• Februari 18, 2024
  • ardwk
  • 0


Bandung, WK MEDIA

PT Astra Agro Lestari Tbk berusaha untuk menjaga komitmen mereka dalam menerapkan prinsip keberlanjutan atau keinginan untuk menjalankan usaha bisnis mereka.

Komitmen salah satunya dilakukan dengan terus mendorong penggunaan pupuk dari bahan organik bernama Astemic.

Chief Executive Officer Astra Agro, Santosa, di acara Talk to the CEO 2024 yang diadakan di Bandung, Jumat (17/2) malam mengatakan pupuk ini merupakan temuan tim Research and Development (R&D) Astra Agro Lestari. Pupuk ini ia klaim 100 persen berasal dari bahan organik yang ketersediaannya melimpah di Indonesia.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Di samping bahan organik, Astemic juga berasal dari konsorsium agen hayati mikroba yang diperoleh dari lahan-lahan perkebunan Astra Agro serta endofit yang berasal dari dalam tanaman kelapa sawit.

Ia mengatakan penggunaan pupuk ini bukan hal baru bagi perusahaannya. Penggunaan pupuk sudah diluncurkan sejak 2013 lalu.

“Penggunaan Astemik sekaligus menjadi wujud komitmen Astra Agro terhadap penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan,” ujarnya.

Ia mengatakan selain menjaga lingkungan dan menjawab kelangkaan pupuk NPK, Astemic juga membantu menghambat pertumbuhan penyakit Ganoderma yang menjadi momok di perkebunan sawit.

Sejarah lahirnya Astemik

Ia menambahkan Astemic lahir dari ide bahwa perbaikan hara tanah yang sangat mempengaruhi aktivitas mikroorganisme. Dengan peningkatan aktivitas mikroba tanah, akan membantu tanaman optimal dalam menyerap hara tanah.

Pupuk hayati umumnya digunakan pada komoditas hortikultura. Namun kemudian, Astra Agro Lestari mencoba mengadaptasi untuk tanaman tahunan seperti kelapa sawit.

Proses adaptasi diawali dengan eksplorasi mikroba di lahan perkebunan Astra Agro. Setelah itu dilakukan proses dengan melakukan seleksi mikroba untuk mendapatkan potensi mikroba dan mudah dikembangkan.

Formulasi dilakukan hingga terbentuk konsorsium mikroba Astemik. Uji kualitas dan kinerja pupuk Astemic dilakukan baik pada tahap bibitan, TBM (tanaman belum menghasilkan), TM (tanaman menghasilkan) hingga tanaman tua (>20 thn). Hasilnya diperoleh formula dan prosedur aplikasi Astemic yang mudah dan tepat guna untuk aplikasi di lapangan.

Setelah dilakukan uji produksi, Astemic memperoleh hak atas kekayaan intelektual (HAKI) merek dagang yang kemudian didaftarkan ke Kementerian Pertanian untuk mendapatkan izin edar.

Yang sangat menarik, menurut Santosa, pupuk Astemic dapat mereduksi 25 persen NPK dengan efisiensi penyerapan pupuk yang ada.

Seperempat 25 persen dosis pupuk yang ditetapkan setelah melewati pengujian, analisis data yang kompleks pada tanaman menghasilkan selama lebih dari 7 tahun aplikasi pada tanaman sawit remaja. Dengan sejumlah keunggulan ini, Santosa yakin Astemic siap diterapkan secara menyeluruh.

“Astemic siap diaplikasikan di 50 ribu hektar lahan mineral Astra Agro pada tahun 2024 untuk mereduksi 25 persen pupuk kimia,” ujarnya.

Kendati demikian, menurutnya, pupuk ini disiapkan hanya untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan dan kebun petani mitra Astra Agro.

(agt/pta)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *