Jakarta, WK MEDIA

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan realisasi yang penting bawang putih baru mencapai 50.721 ton atau 27 persen dari izin impor yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag), yakni sebanyak 650 ribu ton.

Ketua KPPU M. Fanshurullah Asa mengatakan realisasi impor bawang putih yang rendah terjadi akibat tingginya harga bawang putih di China, yang mencapai US$1.400-US$1.500 AS per ton atau sekitar Rp22 juta per ton.

“Harga bawang putih di China yang merupakan sumber utama impor bawang putih juga mengalami kenaikan,” ucapnya, dikutip AntaraSenin (21/5).

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Fanshurullah menyampaikan bahwa ia telah bertemu dengan distributor bawang putih di beberapa daerah seperti di Medan, Bandar Lampung, Bandung, Surabaya, Pontianak, Makassar, dan Yogyakarta.

Dari hasil sidak tersebut ditemukan harga bawang putih masih fluktuatif dari harga acuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yakni Rp32 ribu per kg.

Misalnya di Pontianak, KPPU menemukan harga bawang putih mencapai Rp34 ribu hingga Rp38 ribu per kg. Meski begitu harga tersebut turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp41.650 per kg.

Kemudian di Makassar, KPPU menemukan harga bawang putih mencapai Rp33 ribu per kg di tingkat pedagang. Sedangkan pada pengecer sekitar Rp40 ribu per kg dalam kondisi sudah bersih.

Sedangkan untuk di Medan, bawang putih sudah sesuai HET yang ditentukan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp32 ribu per kg. Sementara di Lampung, harga bawang putih masih tinggi yakni berada pada kisaran Rp40 ribu per kg.

Fanshurullah mengatakan bahwa KPPU secara aktif akan melakukan pemantauan harga bahan pokok penting secara berkala di berbagai daerah di Indonesia.

“Pemantauan oleh KPPU dilakukan dalam rangka mengantisipasi adanya permainan harga dan dihilangkannya pasokan oleh pelaku usaha tertentu serta stabilitas komoditas pangan,” katanya.

Hal senada sebelumnya disampaikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang menyebut harga bawang putih tidak akan turun karena minimnya realisasi impor komoditas tersebut.

Namun menurutnya, mahalnya bawang putih di dalam negeri bukan karena harga dari negara asal impornya, yakni China, naik.

“Kalau kita terjadi kenaikan harga bawang putih, bukan karena harga tempat sumbernya naik, tetapi karena kita sendiri di dalam negeri, manajemen kita kurang bagus. Yang sudah diberikan izin impor belum melalukan realisasi seusai target,” katanya dalam rapat koordinasi inflasi, Senin (13). /5).

Ia mengatakan masalah harga ini terletak pada para importir yang sudah diberikan izin impor, tetapi belum melalukan realisasi sesuai target.

Oleh karena itu, ia mengimbau Kementerian Perdagangan maupun Kementerian Pertanian untuk mendorong pelaku usaha merealiasasikan impornya.

Kalau sudah masuk (bawang putih impor), segera didistribusikan.Kemudian kalau sudah realisasi, ditahan sampai langka, harga naik, baru dilepas untuk dapat keuntungan, nah ini pidana, pidana penimbunan barang, katanya.

[Gambas:Video CNN]

(fby/pta)


Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *