• Juni 21, 2024
  • ardwk
  • 0


Sukamara, WK MEDIA

Yayasan Putera Sampoerna dan PT Sampoerna Agro Tbk menunjukkan keseriusan mereka menggarap SD Perdana sebagai sekolah penerang di Sukamara, Kalimantan Tengah.

Ketua Pelaksana Putera Sampoerna Foundation Agastya Wahyudyatmika menyebut pihaknya serius mendukung keberadaan SD Perdana sejak tahun 2022. Ini dilakukan sebagai bagian dari upaya Lighthouse School Program (LSP).

“Filosofinya adalah kita ingin menjadikan SD Perdana seperti sekolah mercusuar yang bisa mencapai kesetaraan di sekitarnya,” ucap Agastya pada Media Briefing Berkarya dalam Keragaman Kreativitas Siswa Merdeka di Balai Pelatihan Guru, Sukamara, Kalimantan Tengah, Kamis (20/6).

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

“Dua tahun terakhir, kawan-kawan di yayasan (Yayasan Perdana Medika Cemerlang) dan keluarga Bu Kris (Kepala SD Perdana Sukamara Krisdiana) kita melatih gurunya, kita melatih tata kelola sekolahnya, manajemen sekolahnya, dan ekskulnya,” jelasnya.

Bahkan, ia menyebut kehadiran PSF dan Sampoerna Agro yang beranggotakan SD Perdana mampu menyebarkan hal positif kepada para guru. Agastya mengatakan ada sekitar 700 tenaga pendidik di Sukamara, Kalteng yang telah mengikuti pelatihan sejak dua tahun terakhir.

Agastya menyebut angka tersebut sudah mencapai 50 persen populasi guru di Sukamara. Rinciannya, ada sekitar 56 pelatihan yang diberikan per tahun oleh Putera Sampoerna Foundation bersama tim dari Kepala SD Perdana Sukamara Krisdiana.

“Harapannya tidak lagi hanya satu sekolah saja yang maju, tapi harapannya bisa membawa kemajuan untuk sekolah sekitar,” tuturnya.

Meski begitu, Agastya menyebut apa yang dilakukan PSF dan Sampoerna Agro tidaklah mudah. Terlebih lagi, muncul tantangan dari implementasi Kurikulum Merdeka yang resmi menjadi kurikulum nasional sejak Maret 2024 lalu.

Ia mengatakan penerapan kurikulum apa pun tersebut menjadi salah satu ujian yang harus dihadapi SD Perdana. Agastya menekankan ini juga tantangan di sektor pendidikan dari Sabang sampai Merauke.

Hal tersebut diamini oleh Kepala SD Perdana Sukamara Krisdiana. Ia menceritakan bagaimana meluangkan waktu untuk salah tafsir tentang Kurikulum Merdeka.

Awalnya, Krisdiana dan guru-guru di Sukamara mengira Kurikulum Merdeka berarti kebebasan. Ini dianggap sebagai metode mengajarkan siswa apa yang sang guru pahami atau kuasai saja.

Namun, ia kemudian sadar. Proses memaknai Kurikulum Merdeka secara benar ini juga dilakukan bersama Sampoerna Group.

“Saya sebagai guru ditantang untuk banyak melakukan perubahan, tantangannya adalah semangat perubahan dari guru-guru. ‘Saya mau berubah, saya tidak mau anak-anak saya tahunya hanya segini saja’. Anak-anak juga tahu globalisasi, dimulai,” tuturnya soal Kurikulum Merdeka.

“Dampaknya ternyata sangat luar biasa. Kalau di Kurikulum 2013, kami hanya fokus bagaimana materi ini selesai, yang penting tema 1-tema 9 harus selesai kami bawakan. Tapi ternyata di Kurikulum Merdeka, kami dituntut untuk menggali sampai anak-anak ini benar-benar memahami, tercapai apa yang kami rencanakan dan programkan,” jelas Krisdiana.

Krisdiana menegaskan siswa SD Perdana dan sekolah dasar lainnya di Sukamara tak lagi hanya belajar menghafal atau mencatat. Krisdiana menyebut para anak didiknya sekarang harus dibimbing untuk menganalisis dan mengimplementasikan.

“Anak-anak sudah siap, seperti ibarat kita, kami tinggal di Sukamara, tapi kami mengetahui perkembangan yang ada di Jakarta,” tutupnya.

[Gambas:Video CNN]

(skt/sfr)



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *