• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi layanan BRI. Foto: Dok. BRI
Ilustrasi layanan BRI. Foto: Dok. BRI

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Sunarso, menegaskan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 6 persen di Oktober 2023 tidak berdampak negatif kepada kondisi likuiditas perseroan.

Sunarso menuturkan, kenaikan inflasi global terutama di AS mengerek Fed Fund Rate berimbas kepada penguatan nilai tukar dolar AS, sehingga BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 6 persen.

"Nilai tukar tinggi meningkatkan BI rate menjadi 6 persen, dampaknya adalah ke market terjadi pengetatan likuiditas," jelas Sunarso saat konferensi pers kinerja BRI kuartal III 2023, Rabu (25/10).

Kondisi ini dinilai tidak memengaruhi likuiditas BRI, sebab penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI mencatatkan total DPK sebesar Rp 1.290,29 triliun atau tumbuh 13,21 persen (yoy) pada kuartal III 2023.

Sementara rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) BRI terjaga di level 87,76 persen pada kuartal III 2023, dengan CAR (Capital Adequacy Ratio) sebesar 27,48 persen di atas ketentuan regulator.

Dirut BRI Sunarso. Foto: Bank BRI
Dirut BRI Sunarso. Foto: Bank BRI

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) industri perbankan pada Agustus 2023 tercatat sebesar 6,24 persen.

"Sekali lagi tidak ada isu likuiditas, karena industri mampu menunjukkan DPK 6,24 persen, BRI berhasil 13,21 persen. LDR BRI masih berada di level 87,76 persen dan angka ini di atas sedikit LDR industri," tuturnya.

Dengan demikian, secara kualitas modal, BRI berada di atas rata-rata industri perbankan pada umumnya. Sunarso percaya diri angka tersebut membuktikan likuiditas perseroan tidak terdampak kenaikan suku bunga acuan.

"Artinya likuiditas BRI lebih longgar dibandingkan likuiditas rata-rata industri, ke depan bagaimana untuk 3 bulan terakhir kita tetap waspada dan siap-siap kira-kira mood-nya adalah pengetatan likuiditas untuk mengatasi inflasi," pungkas Sunarso.

Sebelumnya, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen di bulan ini. Kenaikan itu di luar ekspektasi pasar karena BI telah menahan suku bunga selama 8 bulan berturut-turut di level 5,75 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo bilang kenaikan suku bunga acuan BI terjadi karena dinamika global bergerak sangat cepat. Bahkan, dia menyebut ada lima hal yang membuat BI menaikkan suku bunga.

Kelima hal itu antara lain, pertama ekonomi global diproyeksi melambat. Kedua, meningkatnya tensi ketegangan geopolitik yang menyebabkan harga minyak dan pangan menguat, karenanya akan memperlambat penurunan inflasi global.

Miyuki, produk olahan nasi kuning milik UMKM binaan BRI. Foto: Bank BRI
Miyuki, produk olahan nasi kuning milik UMKM binaan BRI. Foto: Bank BRI

Ketiga, kenaikan suku bunga itu juga mempertimbangkan suku bunga the Fed yang akan bertahan lebih lama. Mengingat, suku bunga the Fed diproyeksi akan naik lagi di Desember 2023.

Keempat, kenaikan suku bunga global diperkirakan akan diikuti pada tenor jangka panjang dengan kenaikan yield obligasi pemerintah negara maju, khususnya US Treasury. Hal itu disebabkan oleh peningkatan kebutuhan pembiayaan utang pemerintah dan kenaikan premi risiko jangka panjang term premia.

"Implikasi nomor empat ini adalah nomor lima. Sehingga aliran modal itu yang dari negara emerging yang tempo hari mulai stabil bahkan sudah masuk ke Indonesia dan negara-negara emerging market itu kembali banyak kemudian pindah ke negara maju dan juga memperkuat dolar AS," pungkasnya.

https://www.instagram.com/p/Cy0RqemsOHi


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *