• Oktober 20, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi nenek live TikTok diguyur air dingin. Foto: Istimewa
Ilustrasi nenek live TikTok diguyur air dingin. Foto: Istimewa

Perempuan-perempuan tua atau nenek-nenek paling sering dijadikan model di dalam konten-konten mengemis di media sosial TikTok. Seringkali mereka harus melakukan kegiatan-kegiatan yang ekstrem seperti mandi lumpur atau mengguyur tubuh dengan air untuk mengeksploitasi belas kasih penonton.

Hal itu diungkapkan dari hasil penelitian mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), yang tergabung dalam tim peneliti Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RHS).

Ketua tim penelitian tersebut, Jatayu Bias Cakrawala, mengatakan bahwa dari sembilan konten mandi lumpur di TikTok yang mereka jadikan sampel, enam video diperankan oleh perempuan lanjut usia (lansia).

“Ternyata konten yang paling menarik empati itu adalah yang subjek atau pelakunya adalah perempuan, khususnya perempuan lansia,” kata Jatayu Bias Cakrawala.

Selain model atau pemeran, latar tempat dan waktu pembuatan video juga sangat berpengaruh terhadap banyak atau tidaknya orang yang menyumbang.

“Semakin mereka bikin konten di tempat-tempat yang tidak layak dengan kondisi malam hari dan sebagainya, itu semakin memunculkan empati penontonnya,” jelasnya.

Anggota tim penelitian PKM-RHS UGM. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja
Anggota tim penelitian PKM-RHS UGM. Foto: Widi RH Pradana/Pandangan Jogja

Salah satu anggota tim peneliti, Alfia Rahma Permatasari, menjelaskan bahwa dari penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya memang menunjukkan bahwa perempuan lebih mudah menarik empati orang lain, terlebih perempuan lanjut usia. Misalnya temuan Yatim dan Juliardi pada tahun 2016 yang menunjukkan banyaknya perempuan mengemis di jalan karena lebih bisa menimbulkan rasa iba dan belas kasih dari masyarakat.

“Dan ternyata ini juga berlaku di praktik mengemis online. Kalau pemerannya itu perempuan, apalagi sudah lanjut usia, orang yang nonton akan semakin merasa kasihan,” kata Alfia Rahma.

Anggota tim peneliti lain, Wahida Okta Khoirunnisa, mengatakan bahwa hal ini juga didukung oleh anggapan bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki. Stereotipe ini kemudian dimanfaatkan oleh pelaku-pelaku pengemis online, untuk mengeksploitasi kesedihan masyarakat.

“Dan seringkali mereka itu cuma jadi model, jadi ada yang mengorganisir mereka semacam manajer yang ternyata masih muda,” kata Wahida Okta Khoirunnisa.

Tim penelitian ini terdiri atas empat mahasiswa UGM, di antaranya adalah Jatayu Bias Cakrawala, Alfia Rahma Permatasari, Wahida Okta Khoirunnisa, serta Avisena Kemal. Selain itu, mereka juga dibimbing oleh salah seorang dosen UGM, Mashita Phitaloka Fandia.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *