• Oktober 30, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Sumber Foto: Shutterstock
Sumber Foto: Shutterstock

Siapa yang diuntungkan dari perang? Pertanyaan ini bernada paradoks. Bagaimana orang dapat memperoleh manfaat dari perang? Padahal dalam perang ada pembunuhan, ada penderitaan dan ada kehancuran yang meluas. Lalu siapa yang akan mendapat manfaat dari itu? Ia adalah industri pertahanan.

Perang memicu meningkatnya pengeluaran untuk pertahanan. Semakin berkepanjangan dan intens konflik, semakin besar permintaan. Negara-negara yang terlibat perang jelas akan menghabiskan banyak uang buat persenjataan.

Banyak negara berinvestasi besar-besaran dalam teknologi, persenjataan dan infrastruktur. Melambungnya permintaan ini menguntungkan industri militer atau pertahanan di seluruh dunia, yang berarti bahwa keuntungan mereka meroket.

Tahun lalu pengeluaran militer di seluruh dunia mencapai US$ 2,1 triliun. Angka ini lebih dari 2% dari PDB dunia. Eropa telah meningkatkan pengeluaran militernya. Pengeluaran ini adalah yang tertinggi selepas Perang Dingin.

Negara-negara Asia juga meningkatkan pengeluaran militernya. Anggaran pertahanan Jepang dan Korea tumbuh sebesar 7% pada tahun 2022. Anggaran pertahanan India adalah 81,4 miliar pada tahun 2022, sebuah kenaikan 6% dari tahun 2021. Salah satu pendorong terbesar angka-angka ini adalah pembelian sistem senjata baru.

Tahun lalu AS menikmati 45% ekspor senjata di dunia. Angka ini lima kali lebih banyak dari negara lain. Ini juga menunjukkan kenaikan lebih dari 30% sejak 2010. Jadi bagi perusahaan pemasok pertahanan AS, seperti Northrop Grumman, General Dynamics dan Lockheed Martin, fakta ini sebuah keuntungan raksasa.

Penjualan mereka melonjak, perusahaan mereka tumbuh dan saham mereka makin banyak. Ditambah bahwa pembelian senjata AS membutuhkan koordinasi yang erat. Hal yang sama juga berlaku dengan militer AS. Kontrak militer apa pun bersifat jangka panjang. Ini bersifat tahunan, termasuk kebutuhan dan layanan pemutakhiran (update) yang lagi-lagi menguntungkan industri perang.

Tapi bukan hanya AS yang diuntungkan. Mengingat persenjataan AS sangat diminati, maka negara-negara pengimpor mau tak mau harus antrean alias berada dalam waktu tunggu yang lama. Sementara untuk negara-negara yang menginginkan senjata dengan cepat, itu bukan pilihan yang baik.

Karenanya, kebutuhan dan permintaan mendesak ini mendorong negara-negara penghasil senjata lainnya, seperti Turki dan Korea Selatan memenuhi kebutuhan perang banyak negara. Tahun lalu Polandia membukukan pembelian persenjataan sejumlah US$ 14 miliar dari Korea Selatan. Polandia berencana untuk membeli tank fighter, jet dan howitzer.

Turki juga merevolusi industri dronenya. Negara-negara antrean untuk membeli drone bersenjata yang dibuat oleh perusahaan Baykar di Turki. Turki telah menjual drone ke setidaknya 29 negara. Drone buatan Turki ini telah banyak digunakan di zona perang, seperti Libya, Suriah, Ethiopia, Somalia dan Azerbaijan.

Pada dasarnya, semua ini tentang siapa yang cepat dan mampu merebut peluang. Ankara dan Seoul menikmati pemasukan jumbo. Turki dan Korea Selatan meningkatkan ekspor senjata dan menyuguhkan lebih banyak opsi kepada negara-negara yang tertarik di seluruh dunia.

Saat ini ada dua perang besar yang berkecamuk, satu di perbatasan Eropa (Ukraina) dan yang lainnya di Asia Barat (Hamas-Israel). Lonjakan pembelian senjata akan meningkat seiring waktu. Ini tentu menyebabkan banyak kekhawatiran. Kian banyak penjualan senjata maka berarti akan banyak konflik yang mematikan.

Hanya ada satu industri yang terus mereguk untung dari perang yang bersimbah darah, industri pertahanan atau militer atau persenjataan. Inilah realitas konflik yang menyedihkan. Bagi banyak orang perang menghabisi banyak nyawa, tapi buat segelintir pihak perang bermakna makin dalamnya kantung saku dengan duit yang tidak berseri.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *