• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Sumber : shutterstock.com
Sumber : shutterstock.com

Kolombia merupakan negara yang terletak di Amerika Latin, Tepatnya di paling ujung utara Amerika Selatan. Kolombia mencari hubungan luar negeri dengan semua negara, Ekonomi kolombia termasuk ekonomi yang terbuka, dan mengandalkan perdagangan internasional serta mengikuti aturan-aturan yang ada di hukum internasional.

Kolombia memiliki hubungan diplomatik dengan negara-negara yang berada di timur tengah, di antara lain adalah Mesir, Israel, Uni Emirat Arab, Lebanon, Palestina, Iran, Qatar, Suriah, serta negara timur tengah lainnya.

Kolombia merupakan salah satu teman atau relasi kuat Israel di Amerika Latin selama 20 tahun terakhir dan kini memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan Otoritas Palestina.

Negara Amerika Selatan ini menggunakan pesawat tempur dan senapan mesin buatan Israel untuk memerangi kartel narkoba dan kelompok pemberontak, dan pada tahun 2020 negara-negara tersebut juga menyetujui pakta perdagangan bebas.

Sumber : shutterstock.com
Sumber : shutterstock.com

Namun pada akhir-akhir ini hubungan antara Kolombia dan Israel tidak baik-baik saja, dimulai karena Presiden Gustavo Petro mengkritik negara Israel serta mengancam untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Relasi antara kedua negara tersebut mulai meredup sejak Gustavo Petro menjabat menjadi presiden tahun lalu di Kolombia.

Gustavo Petro dan Duta Besar Israel yaitu Gali Dagan mengalami perang kata-kata yang dimulai ketika Petro menolak untuk memaki serangan Hamas terhadap Israel, yang menyebabkan kematian ratusan warga sipil di rumah mereka.

Ketika Dagan menyorong Gustavo Petro untuk membicarakan tentang serangan “teroris”, Petro merespons bahwa “Serangan teroris telah membunuh banyak warga sipil yang tidak berdosa di Palestina”, serta Petro melanjutkan responsnya dengan membandingkan serta menuduh Israel mengubah Gaza menjadi “kamp konsentrasi” yang merupakan istilah yang merujuk pada sebuah kamp yang diciptakan oleh Nazi Jerman untuk mengurung lawannya.

Tentu hal tersebut memicu banyak kritik dari komunitas Yahudi yang ada di Kolombia serta memicu tanggapan dari U.S. State Department, dimana pada tanggal 12 Oktober mengatakan bahwa mereka terkejut dengan Petro yang membandingkan pemerintah Israel dengan rezim Nazi Jerman yang dipimpin oleh Hitler.

Pada minggu lalu Gustavo Petro melanjutkan kritiknya di X, mengatakan bahwa Hamas diciptakan oleh badan intelijen Israel demi memecahbelahkan rakyat Palestina dan memiliki sebuah alasan untuk membantai mereka, tetapi sayangnya Petro tidak memberikan bukti atas kritik yang disampaikan.

Respons Dagan terhadap kritik Petro yaitu adalah Dagan menjawab dengan sarkastik di mana ia mengeklaim bahwa badan intelijen Kolombia juga menciptakan kelompok paramiliter di Kolombia serta mengatakan bahwa “Yahudi berhidung besar” masih berkuasa atas kelompok yang dirujuk.

Sumber : shutterstock.com
Sumber : shutterstock.com

Pada tanggal 16 Oktober, Alvaro Levya yang merupakan Menteri Luar Negeri Kolombia menulis di X bahwa Dagan harus meminta maaf serta meninggalkan negara Kolombia, tetapi sampai saat ini duta besar Israel Dagan masih belum diusir serta ada klaim bahwa hubungan diplomatik antara kedua negara akan dipertahankan jika Israel menginginkan hal tersebut.

Gustavo Petro melanjutkan lagi kritiknya yang mengatakan bahwa kampanye militer yang dibuat di Gaza oleh Israel merupakan tindakan genosida serta mengancam akan memutuskan hubungan apa pun dengan negara tersebut.

Kritik yang disampaikan oleh Gustavo Petro memicu untuk Negara Israel memblokade atau menangguhkan ekspor keamanan (militer) terhadap negara Kolombia. Hal tersebut tentu meredupkan hubungan bilateral antara kedua negara tersebut, dan berpotensi untuk memutuskan hubungan yang terjadi di antara Kolombia dan Israel.

Dengan ditangguhkannya ekspor militer Israel ke Kolombia berpotensi untuk merugikan negara Kolombia itu sendiri serta berpotensi untuk berkurangnya jumlah militer di Kolombia dari yang biasanya dikarenakan Kolombia telah menggunakan peralatan militer buatan Israel untuk melawan kelompok pemberontak serta kartel narkoba.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *