• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi Sumedi di kantor Kemendag pada Kamis, (5/10/2023). Foto: Widya Islamiati/Kumparan
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Didi Sumedi di kantor Kemendag pada Kamis, (5/10/2023). Foto: Widya Islamiati/Kumparan

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melihat potensi pasar Middle East and North Africa (MENA) dan Asia Selatan sebagai pasar yang menjanjikan untuk ekspor produk dalam negeri.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Dirjen Daglu) Didi Sumedi menyebutkan, pasar MENA yang merupakan non tradisional market ekspor Indonesia tersebut akan disiapkan untuk menggeser posisi Eropa.

Pasalnya, Uni Eropa sejak 2018 lalu telah mengeluarkan regulasi Renewable Energy Directive (RED II) yang disebut akan merugikan aktivitas ekspor Indonesia ke 27 negara di Uni Eropa.

"Kalau kita bicara Uni Eropa luar biasa tantangannya, salah satunya masalah RED II,  uni eropa ini agak rewel istilahnya, sehingga kita harus mempunyai strategi agar bisa menambal kalau defisit di Uni Eropa, kita harus punya back up di non tradisional market seperti Africa, South Asia yang belum dilirik oleh pengusaha kita," tutur Didi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2023, Kamis (19/10).

Lebih lanjut ia, menjelaskan pemerintah mulai melirik Afrika sebagai pasar tujuan ekspor baru Indonesia karena memiliki populasi penduduk yang besar.

Afrika per tahun 2023 tercatat diduduki oleh 1,47 miliar penduduk dari 54 negara. Sehingga Didi menilai potensi RI untuk mengudarakan produk ke benua tersebut terbilang besar.

Suasana di Pelabuhan Tanjung Priok yang dikelola PT Pelindo II, saat crane membongkar muat peti kemas dari kapal-kapal kargo. Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan
Suasana di Pelabuhan Tanjung Priok yang dikelola PT Pelindo II, saat crane membongkar muat peti kemas dari kapal-kapal kargo. Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan

"Belum kalau kita bicara produk-produk yang diminati di wilayah tersebut, sehingga relevan dengan produk yang kita hasilkan artinya kita banyak memenuhi suplai di level basic product," jelas Didi.

Meskipun hingga kini Indonesia baru memiliki perjanjian dagang dengan satu negara dari total 54 negara di Afrika, yaitu Mozambik.

Sebelumnya Presiden Jokowi dalam pembukaan TEI 2023 meminta agar Indonesia menggenjot ekspor ke pasar non tradisional. Hal tersebut disampaikan Jokowi saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) 2023 secara virtual pada Rabu (18/10).

“Saya dengar tahun ini juga difokuskan membuka peluang pasar dari non tradisional seperti Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika," kata Jokowi.

Menurut dia, gelaran TEI yang ke 37 ini memungkinkan eksportir Indonesia bertatap muka dengan potensial buyer dan dapat melakukan negosiasi langsung. Sehingga dapat meningkatkan peluang Indonesia menguasai pasar ekspor di era globalisasi ini.

"Kita tidak boleh hanya menjadi pasar, kita harus menjadi pelaku, harus menjadi produsen yang berdaya saing dan menguasai pasar. Saya mengapresiasi," kata Jokowi.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *