• Oktober 28, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

BBC Travel berbincang dengan para penduduk di empat negara dengan peringkat kesetaraan gender terbaik untuk mencari tahu bagaimana rasanya tinggal di sana.

Bagaimana negara-negara di dunia menerapkan kesetaraan gender? Menurut Forum Ekonomi Dunia (WEF), gambarannya beragam. Berdasarkan laporan Kesenjangan Gender Global terbaru, jarumnya bergerak ke arah yang benar, tetapi secara bertahap.

Berdasarkan tingkat kemajuan yang ada saat ini, laporan itu menemukan bahwa diperlukan waktu 131 tahun untuk mencapai kesetaraan penuh antara perempuan dan laki-laki (laporan ini tidak memperhitungkan identitas non-biner atau identitas lainnya). Dan belum ada negara yang mencapai kesetaraan gender sepenuhnya.

Meskipun negara-negara di Eropa dan Amerika Utara cenderung menerapkan kesetaraan gender yang lebih baik dibandingkan negara-negara lain di dunia, tapi terdapat banyak variasi.

Amerika Serikat, misalnya, berada di peringkat ke-43, dengan poin kesenjangan gender yang sudah tertutup kurang dari 75%, tertinggal dari negara-negara seperti Kolombia, Belarusia, Liberia, dan Cabo Verde.

Australia (77,8%) berada di peringkat ke-26, di antara Mozambik dan Chili, dan Kanada (77%) berada di peringkat ke-30, di antara Slovenia dan Barbados.

Laporan itu mempertimbangkan aspek-aspek seperti partisipasi perempuan dalam bidang ekonomi (termasuk kesenjangan gender dalam pendapatan, pekerjaan dan peran kepemimpinan), pencapaian pendidikan (dengan ukuran seperti tingkat melek huruf dan partisipasi pendidikan), kesehatan dan kelangsungan hidup (seperti harapan hidup), dan pemberdayaan politik (keterwakilan perempuan di parlemen, posisi menteri dan masa jabatan kepala negara laki-laki atau perempuan).

Berdasarkan data itu, negara mana saja yang memiliki kesetaraan gender terbaik – dan menurut para perempuan, bagaimana rasanya tinggal di sana?

BBC Travel berbincang dengan para penduduk dan ekspatriat di empat negara peringkat teratas untuk lebih memahami bagaimana rasanya bepergian atau pindah ke negara-negara tersebut.

Selain menduduki peringkat teratas dalam laporan Kesenjangan Gender Global, Islandia juga menempati peringkat salah satu negara paling damai di dunia.
Selain menduduki peringkat teratas dalam laporan Kesenjangan Gender Global, Islandia juga menempati peringkat salah satu negara paling damai di dunia.

Islandia

Selama 14 tahun berturut-turut, Islandia menempati posisi teratas dalam peringkat WEF, dengan kesenjangan gender yang sudah tertutup diperkirakan sebesar 91,2%. Ini adalah satu-satunya negara yang berhasil menutup lebih dari 90% kesenjangannya.

Namun, gambaran indahnya tergantung pada apa sebenarnya yang Anda lihat.

Dalam laporan WEF, Islandia menduduki peringkat pertama dalam hal pemberdayaan politik, dengan fakta hampir 25 dari 50 tahun terakhir terdapat kepala negara perempuan dan 48% anggota parlemennya adalah perempuan, misalnya.

Namun, negara ini menduduki peringkat ke-79 dalam pencapaian pendidikan dan peringkat ke-128 dalam hal kesehatan dan kelangsungan hidup perempuan.

Bahkan dalam pengukuran di mana Islandia menunjukkan kinerja yang baik, seperti kesenjangan upah, gambaran sehari-harinya lebih rumit, kata Hulda Tolgyes, psikolog dari Islandia.

Kesenjangan upah antar gender di Islandia lebih kecil dibandingkan kebanyakan negara lain, hal ini sebagian disebabkan oleh undang-undang tahun 2018 yang menyatakan bahwa perusahaan dengan lebih dari 25 karyawan harus memberikan upah yang sama untuk pekerjaan yang setara (atau berisiko terkena denda harian).

Namun, Tolgyes mengatakan dia sering ditawari uang yang lebih rendah sebagai pembicara dibandingkan suaminya, bahkan ketika mereka ditawari oleh perusahaan yang sama.

Sebenarnya, itu adalah sebuah kejadian umum yang menurut Tolgyes pasti memiliki unsur seksisme.

“Melihat keadaan yang sebenarnya di sini membuat saya sangat frustrasi sebagai seorang feminis,” katanya.

"Kita punya presiden perempuan. Kita punya perdana menteri perempuan. Tapi apa yang saya lihat adalah perempuan-perempuan yang lelah karena dituntut bisa melakukan semuanya."

Meski begitu, kata perempuan Islandia, masih banyak hal yang patut diapresiasi.

Ibu Negara Islandia Eliza Reid, seorang emigran Kanada ke Islandia yang menulis buku Secrets of the Sprakkar: Iceland's Extraordinary Women and How They Are Changing the World, mengatakan putrinya memiliki nama belakangnya, bukan nama suaminya.

Dia juga mengatakan suaminya mengambil cuti ayah selama beberapa bulan di setiap kelahiran anak-anaknya, misalnya. Bersama Tolgyes, dia setuju bahwa perjalanan Islandia masih panjang – Islandia bukanlah "surga gender".

Namun, tulisnya, ini adalah "masyarakat di mana perempuan diperlakukan setara dengan laki-laki, atau, setidaknya, ada niat untuk melakukan hal tersebut".

Bagi semua jenis kelamin, ada manfaat lain bagi kehidupan di Islandia, di antaranya, Islandia menduduki peringkat sebagai salah satu negara paling bahagia dan paling damai di dunia.

Selain menduduki peringkat teratas dalam laporan Kesenjangan Gender Global, Islandia juga menempati peringkat salah satu negara paling damai di dunia.
Selain menduduki peringkat teratas dalam laporan Kesenjangan Gender Global, Islandia juga menempati peringkat salah satu negara paling damai di dunia.

Norwegia

Norwegia menempati peringkat kedua dalam peringkat WEF 2023, dengan kesenjangan gender global yang sudah tertutup diperkirakan sebesar 87,9%. Negara ini juga menduduki peringkat pertama dalam Indeks Perdamaian dan Keamanan Perempuan tahun 2021.

Kinerja tinggi ini tidak mengherankan, kata Thea Ringseth, penduduk asli Norwegia yang pernah tinggal di berbagai wilayah di negara ini, termasuk Oslo dan Trondheim.

“Kesetaraan gender cukup terlihat di Norwegia,” jelasnya. “Ada lebih banyak perempuan yang menduduki jabatan yang biasanya dipegang oleh laki-laki, seperti perdana menteri kita, yang selama delapan tahun terakhir adalah perempuan, dan ada banyak pemimpin perempuan di pemerintahan dan posisi penting lainnya.”

Secara khusus, Norwegia memiliki lebih banyak keterwakilan perempuan dalam posisi kementerian dibandingkan negara lain.

Di luar politik, Norwegia memiliki kinerja yang sangat baik dalam hal literasi perempuan (peringkat pertama), jumlah pekerja profesional dan teknis perempuan (juga peringkat pertama), dan kesetaraan pendapatan (peringkat keenam).

Tentu saja, Norwegia belum mencapai kesetaraan gender 100% – dan hal ini masih terlihat dalam sikap masyarakat.

“Jika anak Anda sakit, misalnya, biasanya ibunyalah yang tinggal di rumah,” kata Ringseth. "Tetapi menurut saya, hal-hal ini tidak terjadi, terutama pada orang-orang yang berasal dari Norwegia."

Sementara itu, ada fokus pada kebebasan dan pemberdayaan bagi seluruh warga negara Norwegia yang sangat dijunjung tinggi oleh Ringseth.

“Sebagai masyarakat, pemenuhan kebutuhan, pendidikan, karier, kebutuhan sosial dan ekonomi Anda [sebagai seorang perempuan] adalah hal yang wajar,” katanya.

"Bersemangat, berorientasi pada karier, ambisius – hal ini dipandang sebagai sesuatu yang positif."

Berada di peringkat keempat dalam laporan tersebut, Selandia Baru mendapat nilai sangat tinggi dalam hal keterwakilan perempuan dalam politik.
Berada di peringkat keempat dalam laporan tersebut, Selandia Baru mendapat nilai sangat tinggi dalam hal keterwakilan perempuan dalam politik.

Selandia Baru

Selandia Baru berada di urutan keempat dalam laporan WEF secara keseluruhan. Hal ini menjadikannya negara dengan penerapan kesetaraan gender terbaik di belahan Bumi selatan.

Kinerjanya sangat baik dalam hal keterwakilan politik, dengan 50% anggota parlemennya adalah perempuan, sementara partisipasi perempuan di pendidikan dasar dan menengah hampir setara dengan laki-laki.

Jessica Vredenburg, warga Kanada yang tinggal di Selandia Baru sejak 2016, adalah profesor pemasaran di Auckland University of Technology. “Menurut pengalaman saya, setidaknya di sekolah bisnis, kesenjangan gender cukup merata,” katanya.

"Di departemen pemasaran kami… bahkan mungkin lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Dekan saya perempuan. Sebagian besar kolega saya perempuan."

Dia tidak merasa pernah mempunyai peluang karier yang kurang setara dibandingkan rekan-rekan prianya.

Tentu saja, seperti di negara-negara lain, Selandia Baru jauh dari sempurna. WEF menemukan bahwa perempuan memperoleh rata-rata $33,620 per tahun dibandingkan dengan $52,370 untuk laki-laki, misalnya, dan dalam hal kesetaraan upah untuk pekerjaan yang setara, negara ini menempati peringkat ke-37.

Angka harapan hidup perempuan juga relatif buruk, yaitu peringkat 109 di dunia. Statistik menunjukkan populasi penduduk asli Māori berada pada risiko tertentu, dengan harapan hidup perempuan Māori hampir tujuh tahun lebih pendek dibandingkan perempuan non-Māori.

“Pengalaman saya mungkin berbeda untuk seseorang yang memiliki latar belakang Kepulauan Pasifik atau Māori,” kata Vredenburg.

Terlepas dari kesetaraan gender, penduduk mengatakan ada banyak alasan untuk merasa senang tinggal di Selandia Baru. Keindahan alam, mulai dari pegunungan hingga pantai, menjadi satu kesatuan.

Ukuran negaranya yang kecil dan mudah untuk pergi ke mana saja adalah hal yang lain lagi.

“Orang-orangnya sangat menikmati olahraga dan berkumpul – ini adalah budaya berkumpul bersama teman-dan-keluarga, pesta barbeku yang sangat saya nikmati,” kata Vredenburg.

Namibia

Negara ini adalah atu-satunya negara Afrika yang masuk dalam 10 besar. Kesenjangan gender Namibia diperkirakan telah tertutup sebesar 80,2%, menempatkannya pada posisi kedelapan.

Artinya, negara ini mengungguli banyak negara di belahan dunia lain, termasuk Inggris (peringkat 15, 79,2%), Spanyol (peringkat 18, 79,1%), Kanada (peringkat 30, 77%), dan Amerika Serikat (peringkat 43, 74,8%).

Peringkat negara ini masuk akal bagi Penohole Brock, mantan pelatih sensitivitas gender di Kementerian Hubungan Internasional dan Kerja Sama asal Namibia.

"Banyak menteri kami adalah perempuan. Banyak duta besar kami adalah perempuan. Dan rekan kerja saya, menurut saya, tidak menghadapi diskriminasi dalam hal jenjang karier – dalam hal ini, ini merupakan lingkungan kerja yang sangat sehat," kata Brock.

Namun, representasi hanyalah bagian dari kesetaraan. “Kesetaraan gender adalah sebuah langkah besar ke arah yang benar. Tapi, sekarang saatnya untuk melihat dan menganalisis, 'Oke, lalu apa yang didukung oleh suara-suara perempuan ini?',” katanya.

Dalam hal kekerasan berbasis gender dan pelecehan seksual, “perjalanan kami masih cukup panjang”.

Indeks Perdamaian dan Keamanan Perempuan tahun 2021, misalnya, menempatkan Namibia di peringkat ke-95, di belakang negara-negara Afrika lainnya termasuk Mauritius, Rwanda, Afrika Selatan, dan Ghana.

Namun Brock, yang juga pernah tinggal di Afrika Selatan dan Paris, mengatakan dia tidak ingin tinggal di tempat lain.

“Orang-orangnya, musiknya, energinya – saya menyukainya. Sangat beragam. Setiap daerah sangat berbeda,” katanya. "Saya melihat begitu banyak potensi di Namibia. Ini adalah tempat yang menakjubkan."

Living In adalah serial dari BBC Travel yang mengungkap bagaimana rasanya tinggal di beberapa destinasi top dunia.

———————

Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul The world's most gender-equal countries dapat anda baca di BBC Travel.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *