• Oktober 21, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Sumber: Pexels-magda-ehlers-2846006, ilustrasi hasil budaya Tiongkok
Sumber: Pexels-magda-ehlers-2846006, ilustrasi hasil budaya Tiongkok

Partai Komunis Tiongkok (PKT) berupaya memadukan dua integrasi ala Xi Jinping yang mencakup prinsip-prinsip dasar Marxisme dengan budaya tradisional. Perpaduan demikian akan memperkaya jalur sosialis dengan “garis keturunan dan peradaban” bangsa Tiongkok.

Hasilnya adalah filosofi pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai pusat, mengangkat pemikiran kuno Tiongkok tentang kesejahteraan sosial ke tingkat yang baru. Integrasi ini juga menggabungkan nilai-nilai sosialis dengan nilai-nilai tradisional bangsa Tiongkok, menciptakan pondasi kuat nilai-nilai spiritual bagi negara tersebut.

Xi Jinping dan para kader partai berupaya mengintegrasikan Marxisme ke dalam dua hal: realitas negara dan masyarakat Tiongkok, serta budaya tradisional Tiongkok. Dua integrasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin di Moskow, Rusia, 20 Maret 2023. Foto: Sputnik/Sergei Karpukhin/Pool
Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin di Moskow, Rusia, 20 Maret 2023. Foto: Sputnik/Sergei Karpukhin/Pool

Integrasi pertama, Marxisme ke dalam realitas negara, dan masyarakat Tiongkok sebenarnya sudah kurang lebih dijalani oleh PKT. Deng Xiaoping, mempertajam, dan mempopulerkan kembali prinsip “mencari kebenaran dari fakta-fakta” (seeking truth from facts).

Prinsip demikian dalam paparan Deng (1978) merupakan dasar pandangan dunia proletar dan juga dasar ideologi Marxisme. Sama seperti di masa lalu, Deng mengafirmasi bahwa PKT mencapai semua kemenangan dalam revolusi dengan mengikuti prinsip tersebut.

PKT menggunakan prinsip seeking truth from facts dalam upaya mencapai empat modernisasi. Empat Modernisasi (dalam Britannica, 2023) merupakan tujuan yang diumumkan secara resmi oleh Perdana Menteri pertama Tiongkok Zhou Enlai untuk memperkuat bidang pertanian, industri, pertahanan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi di Tiongkok.

Deng (1978) menegaskan para kader di setiap pabrik, kantor pemerintah, sekolah, toko dan tim produksi serta di komite Partai di tingkat pusat, provinsi, prefecture, kabupaten dan komune—semua bertindak berdasarkan prinsip seeking truth from facts, pembebasan pikiran, dan menggunakan kepala mereka dalam memikirkan pertanyaan-pertanyaan dan mengambil tindakan terhadapnya.

Proses pengintegrasian Marxisme ke dalam realitas negara dan masyarakat Tiongkok dianggap baik. Dan, oleh Xi Jinping terus dilanjutkan hingga sekarang.

Integrasi kedua, Marxisme ke dalam tradisional Tiongkok. Xi Jinping memandang tradisi budaya Tiongkok sebagai harta karun yang sangat bernilai karena dibangun dan dibentuk melalui rentang waktu yang sangat panjang, yaitu sejak Konfucius (551-479 SM) hingga Sun Yatsen (1866-1925). Dalam rentang waktu yang panjang, budaya Tiongkok sungguh memiliki modal peradaban bangsa yang sangat kaya dan penuh makna.

Walaupun secara historis Marxism-Leninisme bukan asli berasal dari Tiongkok, paham sosialisme tersebut telah menjadi raison d'etre mengapa PKT berkuasa di Tiongkok. Oleh karenanya bagi Xi, sangat masuk akal melakukan integrasi Marxisme ke dalam tradisional Tiongkok. Dalam proses pengintegrasian, yang terjadi bukan hanya satu arah, melainkan dua arah, yaitu ada hubungan timbal balik dari keduanya.

Selain Marxisme diintegrasikan ke dalam tradisional Tiongkok, juga budaya tradisional Tiongkok memperkaya Marxisme. Hubungan timbal balik yang demikian, membuat Marxisme bertahan kuat, dan tetap eksis di Tiongkok hingga sekarang.

Tiongkok, dalam sejarah penerapan Marxisme telah terbukti berhasil. Meskipun kelompok ekstrem kiri mengatakan, bahwa sosialisme negara sudah tercampur dengan kapitalisme dan liberalisme, Tiongkok melalui PKT telah terbukti berhasil mengimplementasikan Marxis-Leninisme dalam konteks politik, dan negara.

Dalam analisis Zlotea (2016: 272) tradisi pada umumnya, dan Konfusianisme pada khususnya—selain memperkaya Marxisme—juga dapat digunakan secara instrumental oleh Partai untuk mendapatkan legitimasi moral, pada masa ketika legitimasi historis, ideologis dan ekonomi tidak lagi mencukupi.

Sebagai catatan akhir, budaya tradisional Tiongkok mengejawantahkan semangat mengejar jalan yang benar melalui kebajikan. Dua integrasi mau memadukan visi komunitas dan masa depan bersama bagi umat manusia yang diusulkan oleh Presiden Xi Jinping dengan pendekatan diplomasi tradisional Tiongkok yang berfokus pada keharmonisan antar bangsa.

Dengan demikian, integrasi tersebut menggambarkan upaya Tiongkok mempertahankan akar budaya dan sejarah sambil bergerak menuju visi sosialis yang modern dan global.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *