• April 29, 2024
  • ardwk
  • 0


Samosir, WK MEDIA

Nomor ekonom memproyeksi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) tidak akan berpengaruh kepada pemilik kredit rumah (KPR).

BI diketahui menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin ke level 6,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 23-24 April 2024.

Kemudian, suku bunga fasilitas simpanan juga naik 25 basis poin menjadi 5,5 persen dan suku bunga fasilitas pinjaman naik 25 basis poin menjadi 7 persen.

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Chief Economist PT Bank Central Asia (BCA) David E Sumual menuturkan secara historis kenaikan suku bunga BI tidak berdampak pada bunga KPR.

Berdasarkan catatannya, meski suku bunga BI naik 275 bps sejak Agustus 2022, bunga KPR malah turun 58 bps. Menurutnya, hal ini terjadi karena faktor persaingan antara bank di sektor tersebut.

Oleh karena itu, pihak perbankan berpikir bolak-balik untuk menaikkan bunga KPR karena takut kehilangan nasabah.

“Jadi (perbankan) bermain di ceruk yang sama sehingga susah sekali mengikuti kebijakan BI rate,” kata David kepada wartawan di Samosir, Sumatera Utara, Minggu (28/4).

Dihubungi secara terpisah, Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga menyebut kenaikan suku bunga acuan BI tak serta merta mengerek cicilan KPR.

Menurutnya, jika pun cicilan KPR naik, kenaikannya tidak akan lebih tinggi dari suku bunga BI serta membutuhkan waktu.

“Penyesuaian suku bunga kredit terutama KPR bagi yang debitur menarik kredit KPR tentunya tidak akan terkena dampak karena debitur masih dalam masa masa tenggang/tetap kecepatan dalam 1-2 bulan pertama,” kata Josua kepada CNNIndonesia.com.

Ia menilai keputusan BI untuk menaikkan BI-rate bulan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, yang saat ini penuh dengan apartemen, dibandingkan dengan kondisi domestik.

[Gambas:Video CNN]

Dari sisi inflasi, dalam jangka pendek, terutama pada semester pertama 2024, diperkirakan akan tetap tinggi karena peningkatan inflasi pangan terkait fenomena El Niño.

Namun, saya tidak mengantisipasi bahwa tekanan inflasi pangan akan mulai berkurang pada tahun ini. Ketahanan eksternal dari sisi neraca perdagangan juga masih cukup kuat.

Hal ini sejalan dengan berlanjutnya surplus perdagangan hingga kuartal I 2024, meskipun dalam tren yang menurun. Kami melihat pelebaran defisit transaksi berjalan (CAD) tahun ini masih dalam tingkat yang wajar dan terkendali.

“Oleh karena itu, kami melihat keputusan untuk menaikkan BI-rate pada bulan April 2024 terutama ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah untuk memitigasi risiko inflasi impor dan mengurangi arus keluar modal dari pasar portofolio,” ucap Josua.

(mrh/agt)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *