• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

R dan S tersangka dalam kasus tewasnya nelayan di Bantul akibat miras oplosan, Rabu (18/10). Foto: Dok. Istimewa
R dan S tersangka dalam kasus tewasnya nelayan di Bantul akibat miras oplosan, Rabu (18/10). Foto: Dok. Istimewa

Polisi telah menangkap S (53) peracik dan penjual miras oplosan yang tewaskan seorang nelayan berinisial TM (37) di Pantai Samas, Bantul. S yang belajar meracik miras dari Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah, itu ternyata adalah pecatan polisi.

"(Dulu pecatan) Polisi, Brimob," kata S kepada wartawan di Polres Bantul, Rabu (18/10).

S mengaku sudah cukup lama belajar meracik miras oplosan. Miras buatannya kemudian dikemas ke kemasan miras impor.

"Kalau praktiknya belum lama, tidak setiap hari. Hanya kalau ada pesanan saja," jelas warga Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, ini.

Bahan baku alkohol dia dapatkan dari wilayah Kota Yogyakarta. Dari meracik miras oplosan ini, dia mampu menjual per botol Rp 60 ribu.

"(Untungnya) tidak sampai Rp 5 juta, paling Rp 1,5 juta dua minggu sekali, kadang sebulan juga enggak ada pesanan," katanya.

KBO Satreskrim Polres Bantul Iptu Imam Sutrisna mengatakan S dipecat dari kepolisian hampir 30 tahun lalu.

"Desersi, terus dipecat tahun 1995. Jadi pecatan itu," katanya kepada wartawan.

Alkohol Sisa Semprot APD saat Pandemi

Selain S, teman dari korban yakni R (40) juga ditangkap polisi. R ini meminta S meracik miras. R membawa 15 liter alkohol murni ke rumah S pada Oktober lalu. Racikan miras S kemudian dimasukkan ke botol minuman impor.

R merupakan relawan penanggulangan COVID-19. Karena ada sisa alkohol di drum yang kerap digunakan untuk penyemprotan APD dia punya ide untuk diberikan ke S.

"Sisa lalu disimpan, kemudian muncul ide dari R untuk membawanya ke tempat S agar diracik menjadi miras," kata Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Bayu Sila Pambudi

Miras diracik menjadi 17 botol, pada 7 Oktober R mengambil 3 botol dan minum bersama rekannya yang berujung pada tewasnya TM.

S dan R kini terancam Pasal 204 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *