• Oktober 22, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi nyeri sendi. Foto: Sasin Paraksa/Shutterstock.
Perkembangan zaman dan teknologi membuat anak muda zaman sekarang rentan mengalami nyeri sendi. Kalimat itu diucapkan oleh dr. Erick Wonggokusuma, Sp.OT., dokter spesialis orthopedi dan traumatologi di RS Eka Hospital, saat melakukan sesi wawancara bersama kumparanSAINS, Jumat (20/10).
Roy dan Arif adalah dua di antara anak muda yang mengalami masalah nyeri sendi itu. Roy merupakan seorang guru di sekolah dasar negeri di Lembang, Bandung Barat. Sementara Arif, adalah karyawan swasta di sebuah perusahaan di Jakarta. Keduanya masih berusia 30-an tahun, tapi sudah mengalami nyeri sendiri yang terbilang cukup serius.

Roy mengalami nyeri sendi di bagian leher belakang. Kalau sedang kumat, Roy sampai gak bisa nengok karena leher terasa sakit dan berat. Begitu pula Arif, dia mengalami masalah nyeri sendi pada dengkulnya. Arif bilang kalau lagi mengejar kereta, dengkulnya sering terasa nyeri sampai ngilu. Keduanya memiliki persamaan, sama-sama gak pernah olahraga.

dr. Erick mengatakan nyeri sendi sebenarnya bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Paling sering akibat pengapuran. Ini terjadi ketika orang memasuki usia lanjut. Nyeri sendi juga bisa disebabkan oleh infeksi, salah satunya adalah penyakit TBC dan tumor. Penyakit metabolisme terkadang juga bisa menyebabkan nyeri sendi.

Ilustrasi nyeri leher.
Foto: Olena Yakobchuk/Shutterstock.

Namun, kata Erick, perkembangan zaman dan teknologi membuat anak muda zaman sekarang memang lebih rentan terkena nyeri sendi. Bukan tanpa alasan, ini karena gaya hidup kurang sehat yang dilakukan banyak orang.

Penyebab nyeri sendi pada dewasa muda bisa dikategorikan dalam dua hal: Nyeri sendi akibat cedera dan nyeri sendi akibat non-cedera. Nyeri sendi karena cedera biasanya disebabkan oleh berbagai hal, seperti cedera olahraga, cedera karena kecelakaan, keseleo dan lain-lain.

Namun, yang sering menjadi masalah adalah nyeri sendi yang bukan berasal dari cedera, melainkan disebabkan oleh faktor lain, seperti kurang bergerak dan olahraga sehingga membuat sendi kaku karena cairan sinovial berkurang. Sendi kaku juga bisa disebabkan karena duduk terlalu lama akibat bekerja yang tak kenal waktu.

“Semenjak COVID-19, pekerjaan itu sering kali gak putus karena dulu kita bisa rapat, ada jamnya. Sekarang karena ada zoom, WA (WhatsApp), itu seolah-olah pekerjaan itu tidak kenal waktu dan ruang lagi,” papar dr. Erick.

Ditambah, gaya hidup yang tidak baik seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan makanan tinggi lemak dan gula, bisa meningkatkan risiko nyeri sendi.

Faktor ketiga adalah stres kerja. Stres bisa membuat otot menjadi tegang, sendi-sendi menjadi kaku, dan meningkatkan zat-zat radang di dalam tubuh karena perubahan hormon stres saat bekerja.

“Jadi menurut saya penyebab nyeri sendi pada dewasa muda itu cenderung lebih kompleks daripada nyeri sendi yang terjadi pada usia lebih lanjut,” papar dr. Erick.

dr. Erick Wonggokusuma, Sp.OT Foto: Dok. Istimewa

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika seseorang mengalami nyeri sendi. Berikut caranya:

Tips terhindar dari nyeri sendi

Nyeri sendi yang dialami Roy bisa jadi karena berbagai faktor, salah satunya duduk dalam waktu lama dan jarang olahraga, atau konsumsi makanan dan gaya hidup yang kurang sehat. dr. Erick menyarankan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari nyeri sendi. Berikut caranya:

“Kalau penyakitnya sudah berat, mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari ada, baiknya konsul ke profesional, ke tenaga kesehatan untuk gejalanya, dan mencegah hal-hal buruk serta berlarut-larut terjadi,” kata dr. Erick.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *