• Oktober 26, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Foto Lomba Pacu Upiah antar siswa sekolah dasar se Kota Pariaman. Foto Satya Gayatri
Foto Lomba Pacu Upiah antar siswa sekolah dasar se Kota Pariaman. Foto Satya Gayatri

Memperbincangkan nilai-nilai yang ada dalam sebuah objek erat kaitannya dengan kandungan yang ada dalam sebuah objek. Begitu juga dengan perbincangan mengenai nilai-nilai edukasi, artinya pembicaraan akan mengarah pada kandungan edukasi (pendidikan) yang terdapat dalam objek yang diperbincangkan, dalam hal ini adalah permainan tradisional pacu upiah.

Pacu upiah adalah sejenis permainan tradisional yang dikenal cukup luas di daerah Minangkabau. Permainan ini dimainkan oleh dua orang dalam satu tim dan biasanya dipertandingkan sebagai ajang uji kekuatan dan strategi.

Permainan pacu upiah menggunakan pelepah pohon pinang (upiah pinang) sebagai alat dalam perlombaan tersebut. Perlombaannya adalah berupa balapan antar tim, satu orang bertindak sebagai penarik upiah (pelepah pinang) satu orang lagi orang yang ditarik dan posisinya duduk di atas upiah yang telah disediakan.

Perlombaan pacu upiah ini sesungguhnya tidak saja soal siapa yang kuat dalam menarik akan menang dalam pertandingan, lebih dari itu sesungguhnya ada beberapa nilai edukasi yang bisa kita ambil dari permainan ini. Nilai-nilai edukasi itu nantinya juga bisa dijadikan sebagai ajaran-ajaran baik untuk pengembangan karakter anak ke depannya.

Adapun beberapa nilai edukasi dari permainan tradisional pacu upiah ini adalah: Pertama, nilai kerja sama, nilai ini tercermin dari dua orang yang akan berlomba dalam satu tim. Jika salah satu di antara dua orang dalam tim itu tidak dapat bekerja sama dalam menyeimbangkan badan ketika ditarik oleh yang lainnya maka tim nya akan kalah, karena menang kalah sebuah tim juga ditentukan oleh kelengkapan tim ketika sampai di garis finis.

Jika hanya penarik upiah dan upiahnya saja yang sampai ke garis finis maka tim itu tidak bisa dinyatakan sebagai pemenang. Pemenang dalam perlombaan pacu upiah jika tim yang terdiri dari dua orang tersebut sampai ke garis finis secara bersamaan dan lengkap.

Kedua, nilai-nilai penerapan taktik dan strategi. Sebuah tim akan menang jika mereka memiliki taktik dan strategi yang benar dalam menentukan tim yang akan berlomba dalam pacu upiah tersebut. Biasanya tim yang punya taktik serta strategi yang baik akan memilih wakilnya yang kuat tenaga dan memiliki kekuatan lari yang bagus sebagai penarik upiah dan peserta lainnya adalah yang berbadan kecil dan ringan sebagai penumpang atau orang yang akan ditarik di atas upiah tersebut.

Jika tim mampu menerapkan taktik dan strategi yang demikian maka mereka akan membuka peluang menjadi juara dalam perlombaan pacu upiah tersebut. Kekalahan akan terjadi jika tim lain juga menggunakan taktik yang sama dan memiliki badan penumpang atau yang ditarik di atas upiah lebih kecil dari tim mereka.

Ketiga nilai-nilai sportivitas. Nilai ini juga akan terbangun dengan sendirinya dalam perlombaan pacu upiah. Para peserta yang selama lomba tidak dapat membawa upiah dan yang duduk di atasnya dengan selamat hingga garis finis akan secara otomatis keluar dari arena lomba dan menerima hasil yang akan diberikan untuk tim yang benar-benar menyelesaikan perlombaan dengan baik. Adanya perlombaan pacu upiah ini, mengajarkan anak-anak untuk main secara sportif dan dapat menerima kekalahan.

Keempat nilai kasih sayang. Nilai-nilai ini akan terbentuk dengan sendirinya, karena menurut Dr. Satya Gayatri, seorang peneliti permainan tradisional Minangkabau dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, ketika penulis wawancarai sebelum menuliskan artikel ini mengatakan bahwa permainan pacu upiah ini awalnya adalah kegiatan yang dilakukan oleh kakak bersama adiknya yang diminta orang tua untuk mengajak adik-adiknya bermain ketika orang tua mereka sedang sibuk bekerja di sawah atau di ladang.

Sembari menunggu orang tua bekerja maka sering kali sang kakak mengajak adiknya untuk bermain pacu upiah ini dengan anak-anak sebaya mereka. Dengan adanya permainan pacu upiah ini maka nilai-nilai kasih sayang antara kakak dan adik lebih cepat dipraktikkan oleh anak-anak.

Lebih lanjut beliau mengatakan, sungguh sayang saat ini permainan ini sekarang telah mulai ditinggalkan anak-anak. Anak-anak disibukkan dengan permainan-permainan yang disediakan oleh gadget yang menyebabkan anak-anak sibuk dengan diri mereka sendiri bahkan abai dengan suruhan dan perintah orang tua.

Sudah saatnya kita bersama-sama mengenalkan kembali permainan-permainan tradisional ini kepada anak-anak agar mereka bisa mengetahui dan mengamalkan nilai-nilai edukatif yang ada dalam permainan tersebut. Bahkan beberapa tahu terakhir Beliau juga sering mengadakan penelitian berkaitan dengan permainan tradisional ini dan mengadakan simulasi berupa pertandingan-pertandingan di beberapa daerah. Semoga saja apa yang dilakukan oleh Dr. Satya Gayatri ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah yang bisa membuat kebijakan untuk kembali ke permainan tradisional yang kaya akan nilai.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *