• Oktober 28, 2023
  • ardwk
  • 0

WK MEDIA –

Ilustrasi persiapan menghadapi bonus demografi. Foto: Pixabay
Ilustrasi persiapan menghadapi bonus demografi. Foto: Pixabay

Akhir-akhir ini, kian mencuat isu tentang melimpahnya stok pemuda di Indonesia. Bonus demografi yang diperkirakan akan kita dihadapi pada lima sampai sepuluh tahun mendatang memang tengah dipersiapkan matang-matang nampaknya.

Bahkan hingga pencalonan wakil presiden yang akan datang juga ditempati oleh seorang pemuda yang bisa dikatakan menempuh "jalan ninja" untuk menjadi peserta kontestasi pesta demokrasi dalam pilpres mendatang.

Namun, yang menjadi perhatian bukan hanya program-program dengan persoalan yang dimunculkan dalam permukaan media, tetapi efisienkah dengan penempatan tokoh muda yang menjadi pasangan peserta pilpres mendatang, menjawab rentetan potensi krisis yang sangat kompleks dalam sebuah negara?

Khawatirnya di depan publik menggaungkan inovasi yang cemerlang, namun masih ada rasa tidak enak menghadapi politik senior-seniornya di lingkungan kabinet nanti.

Namun terlepas dari itu semua, tentunya siapapun nanti yang akan memimpin pemerintahan, harus bisa membuka keran investasi yang bisa menjawab tantangan baru—dengan besarnya jumlah SDM dan penyesuaian lapangan kerja yang sesuai dengan keterampilan bidang yang dikuasai, baik itu bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Dalam fokus ini, kita berbicara bonus demografi yang dimaksud adalah proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar jika dibandingkan dengan usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Kemudian, berkaitan dengan tugas negara, yaitu dengan mengintervensi, menciptakan lapangan pekerjaan melalui investasi. Jadi investasi baik menggunakan dana dalam negeri maupun luar negeri, termasuk mengundang modal asing masuk ke Indonesia, itu harus memang benar-benar dimaksudkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan untuk menciptakan generasi produktif dan bisa berdaya saing dalam pasar kerja.

Karena jika kita melihat dari satu sisi sudut pandang yang lain, melimpahnya penduduk bisa menciptakan kondisi yang buruk jika tidak dikelola dengan baik.

Melimpahnya penduduk usia kerja yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan, justru dapat meningkatkan tingkat pengangguran, tingkat kriminalitas, tingkat kemiskinan, dan tentunya sangat menghambat pertumbuhan ekonomi negara.

Oleh karena itu, berbagai kebijakan pemerintah kedepannya perlu dirumuskan dan memberikan formulasi yang tepat sasaran dan tepat guna untuk dapat memetik manfaat melalui jendela peluang yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030-2040 dalam mengoptimalkan manfaat bonus demografi di Indonesia.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu dengan meningkatkan budaya kualitas kesehatan penduduk, mengembangkan kualitas manusia melalui pendidikan, pelatihan dan peningkatan kapasitas, memperluas pasar tenaga kerja, meningkatkan hilirisasi bursa investasi sebesar-besarnya hingga tingkat bawah, lalu kemudian mengelola pertumbuhan populasi.

Sejumlah tantangan yang tidak kalah penting dan juga harus menjadi poin utama adalah, bangsa ini masih harus menciptakan generasi muda yang benar-benar berkualitas.

Disadari atau tidak kondisi negara yang sistem demokrasinya setengah-setengah ini diakibatkan karena belum maksimalnya penerapan sistem dari segala lini, baik itu dari pendidikan nasional, hukum, ekonomi dan bahkan dari segi layanan kesehatan pun juga belum maksimal kepada masyarakat, terutama kepada rakyat kecil.

Sementara itu, tugas lain dari para pemuda hari ini adalah menjadikan para tokoh-tokoh bangsa hari ini sebagai jembatan untuk melanjutkan kerja-kerja mereka dalam menjawab isu global lainnya yang juga harus dihadapi dan di jawab oleh bangsa Indonesia.

Seperti dikutip dari Infoundation, Direktur Perencanaan Kebijakan, Megan Roberts mengamati bahwa tahun penuh gejolak yang menguji solidaritas dan kerja sama global, dan fokus pada lima isu utama yang harus diperhatikan pada tahun 2023.

Adapun lima isu yang dikemukakan adalah menyelamatkan tujuan pembangunan berkelanjutan, melihat krisis iklim yang kian meningkat, mengelola long tail dampak dari kondisi pandemi, memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang mencapai rekor tertinggi karena dampak dari konflik dan bencana, dan membangun kerja sama Internasional yang lebih inklusif.

Sehingga dengan begitu, kondisi populasi pemuda yang padat pada lima sampai sepuluh tahun yang akan datang tersebut memang benar-benar sudah dipersiapkan secara matang-matang. Kemudian di saat waktunya telah tiba nanti, pemuda tidak hanya dikorbankan dan dijadikan tumbal oleh para pemegang kekuasaan seperti dalam tulisan sejarah peperangan.

]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *