• Oktober 23, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa memberikan sambutan dalam acara Kick Off Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah 2021 di Kantor Bappenas, Jakarta. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa memberikan sambutan dalam acara Kick Off Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah 2021 di Kantor Bappenas, Jakarta. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menargetkan studi kelayakan (feasibility study/FS) pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) di Bali rampung akhir tahun ini.

Suharso mengatakan, studi kelayakan tersebut akan dimulai dengan jarak 6,7 km dengan rute dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Denpasar sampai Central Park Kuta.

"Sedang disiapkan, mudah-mudahan akhir tahun ini bisa selesai," ungkapnya kepada awak media di Hotel Shangri La Jakarta, Senin (23/10).

Meski begitu, Suharso tidak membeberkan lebih lanjut mengenai konsorsium yang tengah melakukan studi kelayakan LRT Bali ini. Menurutnya, hal tersebut bisa ditanyakan kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Kabarnya, studi kelayakan LRT Bali tengah dilakukan oleh konsorsium asal Korea Selatan, terdiri dari Korea Railroad Corporation (Korail) bersama KRC Co., Ltd., Saman Co., Ltd., dan Dongmyeong Co., Ltd.

"Kami di Bappenas, kami hitung ada bagian dari barang publik di sana, misalnya right of way kalau bisa didanai pemerintah. Supaya yang lain, operasinya, Opex, dan investasi seperti signaling dilakukan business based, kalau enggak tiketnya enggak affordable," pungkasnya.

https://www.instagram.com/p/CytLkG9tt3S

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Risal Wasal, mengungkapkan saat ini konsorsium asal Korea Selatan sedang melakukan studi kelayakan dari proyek LRT Bali.

Risal mengatakan, proyek tersebut juga akan mendapatkan pinjaman dari Negeri Ginseng."Jadi itu ada loan (pinjaman) itu dari Korea, termasuk nanti rencana pembangunan fase pertama, tahap satu," ungkap Risal saat dihubungi kumparan, Minggu (22/10).

Meski begitu, Risal belum memastikan apakah konsorsium tersebut akan melanjutkan pembangunan proyek setelah studi kelayakan rampung. Menurutnya, perencanaan ini berada di tangan Kementerian PPN/Bappenas.

"Belum tahu, nanti kita lihat dulu prosesnya, kan sekarang masih FS (studi kelayakan) dulu kelanjutannya seperti apa kita belum tahu. Tunggu Bappenas seperti apa kelanjutannya," ujar Risal.

Selain itu, jumlah pinjaman yang digelontorkan juga harus menunggu rampungnya studi kelayakan. Risal mengatakan proyek ini bersifat unsolicited, di mana suatu proyek infrastruktur yang diinisiasi oleh badan usaha dan proposal yang diajukan oleh badan usaha.

Rencana Studi Kelayakan LRT Bali

Dikutip kumparan dari laman news1.kr, Otoritas Kereta Api Nasional Korea Selatan mengumumkan telah menandatangani kontrak studi kelayakan untuk 'Proyek Light Rail Transit (LRT) Indonesia Bali'.

Studi kelayakan bisnis tersebut mencakup ruas sepanjang 5,3 km dan terdiri dari 4 stasiun, menghubungkan Bandara Internasional Bali ke kawasan wisata Kuta. Proyek tersebut akan dikerjakan bersama selama 10 bulan terhitung Oktober hingga Agustus tahun 2024.

Setelah laporan studi kelayakan disetujui, laporan tersebut akan dipromosikan sebagai proyek yang didukung oleh Dana Kerjasama Ekonomi (EDCF) dan Dana Promosi Kerjasama Ekonomi (EDPF) melalui perjanjian pinjaman antara kedua pemerintah.

Disebutkan bahwa Korea Railroad Corporation mengusulkan proyek pembangunan LRT Bali melalui studi kelayakan awal pada tahun 2021 setelah menandatangani nota kesepahaman (MOU) kerja sama dengan Badan Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2020.


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *