• April 30, 2024
  • ardwk
  • 0


Jakarta, WK MEDIA

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah berhasil melepasliarkan puluhan satwa pembohong ke alam bebas.

Fauna yang dilepasliarkan adalah kera hitam Sulawesi (Macaca tonkeana) dan elang bondol
(Haliastur indus).

Pelepasliaran satwa ini diadakan BKSDA Sulawedi Tengah pada Senin (29/04), di Taman Wisata Alam (TWA) Tokobae, di Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali dengan menggandeng PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang memang punya fokus besar pada program perlindungan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Total sebanyak 21 ekor macaca berhasil dilepasliarkan atau translokasi. Mereka terdiri atas 4 ekor macaca jantan dewasa, 4 ekor macaca jantan remaja, 7 ekor macaca betina dewasa, dan 6 ekor macaca anakan. Translokasi ini dilakukan beberapa tahap.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Poso BKSDA Sulteng Yusry M menyampaikan proses pelepasliaran satwa yang dipersiapkan selama dua minggu melibatkan 25 orang tim BKSDA Sulteng. Translokasi macaca juga dilaksanakan konsultasi dengan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan
Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Sebelum dilepasliarkan kawanan kera hitam macaca atau yang dikenal juga monyet boti menghuni kawasan hutan di Dusun Tabo, Desa Labota, Bahodopi, Morowali. Yusry menjelaskan interaksi macaca dengan manusia yang tinggal di sekitarnya berpotensi menimbulkan konflik, sehingga akan menyebabkan gangguan bagi organisme utamanya bagi ekosistem macaca.

Oleh karena itu, BKSDA Sulteng kemudian melakukan langkah penanganan kerja sama dengan Departemen Lingkungan Hidup PT IMIP. Kerja sama mencakup tiga hal, yaitu penangkapan satwa (handeling), penyelamatan (resque), dan pelepasliaran (release).

“Dalam masa persiapan operasi pelepasliaran, kami memeriksa dan mengamati empat calon lokasi. Lalu dipilih TWA Tokobae sebagai lokasi pelepasliaran,” kata Yusry.

TWA Tokobae merupakan sebuah pulau dengan hutan seluas 891,18 hektare. Lokasinya berjarak sekitar 170 kilometer dari Desa Labota dan seluruh Teluk Tomori.
Dibuka sejak tahun 1989, TWA Tokobae jauh lebih ideal sebagai habitat bagi macaca.

[Gambas:Video CNN]

Kepala BKSDA Sulteng Mulyadi mengatakan populasi hewan macaca di seluruh dunia berjumlah 3.000-an ekor. Sebanyak 23 spesies di antaranya terdapat di Indonesia.

Sementara itu, kata dia, ada 7 jenis spesies yang di antaranya tersebar di Pulau Sulawesi bagian utara, selatan, dan tenggara.

Di area TWA Tokobae sendiri juga dihuni oleh kawanan Macaca tonkeana dan Macaca ochreata.

Sebelumnya, tim BKSDA menangkap puluhan macaca yang berkeliaran di sekitar organisasi warga sejak tahun 2023 menggunakan kandang jebak tradisional dan
modifikasi. Khusus alat perangkap boti di hutan Tabo, tim BKSDA membuat kandang jebak dari besi berukuran panjang sekitar 8 meter dan tinggi 1,5 meter dengan empat
ruang untuk menampung beberapa ekor boti. Umpan makanan bagi boti juga ditebar di sekitar area perangkap, misalnya berupa buah pisang.

Dalam kesempatan yang sama, tim BKSDA juga melepasliarkan tiga ekor burung elang bondol (Haliastur indus). Mulyadi mengatakan keberhasilan pelepasliaran ini berkat
peran serta PT IMIP dan komunitas pecinta lingkungan Morowali, dan warga sekitar Kolonodale dan TWA Tokobae.

Setelah dievakuasi di TWA Tokobae, tim BKSDA Sulteng akan terus menyatukan perkembangan keberlangsungan hidup kera hitam sulawesi ini. Selain itu, empat ekor kera lain yang masih menghuni Hutan Tabo akan dipindahkan pula di lain waktu.

(agt)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *