• Oktober 28, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi Majelis Umum PBB. Foto: TIMOTHY A. CLARY/AFP
Ilustrasi Majelis Umum PBB. Foto: TIMOTHY A. CLARY/AFP

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut RI menyambut baik disahkannya desakan gencatan senjata untuk kemanusiaan di Jalur Gaza. Desakan ini disahkan oleh Majelis Umum PBB untuk menyikapi situasi terkini di Jalur Gaza, Jumat (27/10).

"Indonesia termasuk salah satu co-sponsor resolusi tersebut. Hasil voting, 120 mendukung, termasuk Indonesia; 14 menolak, dan 14 abstain," tulis Kemlu melalui akun X resmi mereka, Sabtu (28/10).

Dalam resolusi Majelis Umum PBB itu, mereka juga meminta agar akses bantuan ke Jalur Gaza yang selama ini diblokade oleh Israel dibuka dan warga sipil di sana diberikan perlindungan. Israel memang telah menutup seluruh akses kemanusiaan, termasuk makanan hingga bahan bakar, di wilayah Gaza.

Dari 14 suara yang menolak, dua di antaranya adalah Israel dan Amerika Serikat. Israel bahkan marah dan menyebut desakan ini adalah bentuk "penghinaan" terhadap mereka.

Warga Palestina berlarian di lokasi serangan Israel terhadap rumah-rumah, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan, Kamis (26/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS
Warga Palestina berlarian di lokasi serangan Israel terhadap rumah-rumah, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan, Kamis (26/10/2023). Foto: Mohammed Salem/REUTERS

"Ini adalah hari yang kelam bagi PBB dan umat manusia," kata Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan.

Ia bersumpah negaranya akan menggunakan segala macam cara untuk memerangi Hamas.

"Hari ini adalah hari yang akan dianggap keburukan. Kita semua telah menyaksikan bahwa PBB tak lagi memiliki legitimasi atau relevansi sedikit pun," ungkapnya.

Bukannya melakukan gencatan, Israel bahkan melipat gandakan serangannya di Jalur Gaza. Pada Sabtu (28/10) dini hari, jet tempur Israel membombardir wilayah sekitar RS Indonesia di sana.

Israel selama ini mengeklaim serangan mereka ke Jalur Gaza dan Tepi Barat sebagai upaya memerangi Hamas dan membalas serangan Hamas pada 7 Oktober lalu. Namun sejak hari itu hingga 26 Oktober sore, di Jalur Gaza saja sudah ada 7.028 orang yang tercatat tewas.

Dari jumlah itu, sebanyak 2.913 merupakan anak-anak; dan 3.129 adalah perempuan. Selain itu masih ada 1.600 orang lainnya yang tertimbun di bawah puing-puing dan kemungkinan besar sudah tewas.

Serangan Israel juga menargetkan sejumlah rumah sakit hingga tempat beribadah, termasuk Gereja Santo Porfiri yang merupakan gereja Ortodoks tertua di Palestina dan tertua kedua di dunia. Israel juga memutus jalur pangan, listrik, air, hingga komunikasi seluruh warga Jalur Gaza yang mereka blokade.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *