• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi bunuh diri (Sumber: https://pixabay.com/id/)
Ilustrasi bunuh diri (Sumber: https://pixabay.com/id/)

Dalam sepekan terakhir, kasus bunuh diri dari berbagai daerah di Indonesia marak diberitakan. Pasalnya, bunuh diri terjadi berturut-turut dalam waktu yang relatif singkat, salah satunya di kota Semarang. Selama satu bulan telah terjadi dua kasus bunuh diri mahasiswa di kota tersebut.

Kasus pertama terjadi pada Selasa, 10 Oktober 2023, seorang mahasiswi Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang (Unnes) berinisial NJW, lompat dari lantai 4 Mall Paragon Semarang, Jalan Pemuda. Kasus terbaru terjadi pada Rabu, 11 Oktober 2023, seorang mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) semester 11 berinisal EN, ditemukan tewas di kamar kosnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bunuh diri adalah sebuah aksi untuk mengakhiri hidup diri sendiri yang umumnya disebabkan oleh depresi atau gangguan kejiwaan. Berdasarkan data dari World Trade Organization (WHO), lebih dari 800.000 orang meninggal dunia akibat bunuh diri setiap tahunnya.

Selain itu, menurut data Kepolisian Republik Indonesia (Polri), angka kasus bunuh diri di Indonesia meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Terdapat 663 kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia sepanjang periode bulan Januari-Juli 2023 yang ditunjukkan dengan peningkatan sebesar 36,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2021.

Pandangan masyarakat terhadap bunuh diri tidak lepas dari stigma seputar masalah kesehatan jiwa yang terjadi di lingkungan masyarakat. Sampai saat ini, stigma masyarakat Indonesia terhadap perilaku bunuh diri masih negatif.

Bunuh diri dianggap sebagai suatu aib. Selain itu, empati masyarakat Indonesia terhadap perilaku bunuh diri masih sangat rendah karena banyak masyarakat Indonesia yang menyebarluaskan video berisikan orang yang hendak bunuh diri dan menilai buruk perilaku bunuh diri.

Stigma masyarakat Indonesia inilah yang menyebabkan mereka merasa terisolasi dari lingkungan sekitar karena dijauhi dan dihakimi oleh orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, mereka semakin menutup diri dan menolak bantuan dari pihak lain sehingga beban psikologis mereka menjadi semakin banyak.

Pandangan Islam

Ilustrasi depresi (Sumber: https://pixabay.com/id/)
Ilustrasi depresi (Sumber: https://pixabay.com/id/)

Semua manusia yang hidup di dunia ini pasti mendapat ujian yang berat dan ujian yang dihadapi pasti berbeda-beda. Tetapi, beberapa orang lebih memilih untuk menyerah dan melakukan bunuh diri. Padahal tujuan dari ujian tersebut adalah menguji keimanan dan kesabaran hamba-Nya. Sesungguhnya Allah akan memberikan ujian sesuai batas kemampuan masing-masing hambanya.

Urusan hidup mati adalah milik Allah, manusia hanya diberikan amanat untuk menjaga diri karena sungguh kita semua akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak. Bunuh diri merupakan dosa yang besar. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).

Mereka yang berpikir bahwa jika keluar dari masalah dunia akan membuat hidup mereka menjadi lebih ringan merupakan salah besar. Kenyataannya, masalah akhirat lebih berat daripada masalah di dunia karena semua yang telah ia perbuat di dunia akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat. Azab yang didapat oleh orang bunuh diri akan disiksa dengan bagaimana ia bunuh diri secara terus menerus di neraka dan masuk ke dalam neraka terburuk yaitu neraka jahannam.

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang bersumpah dusta atas nama agama selain Islam, maka dia seperti apa yang diucapkannya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan disiksa dengan benda tersebut di neraka jahannam. Melaknat seorang mukmin sama seperti membunuhnya. Barang siapa yang menuduh seorang mukmin sebagai kafir maka dia seperti telah membunuhnya”.

Solusi yang bisa dilakukan dalam mengatasi masalah yang sedang kita hadapi adalah memperbanyak ibadah dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya, bukan mencari solusi dan lari dari kehidupan dengan bunuh diri.

Pandangan Medis

Ilustrasi bunuh diri (Sumber: https://pixabay.com/id/)
Ilustrasi bunuh diri (Sumber: https://pixabay.com/id/)

Berdasarkan beberapa penelitian dan fakta-fakta yang ada, faktor utama seseorang melakukan bunuh diri yaitu adanya gangguan kesehatan jiwa, seperti depresi dan skizofrenia. Depresi merupakan kondisi di mana seseorang merasa sedih, cemas, dan kesepian yang mendalam hingga merasa kehilangan harapan. Sedangkan skizofrenia merupakan suatu gangguan mental di mana seseorang merasa kesulitan dalam membedakan antara yang nyata dan tidak nyata.

Hal ini tentunya dapat membuat orang tersebut sulit untuk berpikir dengan jernih. Apabila gangguan kesehatan jiwa ini terus bertambah parah, maka besar kemungkinan bahwa orang tersebut akan mencari cara untuk keluar dari situasinya dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

Selain gangguan mental, salah satu faktor penyebab lain seseorang melakukan bunuh diri yaitu penggunaan obat yang disalahgunakan. Seseorang yang mengkonsumsi serta menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang atau narkoba memiliki risiko yang lebih tinggi untuk memiliki keinginan melakukan bunuh diri.

Hal ini karena alkohol dan narkoba dapat mengubah perilaku dan suasana hati seseorang. Kecanduan yang dialami seseorang dapat mengganggu sinyal di otak yang mengendalikan perilaku sehingga ia menjadi bertindak lebih spontan. Hal tersebutlah yang dapat membuat seseorang lebih cenderung berpikir untuk melakukan bunuh diri.

Kita sebagai makhluk Allah tentunya harus memiliki rasa simpati dan empati terhadap sesama serta peka terhadap lingkungan kita. Setidaknya kita bisa membantu menyadarkan mereka yang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Dalam hal ini, kita perlu mengetahui bagaimana tanda-tanda seseorang yang ingin bunuh diri. Salah satu tanda yang mudah untuk kita amati yaitu ketika seseorang sering membicarakan tentang kematian dan keinginan untuk bunuh diri.

Hal ini dapat diawali dengan perilaku membenci dirinya sendiri hingga menarik diri dari orang lain. Apabila keinginan yang ia rasakan meningkat, maka ia akan mencari cara yang mematikan untuk bunuh diri. Misalnya seperti menggantungkan diri, menggunakan senjata tajam, dan lain sebagainya. Di saat inilah mereka membutuhkan bantuan dari kita untuk keluar dari situasi yang di alaminya.

Terdapat beberapa tahapan yang bisa kita lakukan untuk mencegah seseorang bunuh diri. Yang paling utama dalam tahapan ini yaitu kita harus melakukan suatu pendekatan yang dapat membuat orang tersebut merasa nyaman dan aman. Setelah orang tersebut merasa nyaman, barulah kita bisa bertanya dengan baik mengenai pikirannya untuk bunuh diri tanpa menyinggung perasaannya.

Ketika orang tersebut sudah bersedia untuk menceritakan tentang permasalahannya, maka itu tandanya orang tersebut sudah percaya kepada kita. Oleh karena itu, kita harus menjadi seorang pendengar yang baik dan tidak menganggap sepele masalah yang dihadapinya. Selain itu, kita juga harus menjaga privasinya dengan tidak menyebarkan ceritanya secara sembarangan tanpa izin darinya. Dengan cara-cara inilah kita bisa membantu menekan angka bunuh diri di Indonesia.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *