• Oktober 22, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Mohamad Risal Wasal di Gedung DPR, Rabu (5/7/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Mohamad Risal Wasal di Gedung DPR, Rabu (5/7/2023). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan

Konsorsium asal Korea Selatan (Korsel) bakal menggarap dan mendanai proyek Light Rail Transit (LRT) di Bali. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Risal Wasal, mengungkapkan saat ini konsorsium tersebut sedang melakukan studi kelayakan dari proyek itu.

Konsorsium tersebut terdiri dari Korea Railroad Corporation atau Korail, KRC Co. Ltd., Saman Co. Ltd. dan Dongmyeong Co. Ltd. Risal mengatakan, proyek tersebut juga akan mendapatkan pinjaman dari Negeri Ginseng.

"Jadi itu ada loan (pinjaman) itu dari Korea, termasuk nanti rencana pembangunan fase pertama, tahap satu," ungkap Risal saat dihubungi kumparan, Minggu (22/10).

Meski begitu, Risal belum memastikan apakah konsorsium tersebut akan melanjutkan pembangunan proyek setelah studi kelayakan rampung. Menurutnya, perencanaan ini berada di tangan Kementerian PPN/Bappenas.

"Belum tahu, nanti kita lihat dulu prosesnya, kan sekarang masih FS (studi kelayakan) dulu kelanjutannya seperti apa kita belum tahu. Tunggu Bappenas seperti apa kelanjutannya," ujar Risal.

Selain itu, jumlah pinjaman yang digelontorkan juga harus menunggu rampungnya studi kelayakan. Risal mengatakan proyek ini bersifat unsolicited, di mana suatu proyek infrastruktur yang diinisiasi oleh badan usaha dan proposal yang diajukan oleh badan usaha.

"Belum tahu nilainya, belum dapat dari FS tersebut, nanti dia kayak unsolicited nilainya dari mereka untuk pembangunan itu," tutur Risal.

Bocoran rute LRT Bali dalam tahap studi kelayakan oleh konsorsium asal Korea Selatan. Foto: Otoritas Kereta Api Nasional Korea Selatan
Bocoran rute LRT Bali dalam tahap studi kelayakan oleh konsorsium asal Korea Selatan. Foto: Otoritas Kereta Api Nasional Korea Selatan

Dikutip kumparan dari laman news1.kr, Otoritas Kereta Api Nasional Korea Selatan mengumumkan telah menandatangani kontrak studi kelayakan untuk 'Proyek Light Rail Transit (LRT) Indonesia Bali'.

Proyek tersebut diusung awal tahun ini sebagai tanggapan atas permintaan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea. Studi kelayakan bisnis tersebut mencakup ruas sepanjang 5,3 km dan terdiri dari 4 stasiun, menghubungkan Bandara Internasional Bali ke kawasan wisata Kuta.

Kontrak ini dimenangkan oleh Korea Railroad Corporation dengan membentuk konsorsium bersama KRC Co., Ltd., Saman Co., Ltd., dan Dongmyeong Co., Ltd. Proyek tersebut akan dikerjakan bersama selama 10 bulan terhitung Oktober hingga Agustus tahun 2024.

Setelah laporan studi kelayakan disetujui, laporan tersebut akan dipromosikan sebagai proyek yang didukung oleh Dana Kerjasama Ekonomi (EDCF) dan Dana Promosi Kerjasama Ekonomi (EDPF) melalui perjanjian pinjaman antara kedua pemerintah.

Disebutkan bahwa Korea Railroad Corporation mengusulkan proyek pembangunan LRT Bali melalui studi kelayakan awal pada tahun 2021 setelah menandatangani nota kesepahaman (MOU) kerja sama dengan Badan Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2020.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan tarif LRT Bali nantinya dibanderol sekitar USD 3 atau setara RP 45.000 (asumsi kurs Rp 15.000 per dolar AS). Saat ini proyek LRT Bali itu masih dalam tahap studi di Kemenhub.

“Pak Menhub juga sudah punya inisiatif yang bagus, begitu juga dengan tiket nanti dikasih USD 3,” kata Luhut di acara Launching Hub Space di JCC, Jakarta, Jumat (29/9).

Dia juga mengatakan, untuk proyek LRT Bali ini pemerintah menganggap pendanaan bukan menjadi isu utama saat ini. “Sehingga pendanaan tidak menjadi isu, yang menjadi isu adalah saat ini studi kita tawarkan pada negara yang mau cepat melakukan investasi dan juga dilakukan dengan cepat dan teknologi transfer,” lanjut Luhut.

Proyek tersebut pertama kali dibeberkan Luhut usai rapat terbatas soal Integrasi Moda Transportasi Publik Jabodetabek, Kamis (27/9). Presiden Jokowi meminta agar transportasi LRT juga dibangun di Bali.

"Presiden memutuskan kita lakukan studi lanjutan untuk LRT di Bali dari lapangan terbang (Bandara I Ngurah Rai) sampai Seminyak. Kalau perlu sampai Canggu, (panjangnya) 20 km," kata Luhut.

Luhut menargetkan peletakan batu pertama (groundbreaking) LRT Bali dilakukan awal 2024 karena studi soal rencana ini sudah lama dilakukan, tapi terhenti karena ada COVID-19.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *