• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Beberapa aktivitas pengantar air di sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh
Beberapa aktivitas pengantar air di sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Lampung Geh, Bandar Lampung – Saat musim kemarau, sejumlah wilayah di Lampung mengalami kekeringan. Apalagi, dampak El Nino membuat masyarakat kekurangan air.

Namun, musim kemarau dan dampak El Nino tidak berpengaruh dengan sumur Suteng. Pasalnya, sumur Suteng yang berdiri sejak 1954 silam itu masih beroperasi dan tidak mengalami kekeringan.

Sumur Air Suteng sendiri berlokasi di Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung.

Pemilik sumur Suteng, Nana menceritakan pada saat itu hanya ada satu sumur yang dibangun oleh orang tuanya.

"Itu bapak saya, udah lama sekali tahun 1954, kalo saya masih baru regenerasi, meneruskan saja," katanya kepada Lampung Geh, Kamis (19/10).

Beberapa pengantar air saat sedang mengambil air dari sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh
Beberapa pengantar air saat sedang mengambil air dari sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Namun, seiring berjalannya waktu, Nana melanjutkan, banyak orang yang membutuhkan air, sehingga menambah menjadi tiga pompa sumur.

"Kalo keterangan bapak saya, dulu itu bukan untuk dijual belikan, sejarahnya untuk mengambil air wudu, namun setelah didirikan 1 pompaan ditampung dalam satu wadah, kiri-kanan tetangga pada minta gitu," ucapnya.

Beberapa aktivitas pengantar air di sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh
Beberapa aktivitas pengantar air di sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Atas dasar hal tersebut, pihaknya membuat sejenis koperasi untuk para warga yang hendak mengambil air tersebut.

"Pembayaranya itu setiap hari, biayanya tidak ditekankan, bukan bisnis, hidupnya berorganisasi, untuk perawatan sumur saja, saling membantu menolong," ucapnya.

Sementara itu, salah satu pengantar air bersih, Halili mengatakan, dirinya telah menekuni profesi sebagai pengantar air sejak puluhan yang tahun lalu.

"Udah lama dari 2005, ya di sini airnya nggak pernah kering," tuturnya.

Beberapa pengantar air saat sedang mengambil air dari sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh
Beberapa pengantar air saat sedang mengambil air dari sumur Suteng. | Foto: Sinta Yuliana/Lampung Geh

Menurut Halili, dalam sehari, dirinya dapat 3 kali mengantar air ke para pelanggan menggunakan gerobak.

"Tiga kali angkut sehari, kalo tiga kali berarti 12 derigen dikali 3, jadi 36 derigen sehari, 1 pikul Rp 5 ribu," ungkapnya.

Halili mengaku, musim kemarau jumlah permintaan masih stabil, menurutnya, permintaan bertambah saat PAM/PDAM mati.

"Masih stabil, kalo mati (PAM/PDAM) kita rame permintaan, kalo hari-hari biasa nganternya ke langganan saja rata-rata rumah makan, tapi rumah tangga juga ada," pungkasnya. (Yul/Ansa)

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *