• Oktober 22, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Asap mengepul di atas gedung-gedung selama serangan udara Israel, di Kota Gaza, Senin (9/10/2023).  Foto: MAHMUD HAMS / AFP
Asap mengepul di atas gedung-gedung selama serangan udara Israel, di Kota Gaza, Senin (9/10/2023). Foto: MAHMUD HAMS / AFP

Situasi Palestina sesungguhnya telah sangat memprihatinkan bahkan jauh sebelum peristiwa Sabtu (7/10) lalu. Dalam enam bulan terakhir saja 600 lebih warga Palestina terbunuh. Bukan di Gaza. Tapi di Jenie, Yerusalem, Jericho, Bethlehem, Ramallah, dan beberapa tempat lainnya di Palestina. Belum lagi rumah-rumah mereka dan tanah yang menjadi sumber kehidupan mereka dirampas dengan alasan ayat-ayat Kitab Suci.

Bahkan berkali-kali tentara Israel atau orang-orang Yahudi radikal masuk ke lokasi Masjidil Al-Aqsa dan mengganggu bahkan melakukan kekerasan kepada mereka yang sedang beribadah. Belum lagi pelecehan yang dilakukan kepada orang-orang tua, anak-anak, dan kaum wanita. Dalam dunia keterbukaan media sosial saat ini, semuanya tidak dapat lagi ditutupi. Semua terekspos dengan sendirinya.

Karenanya apa yang disebut sebagai tragedi Sabtu (7/10) lalu, bukan sesuatu yang mengejutkan dan bukan juga peristiwa yang tanpa provokasi (unprovoked). Terlepas setuju atau tidak atas tindakan Hamas, peristiwa itu “highly expected” (sangat diduga) akan terjadi. Dengan provokasi yang sudah terjadi lama setiap saat dari pihak Israel.

Penyebutan serangan Hamas dengan “surprise and unprovoked attacks” sebenarnya memiliki tujuan pengelabuan. Dunia internasional ingin dikelabui jika peristiwa serangan itu seolah berdiri sendiri. Seolah tidak pernah ada masalah dan kejahatan yang terjadi kepada bangsa Palestina sebelumnya. Bahkan dengan penyebutan “serangan kejutan” menutupi fakta bahwa akar permasalahan antara Israel dan Palestina adalah penjajahan.

Untuk menjustifikasi “demonisasi” (demonstration) bangsa Palestina, mereka dengan licik melabeli serangan itu dengan “terrorist attack” (serangan teror). Hal itu kemudian diperkuat secara spontan mereka menyebutnya dengan “Israeli 9/11 terrorist attack”.

Tujuannya adakah untuk membangun mindset (pandangan) licik bahwa ini adalah serangan yang sama, bahkan oleh Israel dianggap lebih sadis dari serangan Nine Eleven tahun 2001 di Amerika.

Berbagai kelicikan itu kemudian diperkuat dengan secara masif membangun persepsi atau imej (image building) jika bangsa Palestina itu jahat, sadis dan tidak memiliki prikemanusiaan. Karenanya mereka disebut “animal humans” (manusia hewan) oleh Menteri Pertahanan Israel.

Presiden AS Joe Biden berpidato pada Sesi Majelis Umum PBB ke-78 di New York City, AS, 19 September 2023.  Foto: Mike Segar/REUTERS
Presiden AS Joe Biden berpidato pada Sesi Majelis Umum PBB ke-78 di New York City, AS, 19 September 2023. Foto: Mike Segar/REUTERS

Persepsi yang dibangun itu didukung oleh kekuatan media mainstream internasional seperti CNN, Fox News, NBC, dan hampir semua media di dunia Barat. Media-media yang tersandar oleh pemilik modal (kapitalis) itu menampilkan setiap saat dengan tanpa rasa malu (shamelessly) kebohongan-kebohongan dan kemunafikan.

Salah satu contoh yang paling memalukan adalah berita CNN pertama kali yang menyebutkan adanya penyembelihan 40 anak-anak Israel oleh pejuang Palestina. Disusul kemudian berita pemerkosaan wanita-wanita di saat terjadi penyerangan itu.

Saya katakan memalukan karena Presiden Amerika, Joe Biden, termasuk yang termakan dan menjadi korban kebohongan CNN itu. Bahkan banyak pejabat di Amerika yang juga menjadi korban dan termakan oleh berita bohong itu, termasuk Wali Kota New York, Eric Adams. CNN yang kemudian meminta maaf atas berita itu ternyata telah telanjur menjadi bahan pidato para pejabat tersebut.

Belakangan media sosial mengekspos realita sebaliknya. Justru ada wanita-wanita Israel yang menjadi saksi penyerangan itu menceritakan hal-hal positif dari perlakuan pejuang Palestina. Bagaimana mereka diperlakukan secara manusiawi. Bahkan seorang wanita bercerita bagaimana dia diberikan pakaian agar menutup tubuhnya yang terbuka.

Kondisi Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius yang rusak akibat serangan Israel, tempat warga Palestina yang meninggalkan rumah mereka berlindung, di Kota Gaza, Jumat (20/10/2023). Foto: Mohammed Al-Masri/REUTERS
Kondisi Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius yang rusak akibat serangan Israel, tempat warga Palestina yang meninggalkan rumah mereka berlindung, di Kota Gaza, Jumat (20/10/2023). Foto: Mohammed Al-Masri/REUTERS

Seorang lagi bahkan menceritakan bagaimana keramahan pejuang Palestina meminta izin memakan pisang yang ada di rumahnya. Belum lagi wanita yang dibebaskan dengan dua orang anak. Dia diantar oleh pejuang Palestina dan anaknya digendong di atas pundak pejuang itu.

Begitu banyak cerita kelicikan yang terekspos dari kekerasan-kekerasan yang terjadi saat ini. Tapi saya ingin mengakhiri dengan yang satu ini. Peristiwa pengeboman dua institusi milik umat Kristiani di Gaza. Satu rumah sakit anak-anak. Dan satu lagi gereja Kristen Ortodoks di Gaza.

Saya ingin mengatakan bahwa eksposur kejadian pemboman dan pembasmian anak-anak dan jemaah Kristiani Gaza ini menjadi eksposur dahsyat dalam dua sisi. Kejahatan dan kebohongan Israel di satu sisi. Dan kemuliaan bangsa Palestina di Gaza pada sisi yang lain.

Pemboman rumah sakit Baptis dengan korban minimal 500 orang anak-anak itu diingkari oleh Israel. Kelompok militan lain yang dituduh. Bahkan Israel menuduh bahwa rumah sakit itu menjadi tempat penyimpanan senjata bagi pejuang Palestina. Semua kebohongan dilemparkan untuk menutupi kejahatan perang itu.

Tiba-tiba saja manajemen rumah sakit itu menyebutkan bahwa Israel telah mengontak mereka berkali-kali untuk mengosongkan rumah sakit itu. Perintah pengosongan ini pastinya adalah bentuk ancaman jika rumah sakit itu akan dihancurkan. Maka terbantahlah kebohongan Israel sekali lagi.

Yang tidak kalah mengejutkan adalah pemboman gereja Kristen Ortodoks di Gaza. Konon kabarnya ini adalah gereja tertua ketiga (third oldest church) di dunia. Terus terang saya pribadi terkejut sekaligus bangga mengetahui ternyata selama ini bangsa Palestina di Gaza begitu toleran dan baik menjaga saudara-saudaranya yang beragama Kristiani.

Dengan pemboman gereja ini oleh Israel, Allah membuka realita yang selama ini terbalik. Bagaimana orang Palestina Gaza dan umat Islam secara umum dipersepsikan anti non Muslim. Ternyata umat Islam di Gaza yang 99% itu selama ini berabad-abad menjaga eksistensi dan hidup berdampingan dengan umat Kristiani, termasuk menjaga gereja mereka di Gaza.

Kelicikan-kelicikan itu dipertontonkan secara malu-malu dalam konflik ini. Bahkan frasa “konflik” ini juga kelicikan. Karena sejatinya ini bukan konflik. Tapi penjajahan Israel atas bangsa Palestina.

Hati-hati dengan kelicikan mereka!

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *