• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi Makan Pizza Foto: RossHelen/Shutterstock
Ilustrasi Makan Pizza Foto: RossHelen/Shutterstock

Setiap makanan, entah itu ramen, pizza, atau makanan lain, yang masuk ke dalam perut kamu akan dicerna dan diproses sampai menjadi kotoran. Pertanyaannya, berapa lama tubuh memproses itu semua?

Untuk menjawab pertanyaan ini ternyata gak sesimpel yang kita pikirkan. Ini akan sangat tergantung pada jenis makanan yang kamu santap.

Menurut Colorado State University, setiap makanan yang kamu santap akan dipecah dan diserap oleh tubuh dengan kecepatan berbeda-beda. Artinya, beberapa makanan mungkin akan masuk ke usus besar, sementara bagian lain masuk ke dalam perut.

Para ilmuwan telah melakukan penelitian untuk menilai “waktu transit usus”, atau berapa lama suatu zat bergerak melalui seluruh saluran pencernaan. Mereka menilai itu dengan menggunakan kapsul yang dapat dimakan dan bisa dilacak saat dia masuk ke tubuh manusia dan melakukan perjalanan.

Beberapa studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa diperlukan waktu antara 0,4 hingga 15,3 jam bagi makanan untuk meninggalkan lambung, dan 3,3 hingga 7 jam untuk melewati seluruh usus kecil. Sisa makanan yang tak dapat dicerna kemudian masuk ke usus besar, di mana mereka bertahan selama kurang lebih 15,9 hingga 28,9 jam, menurut studi yang terbit di Journal of Clinical Medicine pada 2023.

Ilustrasi sistem pencernaan. Foto: sdecoret/Shutterstock
Ilustrasi sistem pencernaan. Foto: sdecoret/Shutterstock

Menurut dr. Nina Nandy, ahli gastroenterologi di Texas dan juru bicara American Gastroenterological Association, makanan kaya serat, protein, karbohidrat kompleks, dan lemak cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan makanan rendah nutrisi.

“Serat pada makanan memperlambat pergerakan makanan melalui saluran pencernaan,” kata dr. Nina sebagaimana dikutip Live Science. “Meski tubuh dapat memproses makanan rendah nutrisi dengan cukup cepat, lambung dan usus kecil tetap membutuhkan waktu lebih lama untuk memecah makanan kaya protein dan lemak menjadi nutrisi yang dapat digunakan oleh tubuh.”

Begitu juga dengan karbohidrat kompleks–seperti yang ditemukan di biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayuran bertepung– membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna ketimbang gula sederhana. Ini karena karbohidrat kompleks terbuat dari bahan yang kompleks terdiri dari tiga jenis molekul gula atau lebih.

“Tubuh harus memecah [karbohidrat kompleks] menjadi gula sederhana sebelum penyerapan dapat terjadi,” kata dr. Nina.

Ilustrasi Makan Sayuran. Foto: Shutterstock
Ilustrasi Makan Sayuran. Foto: Shutterstock

Faktanya, faktor gaya hidup juga memengaruhi “waktu transit usus”. Mengunyah makanan lebih lama dan tetap terhidrasi dapat membantu mempercepat proses pencernaan. Selain itu, olahraga juga dapat membantu meningkatkan motilitas usus dan mendorong gerak peristaltik, yakni kontraksi ritmis otot pencernaan. Sebaliknya, gerak peristaltik dapat melambat selama periode tidak aktif.

Usia dan tingkat stres seseorang juga bisa memengaruhi pencernaan. Seiring bertambahnya usia, orang dewasa akan memproduksi lebih sedikit asam lambung dan enzim pencernaan, sementara usus akan menjadi kurang aktif.

“Stres dan kecemasan juga dapat meningkatkan “waktu transit usus” dengan mengubah motilitas usus dan mengurangi aliran darah gastrointestinal.” kata dr. Nina.

Terakhir, kondisi medis dan pengobatan tertentu dapat mempercepat atau memperlambat pencernaan. Misalnya, diabetes adalah penyebab paling umum dari gastroparesis, yang membuat makanan bertahan lebih lama di perut. Obat-obatan tertentu, termasuk opiat dan obat antikolinergik yang menekan sinyal saraf dan bertanggung jawab atas pergerakan otot, juga dapat memperlambat transit usus dan menyebabkan sembelit.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *