• Oktober 26, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Prapto sedang memperdalam sebuah sumur milik warga di daerah Sidoarum, Godean, Sleman. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Prapto sedang memperdalam sebuah sumur milik warga di daerah Sidoarum, Godean, Sleman. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Para penggali sumur di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) banjir orderan pada musim kemarau tahun ini. Banyak sumur-sumur warga yang tahun ini mengering akibat musim penghujan yang tak kunjung tiba.

Hal itu disampaikan oleh salah seorang penggali sumur asal Moyudan, Sleman, Ari.

“Sekarang rata-rata ada orderan 15 sampai 16 kali sebulan,” kata Ari saat sedang menggali sumur milik warga di daerah Sidoarum, Godean, Sleman, Kamis (26/10).

Jumlah itu naik sekitar 30 persen dari musim kemarau tahun lalu. Karena itu, musim kemarau tahun ini seperti jadi panen raya atau pesta besar bagi para penggali sumur di DIY.

“Pesta, madhang gedhen (makan besar),” ujarnya.

Prapto sedang memperdalam sebuah sumur milik warga di daerah Sidoarum, Godean, Sleman. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja
Prapto sedang memperdalam sebuah sumur milik warga di daerah Sidoarum, Godean, Sleman. Foto: Arif UT/Pandangan Jogja

Tukang gali sumur lain di Yogya, Iwan, dapat pesanan lebih banyak. Sebab, ia punya tiga tim penggali sumur yang rata-rata satu tim juga mendapat pesanan sampai 15 kali dalam sebulan.

“Kalau digabung semua tim ya bisa 45-an kali dalam sebulan,” kata dia.

Hal sama disampaikan oleh Prapto, tukang gali sumur bor lainnya. Ia juga kebanjiran pesanan untuk memperdalam sumur-sumur terutama di wilayah Sleman dan Bantul. Rata-rata, ia memperdalam sumur dengan kedalaman empat sampai delapan meter per sumurnya.

“Biayanya Rp 1,5 juta per meter, itu udah murah,” kata Prapto.

Berkat tingginya pesanan mengebor sumur pada kemarau tahun ini, Prapto sudah bisa beli mesin bor baru untuk menggantikan mesinnya yang sudah tua. Harga mesin bor baru itu mencapai Rp 30 juta.

Meski mendapat keuntungan besar, namun ia berharap musim penghujan segera tiba. Sebab, ia melihat banyak petani di kampungnya yang kesulitan menanam karena musim kemarau berkepanjangan ini.

“Selain gali sumur saya juga petani. Kasihan petani kalau kemarau terus,” ujarnya.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *