• Juni 25, 2024
  • ardwk
  • 0


Jakarta, WK MEDIA

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut pemerintah akan mempelajari isu kebangkrutan yang terjadi di PT Sri Rejeki Isman Tbk alias Sritex.

Agus menyebut Kemenperin akan melihat dan mempelajari model bisnis yang dijalankan salah satu raksasa tekstil RI itu.

“Itu harus kita pelajari mengapa bangkrut,” kata Agus di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/6).

IKLAN

GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI

Agus menilai perlunya kajian mendalam terkait permasalahan yang dihadapi perusahaan. Dalam hal ini, faktor pemicunya bisa berasal dari permintaan industri tekstil lokal hingga masalah internal perusahaan.

“Ya kita mesti lihat model bisnisnya seperti apa di Sritex group itu. Apakah bangkrutnya murni karena tekstil apakah ada masalah-masalah yang menghadang pusat,” ujarnya.

Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) sebelumnya mencatat sekitar 13.800 buruh tekstil terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari Januari 2024 hingga awal Juni 2024.

Presiden KSPN Ristadi menuturkan data PHK yang terjadi di Jawa Tengah secara lebih masif. Ia mencatat pabrik-pabrik yang terdampak, misalnya di grup Sritexz

Ia mencontohkan tiga perusahaan di bawah grup Sritex yang mem-PHK sejumlah karyawannya. Ada PT Sinar Pantja Djaja di Semarang, PT Bitratex di Kabupaten Semarang, dan PT Djohartex yang ada di Magelang.

Secara garis besar, ia menangkap banyak kerok PHK massal ini adalah pesanan yang lesu. Ristadi menyebut tingkat pesanan yang masuk ke sejumlah pabrik tekstil di Indonesia terus menurun.

Di sisi lain, berdasarkan keterangan Sritex kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) emiten tersebut membantah mengalami kebangkitan. Perusahaan mengklaim perseroan masih beroperasi dan tidak ada keputusan pailit dari pengadilan.

Direktur Keuangan Sritex Welly Salam menyebut rekonstruksi lewat PKPU sudah selesai dan berkekuatan hukum tetap sesuai putusan PKPU tertanggal 25 Januari 2022 atas perkara PKPU No.12/Pdt-Sus-PKPU/2021/PN Niaga Semarang.

Sritex pun telah meminta relaksasi kepada kreditur dan sebagian besar telah memberikan persetujuan atas relaksasi tersebut.

Adapun penurunan pendapatan secara drastis terjadi akibat Covid-19 dan persaingan yang ketat di industri tekstil global. Selain itu, menurut Welly, kondisi geopolitik perang Rusia-Ukraina serta Israel-Palestina juga mempengaruhi pasokan mereka.

[Gambas:Video CNN]

(khr/sfr)



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *