• Oktober 28, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Penulis: Angelia Fabiola Kodongan Wala (Mahasiswa President University)

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock
Di era digital, data merupakan salah satu faktor yang paling vital. Menurut buku Riandy Kadwi Nugraha “Pemasaran di Era 5.0: Transformasi Teknologi Digital untuk Efisiensi Pemasaran,” setiap individu dapat menciptakan jutaan data setiap hari dari tindakan teknologi yang kita lakukan.

Email yang dikirim dan diterima, gambar yang diunggah, film yang ditonton, percakapan telepon, transaksi bank, permintaan search engine, dan masih banyak lagi.

Disadari atau tidak, semua perilaku ini akan didokumentasikan dan dimanfaatkan untuk menentukan target pasar yang sempurna dan terbaik.

Sebelum masa revolusi 4.0 atau digitalisasi, teknik dan taktik pengumpulan data para pelaku bisnis masih bersifat tradisional atau membutuhkan tenaga dalam jumlah besar untuk “mengambil” datanya.

Demikian pula, memelihara dan menganalisis data masih memerlukan banyak tenaga manusia, sehingga menghabiskan waktu dan uang. Data tidak lagi perlu dikumpulkan karena dapat diakses secara bebas.

Tugas yang harus dijalankan sekarang adalah mengamankan data, memfilternya, dan kemudian menanganinya secara cerdas dan efektif. Big Data adalah kombinasi data yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat besar (volume), sangat cepat (velocity), dan beragamnya data yang dihasilkan (variety).

Membuat keputusan dalam pemasaran dan menetapkan strategi pemasaran harus didasarkan pada informasi yang diperoleh dari statistik penggunaan ekosistem. Dalam buku Marketing 5.0: Technology for Humanity, Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menjelaskan bahwa dengan memiliki mesin analitik, bisnis dapat meramalkan apa yang akan dibeli konsumen di masa depan berdasarkan apa yang telah mereka beli di masa lalu.

Merek kemudian dapat mendistribusikan penawaran individual dan melaksanakan kampanye yang disesuaikan. Dengan infrastruktur saat ini, kita dapat mencapai hal-hal ini dengan Big Data, tidak hanya pada beberapa kategori pasar, namun juga pada klien individu satu per satu.

Big Data dalam Marketing mengacu pada pengumpulan, analisis, dan penggunaan informasi digital dalam jumlah besar untuk meningkatkan operasi komersial, seperti:

Memperoleh perspektif 360 derajat dari target konsumen. Bertahun-tahun yang lalu, gagasan “Know Your Customer” (KYC) didirikan untuk menghindari penipuan bank. KYC memberikan informasi yang sebelumnya tidak tersedia tentang perilaku klien ke perusahaan keuangan besar. Karena ketersediaan data yang besar, keunggulan KYC kini dapat diakses oleh organisasi kecil dan menengah, berkat komputasi awan dan data besar.

Customer Engagement, yaitu bagaimana pelanggan memandang dan berinteraksi dengan merek Anda, merupakan komponen penting dalam aktivitas pemasaran Anda. Analisis data besar memberikan wawasan bisnis yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan positif, seperti meningkatkan kualitas produk saat ini atau meningkatkan pendapatan per klien.

Big Data dianggap mampu menghilangkan banyak sektor lapangan kerja, popularitasnya memicu berbagai kekhawatiran. Teknologi big data dianggap tidak memberi kita peluang untuk berkembang.

Pada kenyataannya, hal ini memperluas pilihan kita untuk tumbuh sebagai individu, bahkan ketika bersaing dengan negara lain. Menurut Riandy Kadwi Nugraha dalam bukunya “Pemasaran di Era 5.0: Transformasi Teknologi Digital untuk Efisiensi Pemasaran”, salah satu ciri bangsa maju di era digital ini adalah kemampuan masyarakatnya dalam menangani big data dengan baik.

Angelia Fabiola Kodongan Wala

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *