• Oktober 22, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Three Songs for Benazir adalah kisah suram sepasang kekasih yang baru saja menikah yaitu Shaista dan Benazir. Foto: https://www.pexels.com/
Three Songs for Benazir adalah kisah suram sepasang kekasih yang baru saja menikah yaitu Shaista dan Benazir. Foto: https://www.pexels.com/

Film Three Songs for Benazir bercerita tentang Shaista, seorang pemuda yang baru saja menikah dengan Benazir dan tinggal di sebuah kamp pengungsian di Kabul. Shaista berjuang untuk mewujudkan mimpinya menjadi tentara di Angkatan Darat Afghanistan.

Tetapi, mimpinya ditentang oleh sukunya karena tak ingin berbenturan dengan kepentingan politik Thaliban. Sukunya malah mengajak Shaista menjadi petani opium.

Film dokumenter ini rilis pada tahun 2021 dan disutradarai oleh Elizabeth Mirzaei and Gulistan Mirzaei. Film ini memenangkan 13 penghargaan termasuk Penghargaan Sinema Eye untuk Film Pendek Nonfiksi Terbaik dan Penghargaan Penonton di Festival Film Pendek Internasional Clermont-Ferrand.

Kekuatan film ini adalah tafsir yang luas dan terbuka terhadap watak Shaista dan Benazir yang hanya dengan nyanyian dan senyuman yang malu-malu melahirkan ragam kemungkinan. Mereka berdua adalah semiotika yang tak bertepi dan menciptakan makna-makna yang tak terbatas.

Masa depan anak-anak perempuan di Afghanistan semakin suram di bawah rezim Taliban hari ini. Foto: https://www.pexels.com/
Masa depan anak-anak perempuan di Afghanistan semakin suram di bawah rezim Taliban hari ini. Foto: https://www.pexels.com/

Film ini diakhiri dengan mimpi Shaista yang hancur dan malah direhabilitasi entah karena trauma atau kecanduan opium. Istrinya, Benazir, datang menjenguknya bersama dua putranya. Filmnya ditutup dengan nyanyian indah Shaista menghibur kepiluan hati Benazir yang tak mampu membeli sendal untuk kedua putranya apalagi bermimpi menjadi wanita karier.

Tentu cerita film ini dibuat sebelum Amerika menarik diri dari Afghanistan di penghujung tahun 2021. Saat ini, masa depan Afghanistan semakin suram di bawah rezim Taliban yang berhasil berkuasa selama dua tahun ini.

Di bawah rezim Amerika Serikat, sekitar 3,6 juta anak perempuan terdaftar di sekolah dasar dan menengah, dan 90.000 wanita mendapatkan akses ke pendidikan tinggi. Namun, hak-hak perempuan justru semakin terkikis di bawah rezim Taliban.

Perempuan Afghanistan saat ini dikontrol penuh oleh rezim konservatif Taliban. Foto: https://www.pexels.com/
Perempuan Afghanistan saat ini dikontrol penuh oleh rezim konservatif Taliban. Foto: https://www.pexels.com/

Jika pria dan wanita memiliki sedikit masa depan di bawah rezim moderat Ashraf Ghani Ahmadzai, maka pria dan wanita di negara tersebut semakin memprihatinkan di bawah rezim Taliban. Misalnya Kementerian Propaganda Taliban baru-baru ini mengeluarkan larangan irasional bagi wanita untuk mengunjungi situs pariwisata lokal.

Tentu, larangan tersebut mencerminkan pendekatan konservatif yang mengabaikan hak-hak dasar wanita dalam hal kebebasan bergerak dan berpartisipasi di ruang-ruang publik.

Bahkan baru-baru ini sekitar 100 wanita muda Afghanistan mendapatkan beasiswa di Universitas Dubai dengan sponsor miliarder Emirat Arab, tetapi mereka dihalangi oleh rezim Taliban.

Ironisnya, fatwa keagamaan yang dikeluarkan oleh pemerintahan Taliban sejak Agustus 2021 secara langsung memberlakukan pembatasan yang ketat terhadap perempuan dan anak perempuan.

Sekitar 80 persen perempuan dan anak perempuan Afghanistan saat ini memerlukan bantuan kemanusiaan. Pernikahan anak dan tingginya angka kematian ibu saat melahirkan telah meningkat sesuai dengan laporan dari Human Rights Watch. Kekerasan berbasis gender juga terus meningkat.

Potret kota Kabul Afghanistan yang kini di bawah kendali rezim Taliban. Foto: https://www.pexels.com/
Potret kota Kabul Afghanistan yang kini di bawah kendali rezim Taliban. Foto: https://www.pexels.com/

Saat ini, banyak perempuan meninggal saat hamil atau melahirkan karena banyak ibu tidak memiliki cukup makanan. Setelah melahirkan, mereka kesulitan dalam memberi makan anak-anak mereka.

Di daerah pedesaan, masyarakat tak punya uang, rumah sakit sangat jauh dan wanita tidak diizinkan untuk bepergian tanpa pendamping atau mahram seperti ayah, suami, atau saudara yang bertindak sebagai pendamping.

Rezim Taliban mewajibkan perempuan hanya dapat diobati oleh dokter perempuan di mana jumlah dokter perempuan hampir tidak ada di daerah pedesaan.

Alhasil, nyanyian Shaista benar-benar menghibur kepedihan hati Benazir. Tetapi di balik kekuatan Shaista, ia memiliki harapan untuk membahagiakan Benazir. Mimpi Shaista semakin suram di bawah rezim Taliban hari ini.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *