• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Motor listrik buatan Pabrik United Bike, Bogor, Kamis (21/9/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Motor listrik buatan Pabrik United Bike, Bogor, Kamis (21/9/2023). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menjelaskan Battery Electric Vehicle (BEV) atau kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) tetap memiliki emisi yang rendah meskipun energinya berasal dari PLTU batu bara.

KPBB membantah pernyataan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, terkait KBLBB lebih tinggi emisinya dibandingkan kendaraan BBM (ICE) atau Hybrid Electric Vehicle (HEV).

Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, menuturkan pernyataan itu menyesatkan mengingat tingkat energy loss dari kendaraan listrik yang hanya sekitar 9-13 persen, dibandingkan tingkat energy loss kendaraan BBM yang mencapai 54 persen.

"Maka tingkat emisi kendaraan listrik jauh lebih rendah dari kendaraan BBM; sekalipun kendaraan listrik ini di-charge dengan listrik yang dihasilkan oleh PLTU batu bara, apalagi dengan renewable power plant," jelasnya saat media briefing, Kamis (19/10).

Kajian KPBB menunjukkan bahwa emisi BEV, HEV dan ICE masing-masing adalah 67,82 gram CO2/km, 76,79 gram CO2/km dan 179,17 gram CO2/km.

Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Foto: Habib Allbi Ferdian/Kumparan
Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Foto: Habib Allbi Ferdian/Kumparan

Ahmad menuturkan, berdasarkan efisiensi energi per unit Kendaraan, BEV lebih efisien dengan segala sumber listrik yang digunakan baik itu batu bara, LNG, dan PLTA, jika dibandingkan kendaraan BBM.

Hal ini mengingat energi kendaraan BBM yang ada pada tanki kendaraan hanya 46 persen saja yang benar-benar terpakai untuk menggerakkan roda di jalan. Selebihnya hilang pada proses transfer BBM dan proses pembakaran di ruang pembakaran.

"Sementara total aggregate energi losses pada kendaraan listrik adalah 11 persen, dengan perhitungan total energi loss 31-35 persen, namun dengan teknologi regenerative braking system, maka BEV dapat memanen 22 persen energi," tuturnya.

Berdasarkan kemampuan efisiensi energi tersebut, emisi kendaraan BEV tentunya lebih rendah. Kendaraan BBM dengan spesifikasi 2000 cc Euro 6 Standard dengan BBM berupa nensin RON 95 sulfur max 10 ppm, memiliki level emisi karbon tertinggi yaitu 179.17 gram CO2/km.

Proses produksi dan perakitan motor listrik merek ALVA di pabrik berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Foto: ALVA Indonesia
Proses produksi dan perakitan motor listrik merek ALVA di pabrik berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. Foto: ALVA Indonesia

Kemudian, HEV dengan spesifikasi 2000cc + 85 kW dengan BBM berupa bensin RON 95 sulfur max 10 ppm, memiliki level emisi Carbon 76.79 gram CO2/km.

Sementara BEV 85 kW yang di-charge listriknya bersumber dari PLTU batu bara memiliki level karbon 67.82 gram CO2/km. Lalu, BEV 85 kW yang bersumber dari PLTGU (gas/LNG) memiliki level karbon 39.59 gram CO2/km, serta BEV 85 kW yang bersumber dari energi terbarukan memiliki level karbon 9.90 gram CO2/km.

"Dengan demikian BEV lebih efisien dengan segala sumber listrik yang digunakan dan ini selaras serta mencerminkan emisi yang lebih rendah yang dimiliki BEV dibandingkan kendaraan ICE maupun HEV," tegas Ahmad.

Ahmad menyebutkan, meskipun emisi BEV dari sumber listrik PLTU batu bara lebih rendah, namun tetap harus dilakukan pensiun dini PLTU batu bara sesegera mungkin untuk digantikan dengan energi terbarukan.

"Sehingga dapat dicapai percepatan penurunan emisi kendaraan baik emisi gas rumah kaca maupun emisi pencemaran udara," tambahnya.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *