• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi beras SPHP. | Foto : Akbar Maulana/kumparan
Ilustrasi beras SPHP. | Foto : Akbar Maulana/kumparan

Lampung Geh, Bandar Lampung – Perum Bulog Kantor Wilayah Lampung tak menampik adanya potensi praktik pengoplosan beras yang dilakukan oleh oknum yang memanfaatkan keuntungan dari beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Meski begitu, Bulog Lampung mengambil langkah cepat guna mengantisipasi adanya praktik pengoplosan beras tersebut.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Lampung, Bambang Prihatmoko mengatakan, beras SPHP yang disalurkan kepada masyarakat saat ini disebut memiliki kualitas yang baik dan harganya juga dinilai paling murah.

"Harga beras SPHP setinggi-tingginya itu dijual ke konsumen akhir itu Rp 10.900 per kilogram dan itu jauh di bawah rata rata harga beras medium di pasar, hari ini saja sudah mencapai Rp 14.050 ribu per kilogram," kata Bambang Prihatmoko diwawancarai di kantornya, Kamis (19/10).

Dengan kondisi seperti itu, tentu ada potensi oknum tak bertanggung jawab yang memanfaatkan untuk melakukan pengoplosan.

"Tentu ada potensi-potensi oknum yang memang memanfaatkan kondisi ini, tapi Perum Bulog dan kami Kanwil Lampung telah mengantisipasi, kita melakukan penjualan beras SPHP hanya menggunakan kemasan akhir," jelasnya.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Lampung, Bambang Prihatmoko saat memberikan keterangan. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Lampung, Bambang Prihatmoko saat memberikan keterangan. | Foto : Galih Prihantoro/ Lampung Geh

Diungkapkan Bambang, dengan menggunakan kemasan akhir tersebut, maka beras SPHP itu bisa langsung dibeli oleh konsumen atau pembeli akhir.

"Karena kemasan akhir, jadi tidak boleh di salin kembali dalam bentuk apa pun, karena kemasan akhir ini dilindungi Undang-Undang, label kemasan dan lainnya itu sudah diatur di situ," ungkapnya.

Dia berharap dengan antisipasi tersebut, bisa mengurangi potensi adanya pengoplosan beras.

"Kita juga berkoordinasi dengan satgas pangan dan kita melakukan pemantauan dan monitoring, khususnya terhadap pedagang eceran yang menjual beras SPHP ini," ujarnya.

Di sisi lain, terkait adanya isu beras SPHP mengandung sintetis atau plastik, pihaknya memastikan jika beras SPHP yang ada di Lampung tidak mengandung sintetis.

"Kalau isu beras plastik kita sudah melakukan berbagai macam pengujian dan juga beras dari luar negeri itu melalui dua pengujian dari sana dan masuk sini ada Badan Karantina untuk melakukan pengecekan kualitas itu," katanya.

"Jadi dipastikan tidak ada kandungan lain atau kandungan yang berbahaya untuk produk pangan," tandas dia. (Lih/Put)

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *