• Oktober 23, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi demo terarah yang dilakukan oleh mahasiswa. Foto: Shutterstock.
Ilustrasi demo terarah yang dilakukan oleh mahasiswa. Foto: Shutterstock.

Waktu pemilu semakin dekat. Setiap rakyat berhak memilih siapapun. Begitu juga dengan para generasi muda yang cerdas, termasuk mahasiswa. Namun, apa yang membedakan mahasiswa dengan pemilih biasa?

Mahasiswa. Sosok pemilih yang independen. Mereka tidak mendapatkan "hadiah" dari sosok yang dipilihnya. Dalam hal ini, sifat independen itu ternyata melahirkan sebuah peperangan.

Jika tidak mendapatkan apapun, "lantas atas dasar apa aku harus memilih dia?" Pertanyaan ini muncul begitu saja di dalam pikiran setiap mahasiswa. Pertanyaan inilah yang menjadi dalang dari terjadinya "pertengkaran pikiran".

Sebagai perbandingan, mahasiswa di zaman dulu hanya seperti memegang tongkat kayu kecil. Sedangkan mahasiswa di zaman ini seperti dibekali bom atom. Jika beberapa dekade lalu mahasiswa dengan segala keterbatasan nya berhasil mencetak sejarah, maka prestasi apa yang dapat ditorehkan oleh mahasiswa di zaman ini.

Namun, satu hal yang pasti, semua bermula dari satu muara: pertengkaran pikiran. Pertengkaran pikiran yang berhasil membangkitkan daya berpikir untuk membedakan mana hal yang salah dan benar serta keberanian untuk "melawan".

Menjelang pemilu 2024, pertengkaran pikiran kini hampir mencapai puncaknya. Mahasiswa dari berbagai daerah yang dikonsolidasi oleh organisasi internal kampus mulai menunjukkan buah dari pertengkaran pikiran tersebut.

Ilustrasi Partai Peserta Pemilu Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Ilustrasi Partai Peserta Pemilu Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Arena adu gagasan, tulisan-tulisan tajam nan berisi, serta demo secara terarah adalah bukti dari komitmen tersebut. Semua mengarah pada satu hal, ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang dijalankan petahana.

Mahasiswa tidak pernah secara gamblang menyatakan mendukung pihak oposisi manapun. Namun, mereka dengan jelas menuntut perubahan pada petahana. Setelah hampir 10 tahun berlalu, perubahan yang diinginkan tersebut nyatanya tidak pernah benar-benar terwujud.

Janji-janji kampanye terhadap komitmen penghapusan korupsi, ketahanan pangan, tanggung jawab terhadap fakir miskin dan anak telantar, serta banyak lagi, tidak pernah benar-benar ingin ditunaikan.

Melihat fenomena ini, petahana membuktikan sendiri kepada para mahasiswa bahwa mereka tidak layak lagi untuk didukung untuk terus menguasai pemerintahan, memberikan kesempatan pada pihak oposisi, mau tidak mau menjadi pilihan terakhir.

Sejauh ini telah ada dua pasangan capres dan cawapres yang telah terdaftar secara resmi di KPU. Keduanya adalah pasangan Anies Rasyid Baswedan-Muhaimin Iskandar yang berasal dari kubu oposisi dan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang datang dari kubu petahana.

Satu pasangan lagi yaitu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang dijadwalkan bakal mendaftar ke KPU pada 25 Oktober mendatang. Setelah Prabowo terafiliasi dengan kubu petahana, publik memandang peran kubu Prabowo sebagai oposisi hilang. Ditambah lagi cawe-cawe yang ditunjukkan oleh Presiden Jokowi.

Ilustrasi politik identitas. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi politik identitas. Foto: Shutter Stock

Menuntut perubahan pada petahana, berarti juga turut meminta pertanggung jawaban presiden atas semua kebijakan dan tindakan yang telah diambil selama satu dekade terakhir di negeri ini. Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa pada Jumat (20/10/2023), terutama kericuhan yang terjadi di depan Istana Negara, mencerminkan ketidakpuasan mahasiswa terhadap berbagai isu.

Mulai dari hukum, HAM, komersialisasi pendidikan, hingga investasi yang dinilai mengabaikan hak rakyat. Ini menjadi bukti nyata bahwa desakan tersebut bukan hanya ungkapan semata, tetapi refleksi dari kepedulian para mahasiswa atas masa depan bangsanya.

Mahasiswa di negeri ini, telah menunjukkan keberanian dan kepedulian mereka dalam memberikan kritik dan harapan terhadap pemerintah. Mereka mengejar idealisme dan visi tentang Indonesia yang lebih baik, yang didasari oleh kejujuran, integritas, dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Jika pemilu dianggap sebagai perwujudan dari pesta demokrasi, maka kehadiran mahasiswa sebagai generasi muda di tengah arena tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi harus berjalan pada jalur yang benar, di mana kepentingan rakyat diletakkan di atas segalanya.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *