• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi anak menonton TV. Foto: Vach cameraman/Shutterstock
Ilustrasi anak menonton TV. Foto: Vach cameraman/Shutterstock

Baru-baru ini beredar sebuah video di media sosial yang memperlihatkan seorang balita laki-laki naik ke atap rumah di lantai 3. Hal itu dilakukan lantaran terinspirasi video kesukaannya.

Ya, Moms, balita itu memanjat hingga atap rumah karena ingin mencari ayam yang sering ia lihat di salah satu video musik anak.

Awalnya sang ibu mengira buah hatinya itu akan bermain bersama pamannya yang juga sedang berada di kamarnya di lantai atas. Namun, beberapa saat setelah itu, suasana berubah menjadi panik saat ia mendapati putranya tidak ada di lokasi.

@firsialda_

ternyata hal yang menurut kita sbg orangtua “gak membahayakan” itu bisa jadi “bahaya banget” buat pemikiran anak? untuk para orangtua selalu awasi apa yg anak anak kalian lihat ya? hari ini aku bersyukur banget bisa nemuin anakku cuma ngandelin suara nangisnya minta tolong krn gak bisa turun dari atas atap dia di lt.3 ?

♬ suara asli – adit – Hystyle

Berbekal suara tangisan, balita itu akhirnya ditemukan. Video yang diunggah akun TikTok @firsialda itu, juga memperlihatkan sang ayah dan keluarga lainnya yang sedang berusaha naik ke atas atap dengan hati-hati untuk membawa putranya itu turun.

Moms, belajar dari kasus tersebut, Psikolog Anak dan Keluarga, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengingatkan orang tua sebaiknya tidak membiarkan balita menonton TV atau mengakses gadget sendirian. Apa alasannya?

Pentingnya Orang Tua Dampingi Anak saat Menonton

Vera menjelaskan, pendampingan penting dilakukan, pertama agar anak menonton konten sesuai dengan usianya. ‘’Anak di bawah usia 12 tahun sebaiknya tidak ditinggal sendirian di rumah tanpa pengawasan,’’ ujar Vera kepada kumparanMOM.

Kedua, orang tua atau pengasuh bisa menjelaskan pada anak tentang apa yang ditontonnya. Misalnya menjelaskan suatu adegan hanya sebuah fantasi atau rekaan, bukan realita. Sehingga, meski orang tua sudah memastikan tontonan sudah sesuai usia, penting untuk tetap mendampingi.

Orang tua diimbau untuk memberitahu secara langsung pada anak. Misalnya dengan mengatakan ‘’Wah kalau beneran kejadian seperti itu, pasti sakit dan luka. Jadi tidak boleh ditiru, ya.’’

Di sinilah peran orang tua dibutuhkan. Ibu atau ayah bisa menjelaskan alur cerita hingga moral yang diberikan dari tayangan yang ditonton oleh sang anak. Selain itu, mendampingi anak menonton juga bisa meningkatkan ikatan atau bonding antara orang tua dan anak.

‘’Bisa dibandingkan apa yang dia tonton dengan realita, misalnya ingatkan saat anak terjatuh “sakit kan, nak?”. Berbeda dengan apa yang dia lihat di kartun yang cuma gambar, jatuh tidak masalah,’’ tutur Vera.

Orang tua juga dapat mengarahkan anak pada hal yang positif. Dengan memberikan tontonan yang baik, secara tidak langsung Anda sudah memberikan contoh ilmu yang positif melalui tayangan televisi.

Jadi, orang tua diimbau untuk lebih selektif terhadap tontonan anak. Sebab, tidak semua kartun diperuntukkan untuk anak, Moms.


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *