• Oktober 19, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Penulis perempuan asal Palestina, Adania Shibli. Foto: Instagram/laureanoasoli
Penulis perempuan asal Palestina, Adania Shibli. Foto: Instagram/laureanoasoli

Acara penghargaan yang diberikan untuk penulis perempuan asal Palestina bernama Adania Shibli dibatalkan oleh pihak asosiasi literatur Jerman, LitProm. Acara tersebut awalnya dijadwalkan digelar di Frankfurt Book Fair, Jerman, pada 20 Oktober mendatang.

Dikutip dari The Guardian, Adania Shibli mendapatkan penghargaan LiBeraturpreis 2023 berkat novelnya yang berjudul Minor Detail. LiBeraturpreis merupakan penghargaan tahunan yang diberikan kepada para penulis perempuan yang berasal dari Afrika, Asia, Amerika Latin, atau negara-negara Arab. Penghargaan ini biasanya diserahkan di Frankfurt Book Fair, pameran buku terbesar di dunia.

Menurut asosiasi LitProm, mereka memutuskan untuk membatalkan acara tersebut akibat konflik Hamas-Israel yang saat ini terjadi. Diketahui, Hamas melakukan serangan terhadap Israel pada 7 Oktober lalu dan konflik persenjataan masih terus berlanjut hingga saat ini. Akibat serangan tersebut, Israel menyatakan perang terhadap Hamas dan terus melakukan serangan di Jalur Gaza.

Pengunjung berfoto di Pameran Buku Frankfurt di tempat pekan raya Messe di Frankfurt am Main, Jerman, pada 20 Oktober 2022. Foto: DANIEL ROLAND / AFP
Pengunjung berfoto di Pameran Buku Frankfurt di tempat pekan raya Messe di Frankfurt am Main, Jerman, pada 20 Oktober 2022. Foto: DANIEL ROLAND / AFP

Asosiasi LitProm mengungkap, pembatalan ini disebabkan oleh perang yang dimulai oleh Hamas, yang menyebabkan penderitaan jutaan orang di Israel dan Palestina.

Dilansir The Guardian, LitProm mengatakan, keputusan untuk menunda pemberian penghargaan ini dilakukan atas persetujuan bersama Adania Shibli. Namun, agensi Adania menegaskan bahwa keputusan ini diambil tanpa persetujuan Adania. Lebih lanjut, mereka mengungkap, jika acara penyerahan penghargaan tetap berlanjut, Adania akan menggunakan kesempatan tersebut buat menekankan peran penting sastra dalam waktu-waktu penuh kesulitan seperti saat ini.

Pembatalan acara tersebut pun diprotes dengan keras oleh lebih dari 350 penulis di seluruh dunia. Penulis novel asal Irlandia, Colm Toibin; pemenang anugerah Pulitzer keturunan Amerika–Libya Hisham Matar; hingga penulis keturunan Inggris–Pakistan Kamila Shamsie turut mengecam tindakan oleh LitProm dan Frankfurt Book Fair tersebut.

Penulis perempuan asal Palestina, Adania Shibli. Foto: Instagram/rolentola
Penulis perempuan asal Palestina, Adania Shibli. Foto: Instagram/rolentola

“Mereka (panitia Frankfurt Book Fair) memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang bagi penulis Palestina untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan refleksi mereka dalam bentuk sastra dalam waktu yang berat ini, alih-alih mengesampingkan mereka,” ungkap para penulis yang memprotes.

Profil singkat Adania Shibli

Dikutip dari situs resmi Berlin International Literature Festival, Adania Shibli adalah penulis perempuan kelahiran Palestina pada 1974. Ia menghabiskan waktunya di dua negara, yaitu Jerman dan Palestina. Adania sudah lama berkecimpung di dunia kesusastraan dan aktif menulis novel, drama, cerita pendek, dan esai naratif.

Shibli menuntaskan studi jenjang doktoral di University of East London, jurusan Studi Media dan Budaya. Kemudian, ia juga melanjutkan pendidikannya di Institute for Advanced Study in Berlin. Ia pernah mengajar di sejumlah universitas, seperti University of Nottingham dan University of Birzeit.

Ia sudah dua kali memenangi penghargaan Qattan Young Writer’s Award-Palestine, yaitu untuk karyanya bertajuk Masaas (2001) dan We Are All Equally Far from Love (2003).

Novel Adania yang sukses menyabet penghargaan LitBeraturpreis 2023 adalah karyanya yang berjudul Minor Detail, dipublikasikan pada 2017 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 2020.

Minor Detail mengambil latar waktu tahun 1949, satu tahun setelah insiden Nakba. Nakba merupakan insiden yang mendeskripsikan pengusiran lebih dari 700 ribu warga Palestina dari Tanah Airnya usai pembentukan negara Israel. Novel tersebut mengambil sudut pandang seorang jurnalis perempuan yang menginvestigasi kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap remaja perempuan Bedouin.

Secara umum, Minor Detail dideskripsikan sebagai refleksi atas pengalaman warga Palestina dalam menghadapi perang, kekerasan, pengusiran, dan hidup di bawah pendudukan Israel.


]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *