• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Rachel Edri (tengah) selama pertemuan dengan responden pertama Israel, anggota keluarga dan warga lainnya yang terkena dampak langsung serangan Hamas di Tel Aviv, Israel. Foto: Miriam Alster/AP PHOTO
Rachel Edri (tengah) selama pertemuan dengan responden pertama Israel, anggota keluarga dan warga lainnya yang terkena dampak langsung serangan Hamas di Tel Aviv, Israel. Foto: Miriam Alster/AP PHOTO

Seorang nenek berkewarganegaraan Israel bernama Rachel Edri (65) bersama suaminya, David (41), nyaris menjadi tawanan Hamas saat pergolakan bersejarah pecah pada 7 Oktober lalu.

Edri dan David berhasil lolos dari 'korban penculikan' Hamas, usai berada di bawah todongan senjata selama 20 jam di rumah mereka sendiri di Ofakim — sebuah kota yang berjarak sekitar 40 km dari perbatasan dengan Jalur Gaza.

Bagaimana cerita Edri?

Dikutip dari New York Times, Edri menjadi simbol keberlangsungan hidup dari serangan Hamas berkat ketenangannya selama ditahan — dan kemungkinan besar, keputusan Edri untuk menawarkan makanan kepada para penculiknya.

Keselamatan nyawanya, kata Edri, terwujud berkat naluri yang dia punya sebagai seorang nenek untuk menjamin nutrisi orang-orang ditemuinya.

"Bagi saya, siapa pun yang datang ke rumah saya, yang pertama adalah keramahan," kata Edri saat diwawancarai media lokal.

Tentara Israel membawa mayat warga Israel yang dibunuh oleh militan Hamas di kibbutz Kfar Azza, Israel pada Selasa (10/10/2023). Foto: Ohad Zwigenberg/AP Photo
Tentara Israel membawa mayat warga Israel yang dibunuh oleh militan Hamas di kibbutz Kfar Azza, Israel pada Selasa (10/10/2023). Foto: Ohad Zwigenberg/AP Photo

Edri bercerita, kisah yang takkan pernah terlupakan dalam hidupnya ini bermula saat lima orang memanjat masuk ke rumah Edri melalui jendela pada Sabtu (7/10) dini hari. Kelima orang itu, menurut Edri, tampak sudah bersiap membantai dirinya dan David lantaran mereka membawa senjata lengkap dan granat.

Kelima orang itu kemudian meminta Edri dan David untuk pindah ke kamar tidur di lantai atas rumah — perintah itu dituruti. Namun, Edri terus memutar otak mencari cara bagaimana agar bisa tetap bergerak bebas di rumahnya dan bisa mengontrol situasi.

Edri pun mengatakan kepada para 'calon' penculiknya tersebut bahwa dia mengidap penyakit diabetes dan membutuhkan dosis insulin yang ada di kamar mandinya.

Di dalam kepala Edri, dia ingin agar saat polisi datang — kapanpun itu, dia masih dalam kondisi hidup.

Ditawari Coca-Cola

Edri bercerita, dia mulai memperlakukan para penyandera itu seperti 'tamu' — menanyakan tentang keluarga mereka sambil menawarkan kue, teh, kopi, dan bahkan Coca-Cola Zero.

Kelima orang tersebut, menurut Edri, sempat menertawakan tawaran Edri — mereka menginginkan Coca-Cola biasa. "Saya katakan kepada mereka, 'Saya penderita diabetes, saya hanya minum Zero'," ujar Edri sembari tertawa saat diwawancara.

Beberapa jam kemudian, Edri bahkan menawarkan mereka makan siang karena mereka terlihat lapar. "Saat itu jam 4 sore, dan saya berkata dalam hati, 'oy va voy, mereka harus makan siang," katanya.

Siapa pun yang lapar tidak dalam suasana hati yang baik, pikir Edri, dan penting untuk membuat mood para penculiknya baik. "Mereka makan dengan lahap," ungkap dia.

Presiden AS Joe Biden berbincang dengan Rachel Edri selama pertemuan dengan responden pertama Israel, anggota keluarga dan warga lainnya yang terkena dampak langsung serangan Hamas di Tel Aviv, Israel. Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS
Presiden AS Joe Biden berbincang dengan Rachel Edri selama pertemuan dengan responden pertama Israel, anggota keluarga dan warga lainnya yang terkena dampak langsung serangan Hamas di Tel Aviv, Israel. Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS

Dengan memperlakukan kelima orang itu layaknya tamu dan bukan orang asing, Edri mempertahankan semacam kontrol atas situasi sehingga memungkinkan mereka membangun hubungan 'santai'.

Di tengah jerih payahnya untuk bersikap tenang selama ditahan, Edri untungnya mampu diam-diam memberi tahu putranya yang seorang polisi, Evi Edri, bahwa ada lima orang penyandera di rumah mereka.

Keesokan harinya pada Minggu (8/10), Edri dan David diselamatkan sementara semua penyandera mereka terbunuh. Banyak warga Israel berpegang pada kisah bertahan hidup yang tidak biasa.

Rachel Edri dan suaminya, David, adalah salah satu korban yang selamat dari serangan Hamas. Kisah Edri terdengar hingga ke seantero Israel.

Edri pada Rabu (18/10) diundang bertemu secara tatap muka dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden di Tel Aviv. Edri dan Biden lalu berpelukan, menutup kisah yang bakal menjadi inspirasi di tengah rasa tragedi dan kesedihan mendominasi.

Presiden AS Joe Biden memeluk Rachel Edri selama pertemuan dengan responden pertama Israel, anggota keluarga dan warga lainnya yang terkena dampak langsung serangan Hamas di Tel Aviv, Israel. Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS
Presiden AS Joe Biden memeluk Rachel Edri selama pertemuan dengan responden pertama Israel, anggota keluarga dan warga lainnya yang terkena dampak langsung serangan Hamas di Tel Aviv, Israel. Foto: Evelyn Hockstein/REUTERS

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *