• Oktober 31, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Gelandang FC Barcelona asal Spanyol Aitana Bonmati memberi isyarat di atas panggung saat ia menerima penghargaan Woman Ballon d’Or pada upacara penghargaan Ballon d’Or France Football 2023 di Theatre du Chatelet di Paris pada 30 Oktober 2023. Foto: FRANCK FIFE / AFP
Terjawab sudah siapa pemenang Ballon d’Or pria dan wanita tahun 2023. Oke, kita memang sudah dengar selentingannya sejak lama dari Fabrizio Romano dan konco-konco, bahwa duo akademi Barcelona yang akan jadi peraihnya.
Namun, baru dalam upacara penghargaan Ballon d’Or semalamlah semuanya jadi terang dan resmi: Lionel Messi mendapat Ballon d’Or kedelapannya (!) dan Aitana Bonmati jadi pesepak bola wanita keempat yang memenangi Ballon d’Or Féminin.

Tentu, Ballon d’Or kedelapan buat Leo adalah hal yang luar biasa. Delapan. Tapi mungkin justru karena delapan itu penghargaan yang sama jadi biasa saja, sebab menang tujuh kali saja sudah terlalu banyak. Messi sendiri yang bilang begitu Juni 2023 lalu. “Ballon d’Or sudah tak penting lagi bagiku,” katanya seperti diwartakan dari Goal (13/6).

Tapi saya yakin pengalamannya akan beda buat Aitana Bonmati Conca. Ini adalah Ballon d’Or pertamanya, her first big break as an individual. Dan Aitana benar-benar berhak untuk segala pujian yang ia dapatkan.

Apabila selama ini ia ada di bayang-bayang Alexia Putellas (yang dua kali mendapat penghargaan Ballon d’Or), maka musim 2022/23 membawanya mentas paripurna. Saat Putellas absen panjang karena cedera ACL, Aitana sebagai deputi maju menunjukkan penampilan yang tak bikin malu.

Musimnya di Barcelona hampir sempurna. Aitana cs juara Liga F dengan 85 poin dari 89 yang mungkin didapat. Mereka cuma seri sekali melawan Sevilla di pekan 26 dan kalah sekali dari Real Madrid di pekan terakhir—dua-duanya adalah laga mati sebab Barcelona sudah lebih dulu dinobatkan juara.

Barcelona juga juara Supercopa de Espana Femenina, mengalahkan Real Madrid di semifinal dengan skor 3-1 dan menghempaskan Sociedad 0-3 di final. Aitana cetak dua gol di laga final itu.

Barcelona yang tanpa Putellas itu juga berhasil juara Liga Champions Wanita untuk kedua kalinya, lewat comeback magis usai ketinggalan 0-2 di babak pertama oleh Wolfsburg.

Selebrasi pemain FC Barcelona Femeni usai juara Women’s Champions League di Philips Stadion, Eindhoven, Belanda, pada 3 Juni 2023. Foto: Yves Herman/REUTERS
Andaikata tak ada kesalahan administrasi pun, besar peluang Barcelona juga juara Copa del Reina 2022/23. Di babak 16 besar, Barcelona berjumpa dengan Osasuna. Mereka menang 9-0 tapi tersingkir. Sebabnya? Mereka memainkan Geyse, yang di pertandingan sebelumnya kena kartu merah.

RFEF lupa tak menyertakan Geyse di daftar nama pemain yang kena larangan bertanding, tapi menyalahkan Barcelona yang dinilai tak rajin mengecek status pemainnya. Misalnya saja keteledoran ini tak terjadi, Barca bisa saja quadruple.

Barcelona sedemikian dominan. Total, mereka mencetak 173 gol dan cuma kebobolan 21 kali. Persentase kemenangannya 91%. Dia bikin 14 gol dan 17 assist dari 34 laga sepanjang musim.

Sementara di Spanyol, Aitana berhasil membawa Spanyol juara Piala Dunia Wanita untuk kali pertama. Sempat kalah dari Jepang di ujung fase grup, mereka tak terbendung di fase gugur. Lagi-lagi, Aitana jadi kunci. Tiga gol dan dua assist-nya mengantarkan Spanyol sampai ke final.

Belum lagi ontran-ontran pasca-final. Pelecehan seksual Luis Rubiales, plus drama dengan RFEF, teramat berat buat pemain Spanyol seperti Aitana. Karenanya, penghargaan Ballon d’Or menjadi kulminasi, menjadi penghargaan bagi musim penuh naik-turun dan perjuangan keras seperti Aitana. Seharusnya.

Gelandang FC Barcelona asal Spanyol Aitana Bonmati memberi isyarat di atas panggung saat ia menerima penghargaan Woman Ballon d’Or pada upacara penghargaan Ballon d’Or France Football 2023 di Theatre du Chatelet di Paris pada 30 Oktober 2023. Foto: FRANCK FIFE / AFP
Seharusnya demikian. Tapi yang diterima Aitana, juga pesepak bola wanita lain di gala Ballon d’Or semalam justru membuktikan bahwa Ballon d’Or dan penyelenggaranya, majalah France Football, tak benar-benar menghargai sepak bola wanita seperti halnya mereka menghargai sepak bola pria.

Bagi fan sepak bola wanita yang menonton gala Ballon d’Or semalam, mencak-mencak respons yang wajar. Ada beberapa momen tak menyenangkan, seperti halnya ditekankan oleh jurnalis sepak bola wanita asal Australia, Samantha Lewis, di media sosial X-nya.

Gala semalam digelar saat laga internasional sepak bola wanita, membuat banyak pemain tak bisa hadir.

Dari puluhan nominasi, cuma tujuh pesepak bola wanita yang bisa datang. Aitana, Salma Paralluelo, dan Patri Guijarro bisa datang setelah timnas Spanyol menyesuaikan jadwal latihan mereka. Ini diakui Montse Tome, yang bilang langkah tersebut mau tidak mau dilakukan agar pemainnya, yang berpotensi besar menang, bisa datang.

Berbeda dengan pemain-pemain Inggris. Georgia Stanway dan Sarina Wiegman terang-terangan menyebut jadwal sebenarnya bisa diatur lebih bagus lagi untuk mengakomodasi pemain pria maupun wanita.

Pemain sepak bola wanita didiemin Rema, penyanyi tak begitu terkenal yang jadi penghibur acara tersebut.

Nuff, said, lihat saja cuplikan video tersebut.

Tak ada penghargaan setara Yashin Trophy (kiper terbaik) & Kopa Tropy (pemain muda terbaik).

Apabila ada, Mary Earps dan (mungkin) Linda Caicedo bisa jadi pemenangnya.

Penghargaan Ballon d’Or diserahkan oleh petenis. Pria, pula.

Haduh. Apakah tidak ada pesepak bola wanita legendaris yang bisa diminta untuk menyerahkan penghargaan ini?

No offense, Novak adalah petenis hebat. Tapi ya dia… petenis! Apalagi ketika kita tahu track record-nya dalam mengomentari desakan untuk gaji yang sama antara atlet pria dan wanita.

“Kupikir tenis laki-laki, dunia ATP, harus berusaha untuk mendapat lebih banyak (uang), karena statistiknya menunjukkan kami memiliki lebih banyak penonton, jadi itu alasan mengapa kami perlu diberi hadiah lebih banyak. Perempuan harus berusaha untuk jumlah yang mereka rasa mereka berhak dapatkan, dan kami berusaha mendapat jumlah yang kami rasa berhak kami dapatkan,” ujar Novak dikutip dari artikel The Guardian yang tayang Maret 2016.

Well, well, well. Djokovic memang telah meminta maaf setelah itu, tetapi, tetap saja kan. Memangnya tidak ada orang lain?

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *