• Oktober 24, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi lari di tangga. Foto: Shutterstock
Ilustrasi lari di tangga. Foto: Shutterstock

Ada banyak istilah dalam dunia lari yang jarang diketahui artinya, salah satunya adalah elevation gain. Istilah ini biasa dijumpai di sejumlah aplikasi tracker seperti Strava, Runkeeper, Adidas Running dan lain-lain.

Jika diterjemahkan secara harfiah, elevation gain artinya perolehan ketinggian. Sedangkan dalam konteks olahraga, elevation gain merujuk pada total tanjakan yang diperoleh pelari atau pesepeda saat melakukan aktivitas olahraga.

Elevation gain sangat menentukan seberapa berat olahraga yang dilakukan oleh seseorang. Semakin tinggi angkanya, maka semakin berat olahraga atau latihan yang ia lakukan. Tingkatannya dibagi menjadi tiga, yakni ringan, sedang, dan berat.

Biasanya, elevation gain diukur berdasarkan jarak tempuh dan jumlah tanjakan yang dilalui. Simak penjelasan lengkap tentang elevation gain dalam lari berikut ini.

Cara Mengukur Elevation Gain

Ilustrasi orang berlari. Foto: pixabay
Ilustrasi orang berlari. Foto: pixabay

Sederhananya, elevation gain mengukur jumlah dan jarak tempuh tanjakan yang dilalui pelari. Dijelaskan dalam laman Johnson Level, cara menghitungnya cukup mudah, yakni dengan mengamati elevasi tanjakan di setiap jalurnya.

Misalnya seorang pelari sedang mencoba hill training dengan jumlah ketinggian 1000 mdpl. Di sepanjang jalan, ia menjumpai 3 tanjakan yang masing-masing ditempuh dalam jarak 200 meter.

Maka jika dihitung, total elevasinya atau elevation gain yang dicapai adalah sejauh 600 meter. Dalam perhitungan ini, medan turunan tidak dihitung.

Selain elevation gain, ada juga aspek lain yang perlu diperhatikan saat berlari di jalur menanjak, yakni gradien. Gradien dapat mengukur tingkat kecuraman suatu tanjakan atau turunan dalam bentuk persentase.

Rumus untuk menghitungnya yaitu tinggi vertikal lokasi terakhir dibagi dengan jarak tempuhnya, lalu dikalikan 100. Misalnya seorang pelari berada di area perbukitan setinggi 70 meter yang ditempuh dalam jarak 1000 meter. Maka, gradiennya adalah 70/100 x 100 = 7%

Sama seperti elevation gain, gradien juga bisa dibedakan berdasarkan tingkat kesulitannya. Persentase 4-6% dianggap ringan, 7-10% dianggap sedang, dan di atas 10% dianggap berat.

Cara Kerja Aplikasi Tracker Mengukur Elevation Gain

Ilustrasi lari maraton.  Foto: AFP/ Jewel SAMAD
Ilustrasi lari maraton. Foto: AFP/ Jewel SAMAD

Mengutip laman Larahamilton, aplikasi tracker biasanya menggunakan kombinasi GPS dan data tekanan barometrik untuk menghitung nilai elevation gain. Data GPS memberikan informasi jarak yang ditempuh, sedangkan tekanan barometrik memberikan informasi perubahan ketinggian.

Saat dioperasikan, sensor tekanan barometrik akan mengukur tekanan udara selama aktivitas dilakukan. Sehingga, aplikasi tracker dapat memprediksi atau memperkirakan ketinggian yang dilalui pelari di setiap titiknya.

Namun, informasi yang diberikan tidak 100% akurat. Sebab, ada faktor lain yang memengaruhinya seperti kondisi cuaca, kualitas sinyal, kalibrasi perangkat dan lain-lain.

Karena kendala ini, sering kali dijumpai hasil elevation gain yang tidak sama antara satu pelari dengan pelari lain dalam satu jalur. Kemungkinan besar, hal ini disebabkan oleh perbedaan pada data perangkat GPS.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *