• Oktober 28, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi menyambut Hari Sumpah Pemuda. Foto: Gratsias Adhi Hermawan
Ilustrasi menyambut Hari Sumpah Pemuda. Foto: Gratsias Adhi Hermawan

Ernest Renan pernah mengatakan “Qu’est le qui rai tune nation? L’est le desir d’etre ensemble”. Apa yang melahirkan sebuah bangsa? Ialah kemauan yang kuat untuk kebersamaan. Semangat kebersamaan itulah, dalam konteks bangsa ini menjadikan para pemuda mampu mewujudkan ikrar Sumpah Pemuda.

Sejarah masa lalu bangsa ini merupakan kontinuitas perjuangan yang tiada henti-hentinya. Bagaikan gelombang pasang di tengah lautan yang selalu datang mengempas daratan, saling bergantian. Gelombang yang satu lebih besar dari gelombang yang lain, gelombang yang satu merupakan kelanjutan gelombang yang sebelumnya.

Itulah proses perjuangan yang mereka lakukan sehingga lahirlah momentum-momentum besar seperti, Sumpah Pemuda 1928, kemudian proklamasi kemerdekaan 1945 yang di mana ada peranan dari kaum muda.

Ada dua pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman pendahulu kita di masa lampau. Pertama, mutlaknya persatuan dan kesatuan untuk memenangkan kemerdekaan. Kedua, kepeloporan pemuda dalam setiap lika-liku perjuangan. Ini artinya adalah sejarah kita selalu di isi oleh peristiwa-peristiwa besar yang dilahirkan oleh kaum muda.

Namun, saat ini pemuda telah kehilangan arahnya, jauh melesat dari apa yang diharapkan para pendiri bangsa dengan tujuan dan cita-citanya yang mulia. Pemuda yang disematkan pada bahunya tampuk kepemimpinan kini kurang berdaya, tak sehebat dahulu.

Dan ini menjadi sebuah bahan evaluasi untuk generasi muda hari ini. Sebuah harapan yang tumbuh dari pemuda untuk mewujudkan pemerintahan yang sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya harus terus dilakukan, dan berbagai perbaikan harus terus di upayakan di berbagai instansi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Oleh karena itu, diperlukan adanya peneguhan kembali komitmen dan pembaharuan tekad bersama dalam semangat persatuan seperti yang disampaikan Bung Karno:

Semen bundeling van alle krachten van de natie.

Presiden Pertama Indonesia Sukarno. Foto: AFP
Presiden Pertama Indonesia Sukarno. Foto: AFP

Pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa, pengikatan itu motor potensialnya adalah pemuda. Semangat pemuda untuk Indonesia Bersatu untuk perubahan yang lebih maju perlu di galang pada semua lapisan.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di Indonesia peran agama sangat penting, karena agama adalah satu kekuatan dahsyat untuk mengubah masyarakat. Sementara pemuda adalah kekuatan besar lain di tengah-tengah kehidupan sosial.

Masalahnya adalah kedua-duanya, agama adalah bahan mentah belaka jika tidak dijabarkan ke dalam konsep-konsep yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama secara sederhana mengandung dua aspek. Tuntunan dan tuntutan, sehingga ia perlu dirincikan tuntunan seperti apa yang bisa dipakai dan tuntutan apa yang mesti dipenuhi secara jelas.

Sedangkan pemuda, pada dasarnya belum dapat bergerak sebelum mereka tahu betul apa tugas dan kewajiban dalam masyarakat, sehingga motivasi pemuda harus dibangkitkan, dalam hal ini ruh agama.

Oleh sebab itu, kajian keagamaan sudah selayaknya diarahkan kepada penggalian nilai-nilai agama dan mengoperasionalkannya secara gamblang, kemudian dengan itu para pemuda menjadi tahu apa yang harus dilakukan dengan agamanya untuk kesejahteraan hidupnya dan kehidupan manusia lainnya serta bangsa dan negaranya.

Perlu ditegaskan bahwa, kajian agama bukan hanya sebatas spiritual saja atau hal-hal yang sifatnya normatif. Jangan sampai agama hanya digunakan sebagai alat untuk mengesahkan dan menolak suatu gagasan atau praktik.

Akibatnya agama terkesan kaku, sangat sakral dan mengekang. Padahal agama juga menyediakan jalan keluar atau alternatif jika ia memberikan batasan-batasan, maka sudah seharusnya sisi “mudahnya”-lah yang dikembangkan untuk generasi muda.

Kenapa demikian? Karena pemuda umumnya cenderung mencari alternatif jika menghadapi masalah atau pembatasan. Sesuai dengan pesan Nabi Muhammad SAW kepada Mu’az bin Jabal ketika sahabat itu ditugaskan Rasulullah menjadi Qadhi di negeri Yaman.

Saat itu Nabi bersabda:

Yassirruu walaatu’assirruu bassirruu walatubaffirruu, wakuunuu ’ibadallahi ikhawana.”

Artinya: “Beri kemudahanlah mereka, jangan dipersulit, beri kabar gembira lah mereka jangan ditakuti, jadilah kamu semua hamba-hamba Allah SWT yang bersaudara.”

Dalam Al-Qur’an menggambarkan agama sebagai penggerak perubahan sosial tampak dari kisah Ashabul Kahfi. Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT, teguh pendiriannya dan aktif dalam menentang kezaliman dan kesombongan Raja Decius.

Dalam usahanya menentang kezaliman raja demi membela keadilan rakyat itu hingga mereka harus bersembunyi di gua demi mempertahankan prinsip dan kebenaran.

Tugas pemuda sekarang pada prinsipnya adalah sama dengan pemuda Ashabul Kahfi. Kalau pemuda Ashabul Kahfi menentang raja yang zalim dan sombong, maka generasi muda sekarang juga mempunyai kewajiban memberantas penyakit-penyakit yang merugikan rakyat yaitu, kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan dan ketidakadilan.

Ilustrasi upacara bendera Merah Putih. Foto: Unspalsh
Ilustrasi upacara bendera Merah Putih. Foto: Unspalsh

Oleh sebab itu, tugas pemuda tidak lah mudah ia merupakan tulang punggung masa depan bangsa, butuh perjuangan yang kontinuitas untuk menciptakan perubahan demi terwujudnya kesejahteraan ummat.

Semoga kita termasuk dalam golongan pemuda yang besar kepekaan individualnya sekaligus tinggi pula kesalehan dirinya. Dan termasuk pemuda yang tidak memikirkan keselamatan dirinya, tetapi ikut pula memikirkan kesejahteraan saudara sesamanya, bangsanya dan ummat manusia seluruhnya.

Mari kita bahu membahu membangun pemuda yang berkualitas secara mental dan intelektual, menjadi pemersatu bangsa yang mampu menerjemahkan dan memformulasikan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *