• Oktober 27, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Sejumlah pelajar menanam mangrove di Pantai Melai One, Desa Matahora, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (12/12/2022). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
Sejumlah pelajar menanam mangrove di Pantai Melai One, Desa Matahora, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (12/12/2022). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Anak muda Indonesia diharapkan untuk peka dan kritis terhadap berbagai persoalan bangsa, mulai dari perubahan iklim, perempuan, pendidikan, hingga kebencanaan.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Sabtu (28/10) besok, diharapkan dapat memantik semangat generasi muda Indonesia untuk berperan aktif dalam mengatasi berbagai persoalan itu.

Sebagai upaya itu, platform aksi sosial Campaign bersama empat komunitas berdiskusi langsung dengan pimpinan Komisi 1 DPD RI Sylviana Murni.

Mereka mendiskusikan cara memperkuat hubungan antara pemerintah dengan organisasi sosial dalam isu perubahan iklim, perempuan, pendidikan anak dan kebencanaan.

“Upaya ini dilakukan demi menciptakan dampak baik yang lebih besar di tengah banyaknya permasalahan dari isu-isu tersebut,” kata Ahmad Fathul Aziz selaku Engagement Lead Campaign, Jumat (27/10/2023).

Ahmad menjelaskan, empat komunitas tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang dipertemukan secara virtual pada 26 Oktober 2023. Menurut dia, selama ini mereka tak tinggal diam melihat permasalahan sosial terjadi dan mengambil aksi nyata.

“Salah satu aksi mereka adalah dengan membuat kampanye dan mengajak masyarakat berdonasi tanpa uang di aplikasi Campaign #ForABetterWorld,” jelas Ahmad.

Ahmad menambahkan, kampanye dan donasi dilakukan mereka dengan mendapat dukungan dari Chandler Institute of Governance, sebuah LSM asal Singapura yang fokus pada penguatan hubungan antara pemerintah dan organisasi sosial.

“Aksi nyata ini merupakan bagian dari Government Relations Development Programme for Indonesian Social Leaders (GRDP – ISL),” ungkap Ahmad.

Ahmad yakin melalui program tersebut, maka anak muda tak hanya terbantu untuk melancarkan kampanye, tapi juga mendapatkan penguatan dan peningkatan kapasitas bagi para peserta melalui daring dan luring hingga dapat bertemu dengan perwakilan dari pemerintah.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus ada kerja sama yang kuat antara pemerintah dan komunitas atau organisasi sosial seperti yang kami lakukan bersama dalam kolaborasi kali ini,” harap dia.

“Campaign juga hadir untuk menawarkan solusi, yakni kampanye yang memaksimalkan teknologi lewat aplikasi Campaign #ForABetterWorld untuk menciptakan dunia yang lebih baik,” pungkasnya.

Berikut empat komunitas yang berdiskusi langsung dengan Sylviana Murni:

1. Garis Hitam Project

Organisasi asal Sulawesi Barat ini meluncurkan kampanye #CelebratingEquality dan berhasil mengajak masyarakat untuk membuka donasi sebesar Rp 29 juta.

Donasi ini diperuntukkan untuk membuat pelatihan menjahit dan menganyam pada 40 warga binaan lapas perempuan di kota Mamuju.

Meski berhasil mengumpulkan massa secara virtual di aplikasi Campaign #ForABetterWorld, mereka merasa terdapat beberapa permasalahan krusial yang harus diselesaikan, salah satunya adalah kesulitan untuk akses atau berkomunikasi dengan pihak pemerintah, serta kurang mendapat kepercayaan dari pemerintah dalam pengelolaan anggaran.

Menurut Sylviana Murni, tidak adanya batuan anggaran dapat disebabkan oleh keterbatasan dana pemerintah.

Namun Sylviana Murni tetap menyampaikan bahwa untuk mencapai tujuan diharapkan, perlu adanya kesinambungan dengan pemerintah melalui berkolaborasi bersama Pemprov, seperti Dinas Sosial atau dinas yang bersangkutan.

2. Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK)

Organisasi non-pemerintah asal Surakarta, Jawa Tengah, ini telah meluncurkan kampanye #DukungPAUDRamahAnak dan berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 33 juta. Donasi ini akan dipergunakan untuk memberikan penguatan kapasitas pendidik di Kabupaten Sukoharjo.

Menurut YSKK, saat ini kendala yang ia dan timnya hadapi selama menyelenggarakan penguatan kapasitas di daerah adalah birokrasi yang tidak sinkron antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, karena menyampaikan permasalahan yang dihadapi pada pemerintah daerah dinilai lebih sulit.

3. PetaBencana.id

PetaBencana.id adalah platform gratis untuk memetakan bencana secara real-time dengan mengumpulkan informasi dari media sosial lalu dikonfirmasi ke instansi pemerintahan.

Selama beberapa bulan terakhir, PetaBencana.id meluncurkan kampanye #BersamaKurangiRisiko dan berhasil mengajak pendukung di aplikasi Campaign #ForABetterWorld membuka donasi sebesar Rp 27 juta.

Namun, upaya mitigasi bencana tak berhenti sampai situ. Mereka menemui kesulitan yang sama dengan Garis Hitam Project yaitu minimnya akses untuk berkomunikasi dengan pemerintah.

4. CarbonEthics

Kumpulan anak muda ini mengajak masyarakat untuk lebih sadar tentang isu perubahan iklim.

Mereka mengedukasi pengurangan jejak carbon salah satunya dengan meluncurkan kampanye #BeCarbonConscious yang berhasil membuka donasi sebesar Rp23 juta dari kumpulan aksi pendukung.

Saat ini permasalahan yang dihadapi oleh CarbonEthics juga tak berbeda jauh dengan organisasi lainnya yakni kendala pada komunikasi dengan pemerintah.

CarbonEthics berharap diskusi bersama Sylviana dapat menjadi bekal untuk solusi konkret yang lebih besar.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *