• April 24, 2024
  • ardwk
  • 0


Jakarta, WK MEDIA

PT Astra Agro Lestari Tbk menyebut industri kelapa sawit sedang dilanda tantangan belakangan ini.

Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Santosa mengungkap salah satu tantangan terbesar datang dari harga minyak sawit mentah (CPO) yang menurun pada tahun 2023 lalu.

“Penurunan harga yang tajam ini menimbulkan koreksi kinerja keuangan industri kelapa sawit Indonesia, termasuk perseroan (kami),” kata Santosa di Jakarta, Selasa (23/4).

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Harga minyak sawit mentah (CPO) pada tahun 2023 diketahui hanya bernilai US$964 atau Rp15.639.454 per ton. Harga tersebut turun sekitar 13,9 persen dibandingkan harga CPO 2022 yang US$1.813 atau Rp29.413.205 per ton.

Selain harga, ia mengatakan tantangan juga datang dari produktivitas sawit. Ia mengatakan sekitar 46 persen dari tanaman sawit nasional sulit didapat karena usianya yang cukup tua.

Sedangkan tantangan ketiga datang dari siklus El Nino pada tahun 2023. Iklim yang buruk itu membuat panen CPO tidak mendapatkan hasil yang maksimal.

Bagi Astra, tantangan tersebut cukup memberikan dampak. Salah satunya ke pendapatan.

Perseroan hanya bisa menorehkan pendapatan bersih sebesar Rp20,74 triliun pada tahun 2023. Pendapatan itu turun sebesar 5 persen dari tahun 2022 yang masih bisa menembus Rp21,83 triliun.

Penurunan pendapatan tersebut turut berdampak pada laba yang dapat dipasarkan perusahaan yang mengalami penurunan 38,8 persen dari Rp1,72 triliun menjadi 1,06 triliun.

Meski demikian, Santosa optimistis dalam menghadapi masa depan industri ini. Santosa dalam hal ini melihat penanaman kembali sebagai solusi nyata jangka panjang dalam mengatasi kondisi perseroan saat ini. Terbukti dari tahun 2023, mereka berhasil melakukan replanting.

Replanting (peremajaan kelapa sawit) merupakan salah satu metode yang bisa digunakan untuk mencapai keinginan dalam industri sawit. Hal ini dapat meningkatkan hasil dan kualitas buah sawit tanpa perlu membuka lahan baru.

[Gambas:Video CNN]

“Sepanjang tahun 2023, perseroan berhasil meremajakan perkebunan seluas 4.713 hektar dengan bibit unggul dari hasil pengembangan penelitian dan Pengembangan kami. Hal ini menjadi strategi perusahaan dalam peningkatan produktivitas jangka panjang,” tambah Santosa.

Selanjutnya, ia akan membuat target baru dengan melakukan penanaman kembali pada lahan seluas 4.500 hingga 5.000 hektar.

“Kalau target penanaman, kita akan mengambil acuan sekitar minimal 4.500, kalau bisa 5.000 hektar,” lanjutnya.

(wlm/agt)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *