• Oktober 21, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi keluarga broken home. Foto: anek.soowannaphoom/Shutterstock
Ketika sebuah keluarga mengalami broken home, yang artinya pernikahan orang tua berakhir dalam perceraian atau pemisahan, ini bisa menjadi sebuah perjalanan emosional yang penuh gejolak bagi anak-anak.

Kali ini kita akan membahas dengan lebih mendalam bagaimana perilaku orang tua dalam situasi broken home dapat memiliki efek jangka panjang yang menghancurkan kesejahteraan mental anak-anak hingga masa dewasa. Untuk pemahaman yang lebih baik, kita akan menggunakan teori attachment sebagai landasan utama.

Teori attachment, yang dikembangkan oleh psikolog John Bowlby, menguraikan pentingnya ikatan emosional yang dibentuk anak-anak dengan figur perawat utama mereka, biasanya orang tua.

Ikatan ini merupakan dasar yang diperlukan untuk perkembangan sosial dan emosional yang sehat. Attachment yang aman memberikan anak perasaan keamanan dan keyakinan bahwa mereka dapat mengandalkan orang tua mereka.

Dampak Orang Tua Broken Home pada Anak

Ilustrasi anak broken home. Foto: CGN089/Shutterstock

Kekacauan Emosional yang Terus-menerus

Dalam situasi broken home, anak-anak sering kali terjebak dalam konflik dan ketegangan emosional antara orang tua mereka. Ini tidak hanya memengaruhi kebahagiaan mereka, tetapi juga perkembangan emosional mereka. Konstan merasakan kekacauan dapat meninggalkan bekas yang mendalam.

Ketidakpastian yang Merayap

Pergeseran antara dua rumah, aturan yang berubah, dan ketidakjelasan mengenai masa depan keluarga dapat menciptakan ketidakpastian yang merayap dalam hidup anak-anak. Mereka mungkin merasa tidak memiliki kendali atas situasi mereka.

Attachment yang Terganggu

Teori attachment menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan orang tua yang konsisten untuk membentuk attachment yang sehat. Orang tua yang terlibat dalam konflik berkepanjangan atau tidak ada secara emosional untuk anak-anak mereka dapat merusak dasar attachment yang aman.

Keterlibatan Anak dalam Konflik Orang Tua

Anak-anak mungkin terjebak dalam konflik orang tua, bahkan menjadi mediator atau saksi. Ini bisa menghasilkan perasaan bersalah yang kuat dan kesulitan dalam mengungkapkan perasaan mereka.

Dampak pada Kesejahteraan Mental Anak hingga Dewasa

Ilustrasi anak terdampak broken home. Foto: Hananeko_Studio/Shutterstock

Dampak dari situasi broken home bisa memengaruhi kesejahteraan mental anak hingga masa dewasa. Beberapa dampak termasuk:

Anak-anak dari broken home mungkin lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi di masa dewasa. Stres dan ketidakpastian selama masa kanak-kanak dapat meninggalkan bekas yang mendalam pada kesejahteraan mental mereka.

Masalah dalam Hubungan Dewasa

Mereka mungkin menghadapi kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan pasangan mereka. Masalah trust, komitmen, atau cara mengatasi konflik mungkin menjadi tantangan.

Sering kali, anak-anak dari keluarga broken home akan cenderung mengulangi pola yang mereka saksikan dengan orang tua mereka dalam hubungan mereka sendiri.

Kehidupan anak dalam keluarga broken home bisa sangat rumit dan berdampak besar pada perkembangan kesejahteraan mental mereka. Teori attachment membantu menjelaskan mengapa attachment yang sehat dengan orang tua sangat penting.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua yang berada dalam situasi broken home untuk mencari bantuan dan dukungan yang sesuai agar mereka dapat membantu anak-anak mereka mengatasi dampak negatifnya dan memastikan masa depan yang lebih stabil secara emosional.

Dengan pemahaman ini, kita dapat berusaha untuk memberikan perlindungan dan dukungan yang diperlukan bagi generasi mendatang.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *