• Januari 16, 2024
  • ardwk
  • 0


Jakarta, WK MEDIA

Laut Merah menjadi arena peperangan baru imbas Israel tak berhenti membombardir Palestina. Kapal-kapal kargo raksasa yang melintasi jalur perdagangan tersebut diserang milisi Houthi Yaman.

Serangan terhadap kapal-kapal pengangkut peti kemas itu merupakan bentuk solidaritas terhadap Palestina yang digempur secara brutal oleh Israel.

Aksi Houthi Yaman membuat AS ketar-ketik. Bahkan, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sampai turun tangan meloloskan gagasan AS untuk menerbitkan resolusi yang berisi setop menyerang di Laut Merah dengan dalih serangan yang bisa mengganggu perdagangan global.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Dua anggota tetap DK PBB, yakni Rusia dan China, memilih abstain bersama dengan anggota non-permanen, seperti Mozambik dan Aljazair. Sementara itu, Arab Saudi meminta semua pihak yang terlibat menghindari eskalasi ketegangan.

Lalu, seberapa strategiskah Laut Merah? Terjadinya perdagangan global akan berdampak jika perang pecah?

Berdasarkan catatan Reuters, milisi Houthi mulai aktif menyerang dan membajak kapal-kapal terafiliasi Israel sejak November tahun lalu. Harga minyak pun beberapa kali bergejolak setelah eskalasi ini.

Pada awal Januari 2024, Freightos atau sebuah platform pemesanan dan pembayaran untuk angkutan internasional merilis dampak gejolak di Laut Merah terhadap tarif pelayaran. Untuk kontainer berukuran 40 kaki harus naik lebih dari dua kali lipat harga normal, yakni US$4.000 untuk rute Asia-Eropa Utara dan US$5.175 di Asia-Mediterania.

Bahkan, Kepala Penelitian Freightos Judah Levine berspekulasi masih akan ada penawaran harga lagi. Setidaknya harga per kontainer 40 kaki bisa bengkak hingga US$8.000 untuk sekali berlayar.

Kiel Institute for the World Economic (IfW Kiel) di Jerman juga merilis hitung-hitungan atas apa yang terjadi di Laut Merah. Mereka mengklaim perdagangan global anjlok 1,3 persen mulai November 2023 hingga Desember 2023.

“Enam dari sepuluh perusahaan pelayaran peti kemas terbesar, yaitu Maersk, MSC, Hapag-Lloyd, CMA CGM, ZIM, dan ONE, sebagian besar atau seluruhnya menghindari Laut Merah karena ancaman milisi Houthi,” tulis laporan CNN.

Bahaya terhadap kapal awak, kargo, dan kapal pada akhirnya mengorbankan rute pelayaran. Operator kini harus mengubah jalur yang tadinya melintasi Laut Merah ke sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Mau tak mau, perjalanan memakan waktu lebih lama karena menempuh rute yang lebih jauh. Pengiriman kargo diperkirakan molor hingga tiga minggu lamanya dari jadwal semula.

Serangan terhadap kapal tanker minyak diyakini berdampak besar pada perekonomian global. Kapal curah yang juga mengangkut bahan mentah penting, seperti menghasilkan besi, biji-bijian, dan kayu juga tak luput.

“Dalam konteks meningkatnya konflik, pasokan energi juga dapat terganggu secara signifikan sehingga menyebabkan hilangnya harga energi. Hal ini akan berdampak signifikan terhadap harga komoditas lainnya,” jelas Bank Dunia.

[Gambas:Video CNN]

(skt/pta)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *