopi sekitar 80% pada orang dewasa muda. Di Taiwan 90% siswa sekolah menengah miopis dan di Jepang lebih dari 62%. Padahal pada tahun 1950-an jumlah itu hanya 11%.

Di belahan lain di dunia, angka-angka ini relatif lebih rendah. Di AS dan Inggris, angka miopi berada di bawah 50%. Meskipun angka-angka AS dan Inggris kelihatan lebih baik dibandingkan angka-angka di Asia, bukan berarti hal ini membahagiakan. Negara-negara itu mengalami peningkatan tajam hanya dalam beberapa dekade terakhir, sama seperti negara-negara di Asia.

India adalah contoh lain dari fenomena ini. Saat ini 21% anak menderita miopi, jumlah yang relatif kecil. Namun pada tahun 1999 jumlahnya sekitar 4%. Faktanya, jumlahnya meningkat begitu tajam di seluruh dunia. Para dokter memperkirakan pada tahun 2050 separuh penduduk dunia akan menggunakan kacamata.

Masalahnya sudah tidak terkendali. Miopi tinggi (high myopia) telah menjadi penyebab utama kebutaan di Jepang, China, dan Taiwan. Jika tren yang ada saat ini terus berlanjut, maka situasinya akan semakin buruk. Jutaan orang di seluruh dunia akan mengalami kebutaan dan usianya jauh lebih muda dari perkiraan.

Pertanyaannya, mengapa banyak anak menjadi buta? Di masa lalu, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab; rambut coklat, kepala panjang, merokok dengan pipa, kehamilan, mata besar dan kejang otot. Untungnya hari ini semua itu tak lebih dari atau kebanyakan mitos. Sekarang siapa menyalahkan ponsel? Beberapa tahun yang lalu orang-orang menyalahkan televisi atau membaca di balik selimut dengan pencahayaan yang buruk.

Lalu ada persoalan genetika. Kita pernah mendengar jika orang tua Anda berkacamata, Anda pun juga demikian. Tapi itu tidak selalu benar. Hal ini menimbulkan pertanyaan berikutnya, apa permasalahan utamanya? Lagi-lagi itu terkait dengan gaya hidup anak-anak. Singkatnya, semakin banyak waktu yang dihabiskan anak-anak di luar ruangan, semakin kecil kemungkinan mereka terkena miopi. Melihat objek yang jauh dapat membantu penglihatan anak-anak, begitu pula cahaya di luar ruangan. Sinar matahari sangat bagus untuk mata anak-anak.

Hal ini menjelaskan mengapa perkembangan miopi secara diam-diam meningkat pesat selama pandemi kemarin. Pada tahun 2020, rata-rata anak berusia 8 tahun menghabiskan lebih dari 5 jam sehari terpaku pada layar. Itu hanya untuk bersenang-senang. Belum lagi tambahan waktu menggunakan dawai untuk tugas sekolah. Masalahnya yang sudah nyata diperburuk oleh pandemi Covid-19.

Sekarang pandemic sudah berakhir. Kita bebas keluar dan bermain. Bagi anak-anak, pergi ke luar atau bermain di ruang terbuka adalah hal berat tapi mesti dilakukan. Mereka membutuhkannya. Mereka perlu melepaskan diri dari ponsel atau tablet dan menghabiskan waktu di alam terbuka, meskipun itu untuk bermain beberapa jam, untuk hobi atau mengajak anjing peliharaan berjalan-jalan. Miopi ini layaknya bom waktu di sebuah bangunan. Untuk menghentikannya, kita harus membawanya keluar dari gedung tersebut, syukur-syukur bisa menghentikannya.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *