• Oktober 25, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi gangguan mental erotomania. Foto: mentatdgt/Shutterstock
Ilustrasi gangguan mental erotomania. Foto: mentatdgt/Shutterstock

Saat berinteraksi dengan seseorang secara intens alias sedang pendekatan, kamu mungkin pernah merasa si dia memendam rasa sayang atau cinta untukmu. Padahal, bisa jadi hal itu hanyalah perasaanmu saja, Ladies.

Hati-hati, ya, menganggap seseorang menaruh perasaan padamu, padahal sebenarnya tidak, bisa jadi merupakan salah satu kondisi gangguan mental yang disebut dengan erotomania. Saat mengidap erotomania, kamu menganggap orang yang sedang dekat denganmu atau seseorang dengan status sosial lebih tinggi, seperti artis, menyukaimu.

Mengutip Women’s Health, erotomania juga disebut dengan sindrom clerambault. Kondisi ini ditemukan pada 1885 oleh psikiater asal Prancis, GG De Clerambault, setelah mengamati seorang perempuan yang mengira seorang laki-laki dengan status sosial atau profesi lebih tinggi jatuh cinta padanya.

Ilustrasi perempuan memendam rasa suka pada pria. Foto: Makistock/Shutterstock
Ilustrasi perempuan memendam rasa suka pada pria. Foto: Makistock/Shutterstock

Menurut psikiater di New York City dan instruktur klinis di Yale University School of Medicine, Gauri Khurana, MD, MPH, gangguan delusi erotomania sebenarnya termasuk kasus yang jarang terjadi, dengan prevalensi sebesar 0,2 persen.

Kondisi ini dianggap lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Seseorang dengan erotomania biasanya berusaha keras untuk melakukan kontak dengan orang yang disukainya, misalnya dengan menguntit.

“Sering kali kedua individu tersebut belum pernah bertemu di kehidupan nyata atau memiliki riwayat interaksi, tapi hanya sekilas, sehingga tidak menjamin adanya perasaan tertentu,” ujar Gauri.

Karena hal itu, Gauri mengatakan erotomania bisa dianggap sebagai kecanduan terhadap manusia lainnya. Kadang-kadang kondisi ini juga bisa berkembang menjadi obsesi dengan penuh kekerasan saat pengidap erotomania mengejar orang yang disukainya.

Penyebab erotomania

Ilustrasi perempuan. Foto: NaruFoto/Shutterstock
Ilustrasi perempuan. Foto: NaruFoto/Shutterstock

Gangguan delusi erotomania seringnya diakibatkan oleh pengabaian dari seseorang. Itu memicu trauma yang kompleks dan sulit terselesaikan. Rasa percaya diri yang buruk, introvert, tidak memiliki pengalaman secara seksual, atau perasaan terisolasi juga bisa menyebabkan erotomania, Ladies.

Meskipun erotomania bisa terjadi dengan sendirinya, hal ini juga bisa dikaitkan dengan masalah kesehatan mental lain, seperti skizofrenia dan bipolar, seperti dikutip dari Web MD. Kondisi tersebut bisa berlangsung selama berminggu-minggu hingga bertahun dengan intensitas yang berubah-ubah, namun khayalan dan obsesinya berfokus pada percintaan.

Misalnya, seseorang mengira rekannya sedang menggodanya, padahal sebenarnya itu tidak benar. Nah, seiring berjalannya waktu, ia akan semakin yakin dengan gagasan tersebut, terutama jika sering menghabiskan banyak waktu sendirian sehingga ada kesempatan untuk mengkhayal lebih lama.

Ilustrasi gangguan mental erotomania. Foto: Shutterstock
Ilustrasi gangguan mental erotomania. Foto: Shutterstock

Tapi, anehnya, penderita erotomania punya anggapan bahwa mencintai dan memiliki seseorang di dalam hidupnya bukanlah hal yang mungkin untuk terjadi padanya. Oleh sebab itu, ia lebih senang hidup di dunia fantasi yang tidak akan pernah menyakitinya.

“Sebenarnya terlalu banyak rasa sakit yang tidak bisa mereka tangani sehingga orang tersebut mulai menghuni dunia fantasinya (khalayan erotomanik) yang merupakan satu-satunya dunia di mana mereka akan merasa benar-benar dicintai, aman, dan bahagia,” pungkas Gauri.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *